Friday, July 3, 2009

Regiza are BFFs - 1

Seperti kata Claudio Maximiro, “Where I go, Fashion follows.”, hal itu pun terjadi padaku.

Hari ini Aku memutuskan untuk memakai Loose-wrap-dress warna merah merek Mango, jam tangan Folli Follie, brand asal Yunani, yang Aku beli di Pacific Place seminggu lalu, Espadrilles warna merah merek Ant yang Aku beli di The Secret, Bandung, dan tas Chloe warna putih dengan tali plaid warna merah (untuk yang satu ini, Aku belinya yang fake, KW1, di Ambasador, bareng sama Tasha. Hehehe.

Aku kembali melihat penampilanku di depan kaca yang berukuran 150 x 50 cm itu. Kemudian Aku mengecek Blackberry Bold-ku. Ada SMS dari Ramon, lima menit lagi dia nyampe.

Segera Aku semprotkan parfum Aigner Starlight-ku ke belakang telingaku dan ke kedua pergelangan tanganku. Yes, I’m so ready for tonight’s date!

Oops, I almost forget! Namaku Regina Novalina, anak tunggal dari pasangan Prof. Dr. Pramono Sudibyo, M.SC. dan Dr. Retno Wahyuningsih. Seperti kebanyakan anak tunggal, Aku beruntung sekali karena apa pun yang Aku minta, selama Papi dan Mami mampu, dan masih dalam batasan, pasti akan diberikan.

Aku tidak henti-hentinya bersyukur atas apa yang Allah SWT berikan kepadaku. Wajah yang cantik, tubuh yang bagus (kata temen-temenku, Aku cocok jadi model. Hihi.), orang tua yang menyayangiku (walaupun mereka jarang di rumah), otak yang cerdas (terbukti dengan tercatatnya Aku sebagai mahasiswi Akuntansi FEUI dengan IPK 3,2), teman-teman yang super baik, dan lain sebagainya.

Hari ini, Ramon Arthur, anak Teknik Mesin UI, mengajakku dinner di Puro Ristorante e Bar, restoran Italia dengan suasana khas latino Eropa yang terletak di City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta.

Ramon adalah anak dari salah satu kerabat Papi, yang juga merupakan teman kuliah Papi di Universitas Gajah Mada, Jogjakarta dulu, Om Kevin. Kami berdua ketemu pada saat Papi dan Mami merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-25. Cukup lama Papi dan Mami menantikan kehadiranku, sehingga ketika Aku lahir, apa pun yang Aku butuhkan dan ingingkan, selalu dipenuhi.

Benar saja, sekitar lima menit kemudian, Bik Imah mengetuk pintu kamarku dan bilang bahwa Ramon udah ada di depan rumah. Aku dapat melihat Ford Escape-nya parkir di depan pagar rumahku yang minimalis, dari jendela kamarku yang letaknya di lantai 2.

Aku segera turun dan pamit ke Bik Imah, Asisten Rumah Tangga yang telah mengabdi di rumah ini sejak Papi dan Mami baru menikah. Hari ini Papi dan Mami sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang dinas ke luar kota. Sedih banget sih karena jarang bisa ngumpul sama mereka, tapi ya udah lah, toh mereka kerja juga untuk Aku.

“Hi, Mon udah lama?” tanyaku begitu Aku melihat Ramon yang sedang duduk di kursi ruang tamu.

“Baru aja kok.” Ramon berdiri untuk kemudian cipika cipiki denganku.

Aku sama Ramon sih belum jadian, cuma kita emang sering jalan bareng aja. Gak tau kenapa, Aku ngerasa kalo Aku dan Ramon tuh cocok banget. Tanpa maksud nyombong, tapi dari segi financial, kita sama-sama beruntung. Kita berdua hobi banget makan di fancy restaurants dan belanja branded stuff.

Ramon itu beda dari kebanyakan anak Teknik Mesin lainnya, Ramon, menurut teman-temanku, termasuk cowok metroseksual. Dandy abis!

Hal itu terbukti dari dandannya hari ini. Ramon pake kemeja lengan panjang warna coklat bermotif garis-garis vertikal merek Zado, celana bahan warna coklat tua (entah merek apa, kayaknya sih taylored), sepatu pantofel merek Playboy, dan jam tangan Cerruti 1881. Untuk urusan parfum, Aku tau banget, Ramon pasti pake He Wood dari DSQUARED². Soalnya Ramon beli parfum ini bareng Aku. Hihi.

“You look stunning tonight. As always.” Godanya. Pandangan Ramon memang lurus ke depan, tapi tangan kirinya memegang erat tangan kananku.

“Thanx.” Jawabku canggung. Sebenernya Aku agak risih dengan perlakuan Ramon padaku. Dia begitu kebarat-baratan. Well, mungkin karena dia pernah lama tinggal di Boston. Who knows?!

* * * * *

Satu jam kemudian, Aku dan Ramon sampai juga di Puro Ristorante e Bar. Begitu memasuki restoran yang letaknya di samping Blowfish ini, nuansa putih berpadu dengan kekhasan desain modern dan elegan terasa hangat memenuhi ruangan.

Tampilan open kitchen menghadirkan suasana homy dan cozy, karena memungkinkan para tamu untuk dapat melihat para koki menambahkan sentuhan akhir pada hidangan yang akan disajikan.

Aku dan Ramon memutuskan untuk duduk di dekat jendela, sehingga Aku dapat dengan mudah melihat keindahan kota Jakarta di malam hari.

Malam ini, Aku memesan Carre di agnello alle erbe con salsa alla senape, yaitu daging lamb yang digoreng dengan sedikit minyak serta mashed potato, dan tak lupa tambahan saus mustard-nya.
Ramon memesan Risotto dan pasta ravioli di anatra con pomodori confit e salvia fresca yang menjadi hidangan favorit restoran ini.

Entah kenapa, malam ini Aku merasa bosan dengan Ramon. Aku bosan dengan pembicaraan high class kami, Aku juga bosan harus berjaim-jaim ria seperti ini, Aku bosan, Aku ingin pulang, sekarang juga!

“Ramon, abis ini kita mau ke mana?” tanyaku sesaat setelah Aku melap bibirku dengan serbet putih yang disediakan restoran ini.

“Terserah kamu.” Jawab Ramon tersenyum.
“Kepalaku pusing, boleh gak kalo kita langsung pulang aja?” tanyaku ragu.

Dapat kulihat garis kekecewaan di muka Ramon, namun akhirnya dia menuruti permintaanku juga.

Selama perjalanan pulang, CD Player Ramon memutar lagu-lagu instrumen, beda banget kalo Aku lagi di mobilnya Reza. Biasanya Reza nyetel lagu-lagu macam Arctic Monkeys, Oasis, Bloc Party, dan band-band Inggris lainnya.

Hahaha. Malem minggu gini Reza lagi ngapain ya? Palingan juga nonton bola sambil teriak-teriak di rumahnya. Dia kan jomblo! Atau … jangan-jangan Reza homo? Abisnya udah lama Aku gak liat dia nge-date sama cewek!

Sesampainya di rumah, setelah basa-basi sama Ramon, yang bisa bikin Aku masuk nominasi Best Actress di MTV Movie Awards, karena acting-ku yang oke banget, Aku memutuskan untuk nelfon Reza.

“Halo?” Reza menjawab telfonku dengan suara yang sangat pelan, malah terdengar seperti orang berbisik.

“Hai, Ja! Lagi di mana? Pasti lagi kencan sama bola ya? Hahahaha.” Aku memulai pembicaraan ini dengan meledek Reza.
“Gue lagi di Blitz Megaplex, Gin. Lagi nonton sama Irene. Nanti gue telfon ya. Bye!”

Klik!

Muhammad Yanuar Reza nonton sama Irene? Irene siapa nih? Jangan bilang Irene Kasih Pratiwi, juniorku di kampus dan di ekskul dance yang kecentilan itu dan juga ‘sainganku’ dalam hal fashion.

If it’s really her then … Eww!! Major eww!! Aku harus bilang ke Reza kalo Aku gak suka dia pergi sama Irene!!

Wait, tapi kalo Reza ngerasa happy jalan sama Irene gimana? Who am I to judge? I’m just Reza’s BFF. Regiza are BFFs, always have, always will.

No comments:

Post a Comment