Di perjalanan kami pulang, Walk-nya Pantera mengalun dari CD Player mobilnya Mas Tyo.
“Eh, band gue punya guitarist baru lho!”
“Lho? Emang Izal ke mana?” tanyaku sambil melihat ke arah Mas Tyo yang lagi nyetir.
“Izal mau konsen sama kuliah aja katanya, soalnya IPK dia jelek.” Mas Tyo pun mengubah persneling dari 3 ke 4, menambah laju kecepatan mobil.
“Abis ini temenin gue ke studio band dulu ya, anak-anak udah pada nunggu di sana.” Mas Tyo melihat ke arahku yang lagi sibuk ngaca buat ngerapihin poni.
“Bentar aja ya, Aku males lama-lama. Ngantuk.” jawabku sambil tetep ngaca.
“Iye ….” Mas Tyo pun ngacak-ngacak poniku.
“Mas Tyo!!” Aku berteriak sambil memukul tangan Mas Tyo yang jahil itu dan Mas Tyo pun tertawa puas.
Tiga puluh menit kemudian kami sampai di studio band, tempat latihan nge-band dan tempat hang out-nya anak-anak Where’s The Monkey. Well, gak usah ngebayangin berapa banyak duit yang harus mereka keluarin buat nge-band dan hang out di studio ini selama berjam-jam, soalnya studio ini punyanya Ivan, jadi khusus band mereka nggak dikenain biaya sama sekali.
Aku dan Mas Tyo memasuki ruangan studio yang cozy abis itu. Tempatnya luas, peralatan band-nya lengkap, peredamnya berupa karpet warna biru tua, AC-nya dingin, ruangannya bersih, wangi, pokoknya bagus banget deh. Aku bisa tidur dengan nyenyak di ruangan ini kalau mereka nggak gonjrang-gonjreng kayak orang-orang kesurupan!
Oh, Aku mau cerita satu hal tentang nama band mereka yang unik ini. Where’s The Monkey itu kan artinya Mana Si Monyet ya? Nama ini tuh ada sejarahnya lho! Jadi dulu tuh, Joe, si vocalist, punya kebiasaan telat dateng latihan, kebanyakan pacar kali ya jadinya agak susah ngatur waktunya, hehehe. Nah, kalau Joe udah telat gitu, Ivan biasanya suka ngomel-ngomel sambil teriak, “Mana tuh si monyet?” dari situ deh muncul nama Where’s The Monkey. Hihihi, biar agak kerenan dikit, makanya nama band-nya diganti pake Bahasa Inggris. Padahal mah artinya juga cuma “Mana Si Monyet”.
Di studio udah ada Ivan dan Ray, seperti biasa Joe pasti telat.
“Mana tuh si monyet?” tanya Mas Tyo sambil duduk di sofa. Aku pun ikut-ikutan duduk di sofa.
“Tadi sih dia bilang datengnya agak telat, soalnya mau fotokopi catatan dulu. Tadi di kelasnya Pak Abdul dia tidur.” jawab Ivan sambil membetulkan posisi simbal drum-nya.
“Dia sekelas sama Tian donk ya kalo gitu?” tanya Mas Tyo.
“Tian itu siapa?” tanyaku berbisik ke Mas Tyo.
“Tian itu guitarist baru kita. Anaknya ganteng lho, Na. Blasteran Jawa Jerman gitu!” jawab Ray sambil mengedipkan mata.
“Yeeee … Terus kenapa?” balasku. Sebenernya Aku penasaran, gimana sih sosok Tian ini, blasteran Jawa Jerman, pasti ganteng. Hihihi.
“Woy, inget! Temen band gue tuh!” Mas Tyo membuyarkan lamunanku.
“Iya ah, bawel!” Aku menjawab dengan cepat. “Bikin peraturan aneh-aneh aja sih! Emangnya kenapa kalau Aku sama temen band-nya Mas Tyo saling naksir nantinya?” umpatku dalam hati.
Gak berapa lama, Joe dateng, tapi gak sendirian. Dia dateng sama cowok putih, tinggi, hidungnya mancung, tulang pipinya kebentuk dengan jelas, rambutnya hitam pekat, astaga … Ini kah yang namanya Tian? Tanpa sadar Aku pun terpesona dengan sosok lelaki tersebut.
“Welcome to the club, Dude!” Mas Tyo berdiri dan menyalaminya, disusul dengan Ray. Ivan hanya mengangkat stik drum-nya aja.
“Ini siapa? Manager kita?” tanya lelaki tampan itu sambil tersenyum manis saat dia melihat ke arahku.
“Buset, itu mah ade perempuan gue!” jawab Mas Tyo sambil tertawa kecil.
“Tian.” Lelaki bernama Tian itu mengulurkan tangan kanannya ke arahku yang masih terduduk.
“Oh, hai … Tiana.” Aku pun berdiri dan menyambut tangannya, menyalaminya. “Duh, kok jadi salting gini sih?!” pikirku.
“Langsung aja yuk. Udah sore nih.” ajak Joe.
Mereka pun memulai latihan ini dengan Anna Molly-nya Incubus. “Aduh, Tian main gitarnya keren banget sih. He’s really got style.” pikirku dalam hati. “Ah, damn! Dia kan temen se-band-nya Mas Tyo, gak boleh ditaksir!” sisi angel-ku mengingatkan.
Di band ini, Tian jadi Lead Guitar I sedangkan Mas Tyo jadi Lead Guitar II, kadang-kadang jadi Rhythm. Harus Aku akui, permainannya Tian jauh lebih keren daripada Izal, dari segi tampang juga beda jauh. Izal mah anaknya acak-acakan, gak heran IPK-nya juga acak-acakan. Oops, kok Aku jadi jahat gini ya? Hihihi.
Gak kerasa, satu jam mereka latihan dan gak kerasa, selama itu juga Aku ngeliatin Tian main gitar. Huhuhu. Bahaya nih, bisa-bisa Aku naksir beneran!
“Wah, keren abis lo! Gak salah kita ngangkat lo jadi Lead Guitar kita!” puji Mas Tyo.
“Biasa aja kali, gue juga masih belajar.” Tian merendah.
“Eh, rumah lo daerah Bekasi juga kan? Bareng sama kita aja. Rumah kita di Kemang Pratama.” Mas Tyo menawarkan tumpangan ke Tian. “Yes, yes, yes!!” jeritku dalam hati.
“Rumah gue di Galaksi, di Cluster-nya. Deket donk ya?” Tian menjawab penuh semangat.
“Wah, bisa donk kapan-kapan lo gue titipin Ade gue?” tanya Mas Tyo sambil mencabut jack gitar listriknya.
“Bisa aja.” Jawab Tian sambil tersenyum manis ke arahku.
Deg! Jantungku rasanya mau copot. Mas Tyo aneh-aneh aja sih, baru kenal udah minta tolong.
“Udah ah, gue cabut duluan. Cewek gue udah nelfonin daritadi nih!” Joe melihat ke layar HP-nya.
“Cewek lo yang mana?” ledek Ivan.
“Siaul lo!” Joe tertawa kecil. “Duluan ya semua, bye …”
“Hati-hati, Bro!” Ray setengah berteriak mengingatkan Joe. Secara ya, Joe itu kalau nyetir mobil serasa jalanan itu punya Nenek Moyangnya alias ngebut.
“Eh, lo jadi bareng gak?” tanya Mas Tyo.
“Makasih, gue bawa mobil sendiri kok.” jawab Tian tersenyum.
“Ya udah, gue balik juga ya, Ade gue udah manyun nih.” Mas Tyo melirik ke arahku.
“Apa sih? Rese deh!” Aku memukul manja lengan Mas Tyo.
“Bye all …” Mas Tyo mengambil gitar listriknya sedangkan Aku hanya tersenyum pada Tian, begitu juga dengan Tian, dia tersenyum manis padaku sementara tangannya merapikan kabel-kabel yang ada di sekitar kakinya.
Hari ini emang indah, bisa kenalan sama cowok seganteng Tian. Hihihi.
“Eh, band gue punya guitarist baru lho!”
“Lho? Emang Izal ke mana?” tanyaku sambil melihat ke arah Mas Tyo yang lagi nyetir.
“Izal mau konsen sama kuliah aja katanya, soalnya IPK dia jelek.” Mas Tyo pun mengubah persneling dari 3 ke 4, menambah laju kecepatan mobil.
“Abis ini temenin gue ke studio band dulu ya, anak-anak udah pada nunggu di sana.” Mas Tyo melihat ke arahku yang lagi sibuk ngaca buat ngerapihin poni.
“Bentar aja ya, Aku males lama-lama. Ngantuk.” jawabku sambil tetep ngaca.
“Iye ….” Mas Tyo pun ngacak-ngacak poniku.
“Mas Tyo!!” Aku berteriak sambil memukul tangan Mas Tyo yang jahil itu dan Mas Tyo pun tertawa puas.
Tiga puluh menit kemudian kami sampai di studio band, tempat latihan nge-band dan tempat hang out-nya anak-anak Where’s The Monkey. Well, gak usah ngebayangin berapa banyak duit yang harus mereka keluarin buat nge-band dan hang out di studio ini selama berjam-jam, soalnya studio ini punyanya Ivan, jadi khusus band mereka nggak dikenain biaya sama sekali.
Aku dan Mas Tyo memasuki ruangan studio yang cozy abis itu. Tempatnya luas, peralatan band-nya lengkap, peredamnya berupa karpet warna biru tua, AC-nya dingin, ruangannya bersih, wangi, pokoknya bagus banget deh. Aku bisa tidur dengan nyenyak di ruangan ini kalau mereka nggak gonjrang-gonjreng kayak orang-orang kesurupan!
Oh, Aku mau cerita satu hal tentang nama band mereka yang unik ini. Where’s The Monkey itu kan artinya Mana Si Monyet ya? Nama ini tuh ada sejarahnya lho! Jadi dulu tuh, Joe, si vocalist, punya kebiasaan telat dateng latihan, kebanyakan pacar kali ya jadinya agak susah ngatur waktunya, hehehe. Nah, kalau Joe udah telat gitu, Ivan biasanya suka ngomel-ngomel sambil teriak, “Mana tuh si monyet?” dari situ deh muncul nama Where’s The Monkey. Hihihi, biar agak kerenan dikit, makanya nama band-nya diganti pake Bahasa Inggris. Padahal mah artinya juga cuma “Mana Si Monyet”.
Di studio udah ada Ivan dan Ray, seperti biasa Joe pasti telat.
“Mana tuh si monyet?” tanya Mas Tyo sambil duduk di sofa. Aku pun ikut-ikutan duduk di sofa.
“Tadi sih dia bilang datengnya agak telat, soalnya mau fotokopi catatan dulu. Tadi di kelasnya Pak Abdul dia tidur.” jawab Ivan sambil membetulkan posisi simbal drum-nya.
“Dia sekelas sama Tian donk ya kalo gitu?” tanya Mas Tyo.
“Tian itu siapa?” tanyaku berbisik ke Mas Tyo.
“Tian itu guitarist baru kita. Anaknya ganteng lho, Na. Blasteran Jawa Jerman gitu!” jawab Ray sambil mengedipkan mata.
“Yeeee … Terus kenapa?” balasku. Sebenernya Aku penasaran, gimana sih sosok Tian ini, blasteran Jawa Jerman, pasti ganteng. Hihihi.
“Woy, inget! Temen band gue tuh!” Mas Tyo membuyarkan lamunanku.
“Iya ah, bawel!” Aku menjawab dengan cepat. “Bikin peraturan aneh-aneh aja sih! Emangnya kenapa kalau Aku sama temen band-nya Mas Tyo saling naksir nantinya?” umpatku dalam hati.
Gak berapa lama, Joe dateng, tapi gak sendirian. Dia dateng sama cowok putih, tinggi, hidungnya mancung, tulang pipinya kebentuk dengan jelas, rambutnya hitam pekat, astaga … Ini kah yang namanya Tian? Tanpa sadar Aku pun terpesona dengan sosok lelaki tersebut.
“Welcome to the club, Dude!” Mas Tyo berdiri dan menyalaminya, disusul dengan Ray. Ivan hanya mengangkat stik drum-nya aja.
“Ini siapa? Manager kita?” tanya lelaki tampan itu sambil tersenyum manis saat dia melihat ke arahku.
“Buset, itu mah ade perempuan gue!” jawab Mas Tyo sambil tertawa kecil.
“Tian.” Lelaki bernama Tian itu mengulurkan tangan kanannya ke arahku yang masih terduduk.
“Oh, hai … Tiana.” Aku pun berdiri dan menyambut tangannya, menyalaminya. “Duh, kok jadi salting gini sih?!” pikirku.
“Langsung aja yuk. Udah sore nih.” ajak Joe.
Mereka pun memulai latihan ini dengan Anna Molly-nya Incubus. “Aduh, Tian main gitarnya keren banget sih. He’s really got style.” pikirku dalam hati. “Ah, damn! Dia kan temen se-band-nya Mas Tyo, gak boleh ditaksir!” sisi angel-ku mengingatkan.
Di band ini, Tian jadi Lead Guitar I sedangkan Mas Tyo jadi Lead Guitar II, kadang-kadang jadi Rhythm. Harus Aku akui, permainannya Tian jauh lebih keren daripada Izal, dari segi tampang juga beda jauh. Izal mah anaknya acak-acakan, gak heran IPK-nya juga acak-acakan. Oops, kok Aku jadi jahat gini ya? Hihihi.
Gak kerasa, satu jam mereka latihan dan gak kerasa, selama itu juga Aku ngeliatin Tian main gitar. Huhuhu. Bahaya nih, bisa-bisa Aku naksir beneran!
“Wah, keren abis lo! Gak salah kita ngangkat lo jadi Lead Guitar kita!” puji Mas Tyo.
“Biasa aja kali, gue juga masih belajar.” Tian merendah.
“Eh, rumah lo daerah Bekasi juga kan? Bareng sama kita aja. Rumah kita di Kemang Pratama.” Mas Tyo menawarkan tumpangan ke Tian. “Yes, yes, yes!!” jeritku dalam hati.
“Rumah gue di Galaksi, di Cluster-nya. Deket donk ya?” Tian menjawab penuh semangat.
“Wah, bisa donk kapan-kapan lo gue titipin Ade gue?” tanya Mas Tyo sambil mencabut jack gitar listriknya.
“Bisa aja.” Jawab Tian sambil tersenyum manis ke arahku.
Deg! Jantungku rasanya mau copot. Mas Tyo aneh-aneh aja sih, baru kenal udah minta tolong.
“Udah ah, gue cabut duluan. Cewek gue udah nelfonin daritadi nih!” Joe melihat ke layar HP-nya.
“Cewek lo yang mana?” ledek Ivan.
“Siaul lo!” Joe tertawa kecil. “Duluan ya semua, bye …”
“Hati-hati, Bro!” Ray setengah berteriak mengingatkan Joe. Secara ya, Joe itu kalau nyetir mobil serasa jalanan itu punya Nenek Moyangnya alias ngebut.
“Eh, lo jadi bareng gak?” tanya Mas Tyo.
“Makasih, gue bawa mobil sendiri kok.” jawab Tian tersenyum.
“Ya udah, gue balik juga ya, Ade gue udah manyun nih.” Mas Tyo melirik ke arahku.
“Apa sih? Rese deh!” Aku memukul manja lengan Mas Tyo.
“Bye all …” Mas Tyo mengambil gitar listriknya sedangkan Aku hanya tersenyum pada Tian, begitu juga dengan Tian, dia tersenyum manis padaku sementara tangannya merapikan kabel-kabel yang ada di sekitar kakinya.
Hari ini emang indah, bisa kenalan sama cowok seganteng Tian. Hihihi.

No comments:
Post a Comment