Sunday, May 31, 2009

Tatiana's Diary : PART 1

“So take me, don't leave me. Take me, don't leave me. Baby, love will come through. It's just waiting for you.”

Lagu Love Will Come Through-nya Travis menemaniku berdandan pagi ini. Aku seneng banget dengerin lagu-lagunya Travis, apalagi di pagi hari, bikin mood bagus seharian.

Hari ini hari pertama kuliah untuk Aku dan Kakakku setelah tiga bulan lamanya kami liburan semester. Namaku Tatiana, keluarga dan teman-temanku memanggilku Tiana. Kata orang Aku ini manja, tapi juga bisa mandiri, klo udah mendesak tentunya. Hihihi.

Kakakku bernama Bramantyo, tapi biasa dipanggil Tyo. Harus Aku akui, kakakku ini ganteng. Anaknya putih, tinggi, hidungnya mancung, pinter, tapi jailnya itu lho … minta ampun!! Kalau dia sama Adikku, Adi, udah kerja sama, bisa-bisa Aku nangis dikerjain sama mereka berdua. Huh, sebel!!

Pagi ini Ayah, Bunda, dan Adi udah pada siap di ruang makan. Kita emang sebisa mungkin sarapan bareng. Kata Bunda, makan bareng keluarga itu banyak kebaikannya, salah satunya ya mempererat hubungan keluarga.

Setelah selesai dandan, Aku segera keluar dari kamarku untuk bergabung dengan keluargaku di ruang makan.

“Wah, kamu cantik banget pagi ini, Tiana.” ujar Bunda ketika Aku mencium kedua pipi Beliau.
“Iya donk, Tiana …” kataku sombong sambil menarik kursi.

“Alah, paling biar bisa ngegaet junior-junior di kampusnya.” ledek Adi.
“Oh iya, hari ini kamu udah jadi senior donk ya? Pasti lucu ngeliat mahasiswa-mahasiswa baru itu diplonco.” kini Ayah angkat suara.

“Iya lucu, apalagi dulu si Tiana. Culun abis, kayak mbok jamu. Huahahahaha.” Tiba-tiba si jelek Mas Tyo nyamber dan kemudian mencium pipi Bunda.
“Bunda … Mas Tyo tuh!!” teriakku.

“Tyo, kamu tuh apa sih, pagi-pagi udah bikin si Tiana ngambek.” bela Bunda.
“Ah, emang Mbak Tiana cengeng aja, Bunda.” Adi malah ngebelain Mas Tyo dan mereka pun saling tos.
“Udah-udah mendingan sekarang kita berdoa sebelum makan.” Ayah menengahi pertengkaran kecil kami.

Setelah selesai sarapan, kami pun beregegas untuk memulai aktivitas kami masing-masing. Ayah pergi ke kantor dengan Mercy hitamnya, Bunda juga pergi ke kantor, namun sebelumnya mengantar Adi yang masih SMA dengan CRV, mobil keluarga kami. Sedangkan Aku dan Mas Tyo pergi ke kampus dengan Baleno X-Over hitamnya, seperti biasa, dia yang menyetir.

Perjalanan dari rumah ke kampus memakan waktu satu jam. Maklum, kampus kami jauh, di Depok. Kadang Mas Tyo menganggap kami ini adalah musafir. Berlebihan memang, tapi itu lah Mas Tyo, berlebihan.

+ + + + + +

“Gak ada yang cantik-cantik apa ini? Culun-culun semua.” Mas Tyo melihat sekelilingnya.
“Belagu banget sih! Gak heran Mas Tyo jomblo!” ujarku kesal sambil berjalan di sebelahnya.

Aku dan Mas Tyo cuma beda satu tahun. Kini Aku memasuki tahun keduaku dan Mas Tyo memasuki tahun ketiganya. Jurusan kami sama-sama Akuntansi. Heran memang, kenapa kami bisa satu kampus, satu jurusan pula, padahal udah jelas banget kalau setiap kita ketemu, kita pasti berantem untuk hal-hal yang gak penting.

“DOR!!” tiba-tiba ada yang menepuk bahu Mas Tyo dari belakang.
“Eits, tumben lo gak telat!” Mas Tyo pun menyalami sosok yang menepuk bahunya tadi.

Ternyata sosok tersebut adalah Joe. Joe adalah salah satu temen deket Mas Tyo, vocalist dari band mereka yang bernama Where is The Monkey. Joe ini blasteran Manado Amrik. Kebayang donk kayak gimana? All American Boy banget deh! Putih, tinggi, badannya bongsor, anaknya asyik, lucu, rame, dan juga playboy. Hahaha. Di mana-mana punya cewek. Hal ini jadi salah satu penyebab Mas Tyo ngelarang Aku dan temen-temen band-nya buat saling naksir. Idih, padahal Aku udah ilfil ngeliat mereka semua!

“Aduh, cantik banget cewek di sebelah lo, Yo. Boleh donk gue dikenalin?” goda Joe sambil merangkul bahu Mas Tyo. Mas Tyo pun cuma ngakak.
“Najis deh! Gue gak mau jadii cewek lo yang keseribu!” semprotku ke Joe.

“Buset, galak bener. Gak jadi ah, mending gue sama lo aja, Yo. Iya gak, Sayang?”
“Iya, Cinta.” Mas Tyo dan Joe pun jadi pasangan hombreng mendadak.
“Ewwww!!!” jeritku sambil menutup muka dan mereka pun tertawa terbahak-bahak.

“Eh, gak masuk ke kelas lo? Udah mau jam 9 nih.” Mas Tyo menanyaiku.
“Oh iya, Aku masuk kelas dulu ya, Mas. Mas Tyo juga masuk kelas gih!”

“Ya udah, nanti SMS gue aja ya lo pulang jam berapa.”
“Sip!” Aku pun pergi meninggalkan Mas Tyo dan Joe.
“Met belajar, Tiana …” Joe teriak dari kejauhan. Aku membalikkan badan dan memeletkan lidahku, Joe pun ketawa ngakak.

+ + + + + +

“Tianaaaaaa …”
Tasha, teman dekatku selama Aku kuliah, menyambutku.
“Duduk sini aja sebelah gue. Eh, udah lama gak ketemu, rambut baru, Neng?” tanya Tasha ketika Aku duduk di sebelahnya.
“Iya donk, semester baru, rambut baru.” jawabku.

Gak lama kemudian temen-temen gang-ku yang lain duduk menghampiri kami. Aku belum cerita ya? Aku punya gang dance di kampus ini, kita ke mana-mana selalu bareng. Gang Aku ini terdiri dari Tasha, calon cumlaude yang super baik, kerjaannya berantem mulu sama Mas Tyo. Jangan-jangan bisa tumbuh benih-benih cinta. Oops, kalau Tasha tau Aku bilang gini, dia bisa ngamuk-ngamuk nih. Hihihi.

Regina, cewek modis yang cerewetnya minta ampun, tapi hatinya baik banget lho. Selera cowoknya tinggi, jadi agak-agak picky gitu deh dalam urusan percintaan. Hihihi.

Sarah, emo dancer. Kalau penasaran Sarah kayak gimana, bayangin aja Peyton Sawyer di One Tree Hill. Oh bukan, bukan fisiknya yang kayak Peyton, kebagusan amat, tapi sifatnya. Dia boleh aja gabung sama tim dance kampus, tapi jangan harap dia bisa se-cheerful kita-kita. Sarah hobi banget meng-emo, jago bikin pusisi emo, jago gambar emo, selera musiknya juga yang emo-emo. Duh, kadang Aku ngerasa depresi kalau main ke kamarnya dia, penuh kegelapan. Hahaha. Tapi ada satu hal yang lucu dari Sarah, dia doyan banget ngelucu, walaupun dengan mukanya dia yang datar. Makanya kita suka bingung, kapan dia lagi becanda, kapan dia lagi serius.

Yang terakhir, Rossy atau biasa dipanggil Ochie. Ochie ini anaknya mungil, poninya kayak Dora, tapi biar gitu dia jago Tae Kwon Do lho, sabuk merah pula. Hebat kan?! Ochie selalu kita anggep anak kecil karena dia satu tahun di bawah kita-kita, cuma karena waktu SMA dia akselerasi makanya sekarang dia bisa setingkat sama kita.

Kangen banget deh sama cewek-cewek ini, makanya pas istirahat makan siang pun kita berbagi cerita. Mulai dari Regina yang shopping di Singapura, Tasha yang keliling museum, Sarah yang dateng ke acara-acara musik Jakarta dan Bandung, dan Ochie yang pulang kampung ke Jawa, bantuin Kakek Neneknya manen padi. Hahaha. Kita semua ketawa ngakak pas denger Ochie cerita, apalagi pas bagian dia dikejer bebek, lucu banget.

“Lagian lo aneh-aneh aja, pake pulang ke kampung segala.” Regina berusaha menutup mulutnya sendiri karena ngerasa udah bikin rusuh kantin kampus.
“Gue pengen tau aja gimana rasanya jadi gadis desa, ternyata seru lho!” jawab Ochie penuh semangat.

“Eh, tapi cowoknya cakep-cakep gak?” godaku.
“Cakep-cakep, Say! Malah ada yang mirip James McAvoy!” jawab Ochie lagi.
“Serius?” kami berempat pun mendekatkan wajah kami ke Ochie.

“Ya gak lah … Menurut lo?!” Ochie pun ngakak dengan puasnya ngeliat kami berempat berhasil ditipu.
“Siaul!” Sarah menimpuk Ochie dengan tisu yang sudah dikepal-kepalnya dari tadi. Tawa pun kembali meledak.

“Eh, klo lo sendiri ngapain aja, Say?” Regina bertanya sambil menyeruput jus jeruknya.
“Gue? Gue jalan-jalan ke Bali sama keluarga gue. Soalnya Ade gue kan masuk IPA.” jawabku penuh senyum
“Oleh-olehnya mana?” Sarah senyum-senyum penuh arti.
“Oleh-oleh? Nih, kulit gue jadi lebih item. Pusing gue!” jawabku sambil menunjukkan lenganku yang kini tampak lebih gelap.

“Gak apa-apa kali, kan lebih eksotis.” goda Tasha sambil mengedipkan matanya.
“Eksotis dari Hong Kong!” Aku memukul tangan Tasha pelan sementara temen-temenku yang lain tertawa.

Setelah ngobrol ngalur ngidul, makanan yang kami pesen pun dateng. Aku mesen Ayam Bumbu Rujak, Tasha mesen Pecel Ayam, Regina pesen Chicken Katsu, Sarah mesen Mie Yamin, dan Ochie mesen Nasi Padang.

Siang itu, kita makan dengan lahapnya, sambil diselingi candaan-candaan super gak penting tentunya.

Beep. Beep.

Aku pun melihat HP-ku. Mas Tyo. Duh, ganggu aja deh, gak tau apa Aku lagi makan siang?!

From : Mas Tyo
Message : Lagi di mana? Klo lagi di kantin, cariin gue meja donk! Thx.

Gila apa nih orang? Aku disuruh nyariin meja buat dia? Ogah! Dibayar juga gak mau! Aku pun segera membalas SMS-nya Mas Tyo.

To : Mas Tyo
Message : Ogah, cari aja sendiri!

Gak berapa lama, HP-ku pun kembali berbunyi, menunjukkan adanya SMS masuk. Dengan malas-malasan Aku membaca SMS tersebut.

From : Mas Tyo
Message : Dasar males! Pulang jalan kaki lo!

Ugggghhhh … Bener-bener ya nih orang, nyebelin banget! Kalau ada mata kuliah Bikin-Adik-Perempuan-Nangis-dan-Ngambek, Mas Tyo pasti dapet nilai A++!!

“Kenapa sih, Na? Muka lo error gitu?” tanya Regina sambil memotong Chicken Katsu-nya.
“Biasa, Mas Tyo, minta dicariin meja. Males banget deh!” Aku pun gak tahan dan menggerutu.

Tapi karena takut disuruh pulang jalan kaki, mau gak mau Aku meninggalkan mejaku dan mencari meja yang masih kosong. Dasar kakak semena-mena, gak tau apa kalo jam makan siang itu susah nyari meja kosong.

“Tiana, Tyo suruh duduk di meja kita aja, toh kita udah mau selesai.” terdengar suara Tasha dari belakang.

Aku pun kembali ke mejaku, duduk, dan mulai menghabisi makan siangku. Gak lama kemudian, Mas Tyo dan temen-temen band-nya datang menghampiri Aku dan gang-ku.

“Mana meja gue?” Mas Tyo memegang kedua bahuku dari belakang.
“Tunggu Aku sama temen-temen Aku selesai makan dulu, baru nanti Mas Tyo pake meja Aku.” Aku pun menoleh ke belakang. Mas Tyo melihat ke sekelilingnya.

“Dasar Kakak semena-mena! Susah tau nyari meja jam segini!” Tasha menyubit lengan Mas Tyo.
“Awww … Gila lo, Sha! Cubitan lo sakit banget!” Mas Tyo memegangi lengannya sendiri.

“Buset, cewek kalo makan lama banget ya …” Ray, bassist Where’s The Monkey yang pendiem, angkat suara juga.
“Ya iya lah, namanya juga cewek!” jawab Sarah jutek.

“Santai, Mbak santai …” Ivan, drummer Where’s The Monkey yang badannya tinggi besar itu menengahi sambil cengengesan.
“Nih, pake mejanya sepuas2nya!” Aku pun beranjak dari meja diikuti gang dance-ku.

“Nah, gitu donk … Eh, nanti jam 3 gue udah balik, lo udah balik belom jam segitu?” kini giliran Mas Tyo dan temen-temennya yang menduduki meja kami.
“Udah, nanti Aku tunggu di Makara aja ya. Dah semua …” Aku dan temen-temenku pun pamit.

3 comments:

  1. be careful darling..this is great, somebody maybe will copas (copypaste) and take and advantage from that...

    Maybe you should find other media to share this to all :)

    ReplyDelete
  2. Yeah, I know the consequences, Honey :)
    There's nothing in the world that can't be copas-ed :D
    Help me find another media please (>.<)

    ReplyDelete
  3. disimpen aja filenya dikomputer/laptopmu vib. kalo udah jadi satu judul. sharing ke teman2 trdekat yang kamu percaya, dan kalau responsenya sangat positif ya lanjutkan ke penerbit. lumayan lho royaltinya buat nambahin jajan.. apalagi kalo sampe best seller!

    ReplyDelete