Hari ini Aku udah mutusin buat ngomong langsung sama Tyo kalo Aku juga punya perasaan yang sama kayak dia.
Aku gak peduli, pokoknya begitu ketemu Tyo, Aku bakal langsung bilang kalo Aku suka sama dia. Terserah deh dia lagi sama temen-temen se-band-nya yang moron-moron itu, atau pun pas dia lagi jalan ke kelas sambil makan JetZ Chocolate Fiesta sambil berantem sama Tiana karena itu JetZ-nya Tiana. Aku gak peduli.
Langkahku terhenti, otomatis teman-temanku pun ikut menghentikan langkah mereka.
“Kenapa, Sha?” Sarah bertanya kepadaku dengan tatapan bingung.
“Itu … Tyo ada di KAFE, sama temen-temennya.” Mataku melihat ke arah meja yang penuh dengan cowok-cowok rusuh dan Tyo salah satunya. Dia lagi main gitar sambil ketawa-ketawa karena Ray lagi berusaha ngerebut KTP-nya (Di mana foto Ray culun abis! Hahaha.) dari Ivan dan Joe yang berusaha nempelin KTP-nya Ray di salah satu pilar KAFE.
“It’s okay, Sha. My brother is a good guy.” Tiana memegang tanganku dan tersenyum untuk meyakinkanku.
Aku pun memberanikan diri melangkah ke arah meja Tyo dan teman-temannya. Teman-temanku berjalan di belakangku.
Aku bisa melihat Tyo memakai baju yang kurang lebih sama sepertiku. Kemeja lengan panjang (lagi-lagi lengannya digulung) putih dengan vest biru tua, sedangkan Aku memakai kemeja cewek putih dengan vest pink tua. Is it coincidence? Or fate?
“Tyo …” Aku menyapanya pertama kali.
Tyo tampak terkejut. Dia berhenti memainkan gitarnya. Begitu juga dengan Joe, Ivan, dan Ray. Mereka langsung melihat ke arahku dengan tatapan kaget, kayak orang lagi ke-gep nyontek sama pengawas pas lagi ujian semester.
“Kenapa, Sha?” Tyo berusaha tersenyum padaku. Aku yakin, itu untuk menutupi rasa kagetnya.
“Can I have a word with you?” karena grogi, Aku memainkan jari-jari tanganku sendiri. Kayak anak SD.
“Sure.” Tyo berdiri dan mengikuti langkahku.
Aku masih bisa mendengar keributan yang terjadi di belakang, ketika teman-temanku bertemu dengan teman-temannya Tyo. Aku tahu mereka gak hanya ngeributin soal Aku dan Tyo tapi juga ngeributin soal fotonya Ray yang sumpah gagal total itu! Hahaha.
* * * * *
Aku mengajak Tyo ke tempat di mana Aku dan Tyo bisa ngobrol dengan tenang. Ruang Belajar Mahasiswa di lantai 2 Perpustakaan jadi pilihanku.
Tapi sebelum kita ke sini, Tyo minta izin ke koperasi dulu buat beli Momogi rasa jagung bakar. Sekarang siapa yang kayak anak SD?!
“Mau ngomong apa, Sha?” tanya Tyo sambil celingak-celinguk ngeliat kanan kiri takut ketauan bawa makanan ke dalam ruangan.
“About the kiss …” Aku menjawab ragu-ragu.
Mungkin karena kaget, Tyo jadi batuk-batuk pas nelen Momogi.
“Uhuk uhuk uhuk …”
“Ih, Tyo … Makannya pelan-pelan kek!” Aku membantu menepuk-nepuk pelan punggung Tyo.
“Sorry, Sha. Gue kaget banget!” Tyo pun sudah bisa tenang kembali.
Aku memberikan Aqua-ku yang belum kuminum, tapi Aku bukain dulu tutup botolnya, lalu memberikannya ke Tyo.
“Thanx …” Kayak orang abis lari lintas alam, Tyo pun dalam sekejap udah menghabiskan minuman yang Aku berikan kepadanya.
“What’s wrong with the kiss?” Tyo menutup botol Aqua-ku dan menaruhnya di meja.
“I think I’m in love with the man who gave me that kiss.” Aku menjawab pertanyaan Tyo dengan tingkat ketidak yakinan yang sangat tinggi.
Aku takut Tyo jadi ilfeel sama Aku. Aku takut Tyo gak punya perasaan yang sama kayak Aku. Pokoknya Aku takut!
“ … and that man only kisses the woman that he loves.” Tyo tersenyum padaku dan dia memegang tanganku.
“So, we’re good now?” tanyaku ragu.
“How can we fight when I’m too busy loving you?” Tyo mendekatkan kedua tanganku yang dipegangnya, ke mukanya.
“Okay, this is cheesy.” Lalu Tyo tertawa renyah sampai seluruh mata yang ada di ruangan melihat ke arah kita berdua.
“Ssssttt … Tyo berisik deh!” dengan susah payah Aku menahan tawaku agar tidak meledak juga.
Sumpah, Tyo bisa norak juga!
“So we’re officially a couple now?” tanya Tyo dengan senyum boyish-nya.
“Sekarang ya, Yo? Ngitungnya bukan pas dari lo nyium gue ya?” tanyaku bingung.
“Ya gak donk, kan lo baru ngakunya sekarang! Eh, ulang lagi donk, gue seneng deh dengernya.” Tyo cengar-cengir gak jelas.
“No way!” Aku pun beranjak pergi meninggalkan Tyo.
“Sha … Tunggu, Sha … Gue kan cuma bercanda. Lagian kan sekarang kita udah pacaran, bukannya kita harus Aku-Kamu gitu ya? Atau mau Sayang-Sayang-an aja?” cecer Tyo sambil mengejarku yang menuruni tangga satu per satu.
“Aduh, Tyo berisik banget sih. Terserah deh, mau manggil apa aja juga boleh.” Aku menutup telinga kiriku dengan tangan kiriku karena Tyo gak henti-hentinya nyerocos.
“Kalo gitu … My Cherry aja ya?!” Tyo menghentikan langkahnya.
Aku yang udah jalan di depan Tyo pun jadi menghentikan langkahku, lalu berfikir sesaat sebelum akhirnya …
“Tyo … Sumpah itu norak banget!!!!” Aku tergelak geli, mengingat Cherry adalah rasa lipgloss-ku ‘waktu itu’.
Tyo yang ikut tertawa merangkul bahuku dan kami berdua pun berjalan kembali ke KAFE, karena Tyo berencana mentraktir anak-anak makan siang kali ini. Sebagai Pajak Jadian katanya.
* * * * *
Well, that’s the story about me and Tyo. Bener kata Regina, kita bisa jatuh cinta sama siapa aja, bahkan sama orang paling kita sebel sekali pun.
Banish the hatred, spread the love!
Love,
Tasha
Wednesday, July 1, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment