Thursday, June 25, 2009

This is Tasha : CHAPTER 5

Di Jum’at siang yang mendung ini, Aku dan Tyo lagi ada di Trax FM, menyerahkan proposal FEUI CUP untuk minta Trax FM mempublikasikan acara kami yang bakal diadain sebulan lagi

Aku hari ini pake knee-length-dress biru muda, cardigan biru tua, dan closed-toed-flats warna biru tua juga. Tyo bilang, hari ini Aku tampak fresh, persis kayak kolam renang berjalan. Ugh, hate him! I’m more to sophisticated, Dude!

Kenapa juga kita harus sama-sama jadi anak Publikasi sih? Harus berdua-duaan sama Tyo tuh cuma nambah-nambahin dosa aja. Bawaannya pengen ngomel terus!

Tyo hari ini pake kemeja lengan panjang (lengannya digulung) warna putih motif garis-garis vertikal (yang ngebuat Tyo jadi keliatan makin tinggi) dengan merk Jail Body Inside yang tertera di kantong kemejanya.

Gak sedikit cewek-cewek yang ngeliatin Tyo pas kita makan di McD Sarinah. Tapi Sang Objek dengan cueknya tetep melahap Triple Cheese Burger-nya.

“Sha, nanti temenin gue ke studio bentar ya.” Sambil makanin kentang satu-satu, Tyo memintaku menemaninya ke studio.
“Aduh, Yo gue gak bisa, gue mau ngerjain paper. Belum kelar-kelar. Seminggu lagi dikumpulin.” Aku menolak permintaan Tyo.

“Ngajak kok ke studio? Ke toko buku kayaknya lebih asyik.” Pikirku dalam hati sambil menyeruput Lemon Tea-ku.

“Ya elah, bentar doank, Sha. Gue mau ngambil gitar listrik Ade gue, dya mau nge-band sama temen-temennya.” Tyo menatapku setengah memohon.
“Plis deh, Yo lo kalo mau ke studio kan bisa abis nganterin gue pulang.” Jawabku cuek.

“Ya udah deh. Balik yuk, udah jam segini nih. Gue takut macet.” Tyo membersihkan mulutnya dengan tissue kemudian berdiri dari karsi, Aku pun melakukan hal yang sama, dan kita pun pulang.

* * * * *

“Lho? Kok kita di sini, Yo? Emang kita mau ke mana?” tanyaku panik.
“Ke studio bentar. Oke?” Tyo mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jahil.

Di saat yang sama Aku pun langsung mencak-mencak, ngedumel, karena Tyo dengan semena-mena ngerubah jadwal yang udah Aku susun. Aku gak suka!

Tyo pun memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah berbentuk minimalis, terdapat plang di sebelah tiang listrik bertuliskan : “Ivan’s Band Studio”. Iya, Aku tau ini rumahnya Ivan, Aku pernah ke sini sekali, waktu nemenin Tiana yang pengen ketemu Tian.

“Gue turun bentar ya, Sha. 5 menit doang kok.” Tyo tersenyum padaku –well, lebih terkesan nyengir sih daripada senyum—kemudian turun dari mobil.

Aku yang emang udah kesel sama kelakuannya dia yang seenak jidat, lebih milih diem.

20 menit berlalu, Tyo belum dateng-dateng juga. Kemudian pada menit berikutnya Tyo datang.

Dia membuka pintu belakang dan menaruh gitarnya di kursi belakang. Kemudian membuka pintu depan, duduk di bangku kemudi, dan bilang …

“Sha, sori lama, tadi gue …”

“Lo tuh gimana sih? Lo kan janjinya cuma 5 menit? Lo udah ninggalin gue di sini berapa lama, Yo? Gue kepanasan tau nunggu sendirian di mobil! Gue tuh paling gak suka kalo schedule yang gue bikin berantakan! Lo tuh harusnya …”

Cup!

Tyo mendaratkan subtle-kiss-that-no-one-sees-nya ke bibirku yang saat itu mengenakan lipgloss dari Revlon dengan Very Cherry Flavor.

Aku pun terdiam, menatap ke arah Tyo dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan padaku.

“I think I’ve found a way how to make you shut your cherry favor lips up.” Tyo tersenyum manis sekali saat itu, kemudian dia memasang seat belt dan menyalakan mobilnya.

Aku hanya diam terpaku, Aku yakin mukaku memerah saat itu. Aku merapatkan bibirku, kemudian mengalihkan pandanganku ke arah jendela.

Saat itu hujan turun rintik-rintik membasahi jendela mobil Baleno X-Over Tyo. Udara terasa sangat dingin. Terlebih lagi semenjak “kejadian” itu, Aku dan Tyo sama sekali tidak berbicara. Suasana yang dingin ini membuat udara yang dingin ini menjadi semakin dingin.

“Tyo? Bramantyo Notosudiro? Musuh bebuyutanku? Menciumku? This is insane!” pikirku dalam hati. Jantungku berdetak semakin cepat kala mengingat hal itu.

“Sha, mau turun apa mau ikut gue pulang ke rumah?” Tyo menghentikan laju mobilnya, kemudian tersenyum jahil ke arahku.
“Hah? Oh, iya iya …” Aku segera bergegas begitu menyadari bahwa sekarang kami sudah ada di depan rumahku.

“Seat belt-nya dicopot dulu, Sha. Nanti mobil gue kebawa sampe rumah lo lagi. Hehehe.”
“Ya ampun …” Karena panik, Aku pun mencoba melepaskan seat belt-ku. Stuck. “Aduh, kok malah stuck begini sih? Aku pengen cepet-cepet turun!” pikirku dalam hati.

“Let me …” Tyo memegang tanganku, kemudian melepaskan seat belt-ku.
“Thank you.” Aku tersenyum seadanya, kemudian segera turun dari mobil Tyo dan masuk ke dalam rumah, tanpa pamit terlebih dahulu.

Gosh, what’s happening to me? My heart beats so fast like it wants to jump out. And his kiss … His kiss tasted so sweet. I can still remember the smell of his parfum. He smells good. As always. Seriously, he’s really driving me crazy!

Tuesday, June 23, 2009

This is Tasha : CHAPTER 4

Tubuhku ada di ruang tamu, ngajarin Yuli Akuntansi Manajemen, tapi pikiranku entah ada di mana. Aku teringat kata-kata Tyo ketika kita pulang bareng tadi.

Sambil mengecilkan volume CD Player yang sedang memainkan The Boys of Summer-nya The Ataris, Tyo tiba-tiba bilang, “Gak semua cowok bisa ngungkapin perasaannya dengan ngasih perhatian lebih ke cewek yang dia sukain, ada juga tipe cowok yang lebih suka ngejailin cewek yang dia sukain buat ngedapetin perhatiannya.”

Tiba-tiba tenggorokkanku seperti tercekat sesuatu. Lalu Aku menoleh ke arah Tyo yang saat itu sedang menarik hand break karena traffic light-nya lagi merah. Kemudian dia menoleh ke arahku, tersenyum jahil, dan …

“Jangan kaget gitu dunk, Sha. Bukan berarti gue naksir lo karena gue ngerjain lo terus. Hahahaha.” Tyo pun tertawa lepas sambil menutup wajahku dengan tangan kirinya.

Siaul! Tyo bisa baca pikiranku! Lagian, siapa juga yang minta ditaksir Tyo?! Gak banget deh!

Aku pun melepaskan tangan Tyo dari mukaku, “Iiihhh, siapa juga yang nyangka lo naksir gue?! Eww, big time!!”
Tyo menurunkan hand break, menginjak kopling, mengubah perseneling, dan menginjak gas sambil tertawa kecil.

“You know what, Sha? You’re really funny.” Tyo pun tersenyum walaupun pandangannya lurus ke depan.

Aku udah terlanjur kesel karena ke-gep sama Tyo kalo Aku mikir yang aneh-aneh tentang kejahilan dia. Huff … He’s mentally deranged!!

* * * * *

“Sha? Sha?” Yuli melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mukaku.
“Eh, iya, Yul? Kenapa? Ada yang gak ngerti?” tanyaku kaget.

“Nih, udah selesai. Coba tolong dicek, bener gak jawabannya?” Yuli menyerahkan kertas yang berisi jawaban-jawaban dari soal-soal latihan yang ada di buku.
“Bentar ya, gue cek dulu.” Aku mengambil kertas itu dan mulai mencocokkan dengan jawaban yang udah Aku buat sebelumnya.

“Gue ke kamar mandi dulu ya. Hehehe.” Aku cuma mengangguk mendengar Yuli minta izin ke kamar mandi. Aku terlalu konsentrasi untuk menjawabnya.

Beep. Beep.

“Duh, siapa sih yang SMS? Gak tau orang lagi jadi Tutor Dadakan apa?!” umpatku dalam hati. Tangan kananku mencari-cari HP-ku yang ternyata ada di antara tumpukan kertas-kertas.

From : Tyo FEUI
Message : Woy, udah mandi belum lo? Jangan-jangan sampe rumah tadi langsung tidur lagi. Hahaha. Oh iya, besok jangan lupa bawa proposal buat Trax FM ya. Okay thanx bye.

Typically Tyo! Suka banget bikin intoductry yang nyebelin, belum lagi di setiap akhir SMS selalu nulis ‘Okay thanx bye’. Baca SMS dari dia aja udah bikin kesel!

To : Tyo FEUI
Message : Enak aja! Jangan samain gue sama lo yang pemales! Iya, besok gue bawa. See you.

Sent.

Kalo dipikir-pikir, kadang Aku ngerasa suka keterlaluan sama Tyo. Mungkin apa yang selama ini Tyo bilang ke Aku bener. Aku ini kadang suka jutek, terus apa-apa dibawa serius. Well, mungkin karena Aku anaknya perfectionist kali ya? Jadi apa-apa harus under control.

“Ah, lagi-lagi Tyo. Ada apa sih sama Aku? Ini gak sehat!” Aku pun menaruh HP-ku di sampingku dan kembali memeriksa jawaban-jawaban Yuli. Udah banyak kemajuan. Hebat.

Sunday, June 21, 2009

This is Tasha : CHAPTER 3

“Kita pergi ke Trax FM-nya hari Jum’at aja deh, Sha. Abis gue sholat Jum’at dan makan siang. Gimana?” Tyo berdiri di sebelahku yang lagi asik Facebook-an di KAFE pake lap top-nya Regina.

“Aduh, Tyo! Baru dateng bukannya nyapa kita-kita dulu, malah langsung ngobrol sama Tasha!” protes Ochie.

“Tyo, kan udah gue bilang, Jum’at siang itu gue latihan dance!” Aku melihat Tyo yang lagi sibuk nyuruh Ochie geser supaya dya bisa duduk berhadap-hadapan denganku.

“Lagian jalanan macet!” sambungku lagi sambil ngelanjutin komen di fotonya Ochie, Sarah, Regina, dan Tatiana yang sok-sokan hormat di depan tiang bendera kampus.

Hahahaha. Kalo inget hal itu, Aku malu banget! Aku aja yang motret mereka malu, apalagi mereka ya?! Tapi herannya, mereka fine-fine aja tuh! Semua demi Facebook! Edan!

“Kamis gue gak bisa, gue harus main futsal. Lo mau ke Trax naik angkot?” tanya Tyo setengah mengancam.

“Ugh … Ya udah deh, Jum’at aja kalo gitu!” jawabku tanpa pikir panjang.

“Lho? Terus latihan dance kita gimana?” tanya Regina sewot.
“Girls, hari Jum’at ini gue absen dulu ya. Nanti gue latihannya di rumah Tiana aja. Sabtu lo gak kemana-mana kan, Na?” Aku menoleh ke arah Tiana yang duduk di sebelahku.
“Nope.” Tiana menggeleng sambil tetap chatting sama Tian over YM. Nasib LDR. Hehehe.

“Okay then. Jum’at ya. Bye, girls.” Tyo pun meningalkan meja kita.
“Bye, Tyo …” balasku dan teman-temanku.

“Eh, hari Kamis ini Reza main futsal lho. Nonton ya.” Regina merajuk.
“Dia satu tim sama Tyo ya, Gin?” tanya Sarah sambil tetap menggambar di Drawing Book-nya.

Dia lagi gambar cewek dengan sayap angel, tapi sayapnya warna hitam, dan berlutut menghadap bulan purnama.

“Yup!” jawab Regina singkat sambil memakaikan face paper Clean & Clear di wajahnya.

* * * * *

Kamis ini Aku dan teman-teman lainnya nemenin Regina buat nonton futsal. Regina bilang dya udah janji sama Reza buat nontonin Reza main futsal dan jadi saksi kalo tim futsalnya dia memenangkan pertandingan futsal hari ini.

Regina sama Reza udah temenan dari SMA, kita semua kagum sama persahabatan mereka. Secara ya, persahabatan antara cewek dan cowok tuh biasanya gak pernah berhasil. Tapi mereka bisa ngebuktiin kalo cewek dan cowok itu bisa sahabatan tanpa harus pacaran.

Hari ini Tyo keliatan beda dari Tyo yang biasa Aku liat. Tyo yang selalu rapi dengan kemeja lengan pendek atau lengan panjang tapi digulung atau Tyo yang keren dengan polo shirt ber-merk. Tyo yang sekarang cuma pake kaos putih polos, celana pendek di bawah lutut, dan sepatu bola warna biru strip merah.

Rambut Tyo yang juga selalu rapih sekarang keliatan agak lepek karena keringetan. Tapi yang lucunya, muka Tyo jadi merah karena kecapekan. Cute-nya. Oops!

“Ayo, Reza …” Regina gak henti-hentinya jejeritan, Ochie juga gak mau kalah nyemangatin Reza CS dan … GOL!!

Sang Jagoan pun mencetak gol lagi dibarengi dengan bunyi peluit dari wasit, tanda pertandingan telah selesai. Sang Jagoan, timnya Reza, Tyo, Joe, Irvan, Ray, dan lainnya memenangkan pertandingan kali ini.

“Yaaaayyyy!! Makan-makan!!” Ochie bersorak-sorak sambil menuangkan air putih yang ada di botol ke atas kepala anak-anak Sang Jagoan. Nama tim futsal yang norak ya? Hehehe.

“Lo semua pada mau makan di mana? Kita yang traktir!” tanya Joe sambil melepaskan bajunya.
“Iya, kita tau Joe perut lo six pack, gak perlu pamer gitu!” Ochie melemparkan handuk putih ke arah Joe dan Joe pun ngakak.

Anak-anak pada ribut buat nentuin mau makan di mana sementara Aku melihat jam tanganku. Udah jam setengah 4, Aku harus pulang. Aku udah janji mau ngajarin temen Aku, Yuli, anak Akun yang kuliah di YAI, mata kuliah Akuntansi Manajemen. Besok dia ada kuis dan dia belum ngerti pelajarannya sama sekali. It’s gonna be hard, I’m telling you.

“Guys, gue pulang duluan ya. Gue janji mau ngajarin temen gue mata kuliah AM.” Aku memakai tasku dan bersiap-siap pulang.

“Lho? Tasha gak ikut? Tasha pulang sama siapa?” Tiana yang tampak khawatir mendekatiku.
“Gak, Say Gue pulang aja. Gue berani pulang sendiri kok.” Aku tersenyum.

“Mau gue anterin gak, Sha?”

Suasana jadi hening. Tyo, musuh bebuyutanku, menawarkanku tumpangan pulang di depan anak-anak. What is it? Public humiliation? Great!

“Gak usah, Yo. Makasih. Gue pulang sendiri aja. Masih sore ini.” Aku berusaha menolak tawaran Tyo se-cool mungkin.
“Beneran, Sha? Soalnya gue juga sekalian mau pulang. Gue lagi capek banget, gak kuat deh kalo harus nge-hedon lagi sama anak-anak.” Sambil nyengir, Tyo bergegas merapikan barang-barangnya dan menghampiriku.

Sementara anak-anak yang lain pada sok-sok sibuk nentuin mau makan-makan di mana. Padahal Aku bisa ngerasa mereka curi-curi pandang ke arah Aku dan Tyo. Regina malah dengan ekstrimnya nyubit-nyubitin lengannya Reza karena ngerasa scene Aku dan Tyo ‘cute’.

“Yeah, right! Cute!’ pikirku sinis.
“Yuk, Sha. Guys, gue balik duluan ya. Have fun!” Tyo pamit sambil melambaikan tangan kanannya. Tangan kirinya memeganga tas olah raga berisi peralatan futsalnya.

“Dah semua …” Aku menyusul Tyo dan melambaikan tanganku ke teman-teman.
“Hati-hati!” Tatiana setengah teriak, kemudian menutup mulutnya, dan melihat ke arahku dengan tatapan malu-malu.

Tyo, Tyo … Mau bikin gosip kalo di antara kita ada apa-apanya? Hah! In your dream!

This is Tasha : CHAPTER 2

Hari Senin pun datang juga. Aku menyisir rambut sebahuku dan menyemprotkan cologne Victoria’s Secret-ku yang wanginya Aku sesuaikan dengan wangi Victoria’s Secret body lotion-ku, Forever Romance. I look so casually chic today. As usual. Hehehe.

Pagi ini Aku mengenakan kemeja girly putih dari The Executive, skinny jeans Dust, low heels, dan tas Louis Vuitton KW1 yang Aku beli di ITC Kuningan sama Regina sebulan yang lalu.

Penampilan yang oke ngebuat mood Aku jadi oke juga. Gak tau sih ngaruh apa gaknya, but it works on me. Hehehe.

Dandanan? Checked! Books? Checked! Map? Checked! Semuanya udah siap deh pokoknya. Off to campus now!

* * * * *

“Joe … Joe …” Aku berusaha mengejar Joe yang lagi jalan sambil sibuk masukin uang yang baru aja diambilnya di ATM BRI di Gedung A.
“Yo, what’s up, Angel?” Joe berbalik dan tersenyum sumringah begitu mengetahui bahwa Aku yang memanggilnya.

“D’oh! Playboy!” I roll my eyes.
“Hahaha. Kenapa, Sha?” tanya Joe sambil memasukkan dompetnya di saku belakangnya.

“Liat Tyo?”
“Tyo? Si ganteng maksud lo?” tiba-tiba Tyo dateng dan langsung menginterupsi pembicaraanku dengan Joe. Joe hanya ketawa melihat sahabatnya (atau pasangan hombrengnya) itu datang.

“Whatever!” Aku menjawabnya acuh tak acuh.
“Sha, jangan jutek-jutek napa? Muka lo tuh cantik, kalo lo jutek terus, mana ada cowok yang mau sama lo?” Tyo meledekku dan Joe langsung ketawa ngakak. As if it’s a joke!

“Seriously, Guys it’s still early and you’ve already made jokes on me!” jawabku jutek sambil menolak tangan kananku ke pinggang.
“Kidding!” Tyo langsung menaruh tangannya di kedua pipiku dan memaksaku untuk menyunggingkan sebuah senyumnya.

“See? You look more beautiful when you smile.” Tyo tersenyum, Aku pun melepaskan tangannya dengan tangan kananku. Tangan kiriku terlalu sibuk memegang buku dan map.
“Dude, gue ke koperasi dulu ya. Mau beli lemper buat di kelas. Hahaha.” Joe menepuk bahu Tyo dan pergi meninggalkan kami.

Dasar raksasa! Yang ada di otaknya cuma makan, tidur, nge-band sama pacaran! Heran, kenapa IPK-nya bisa bagus! Setahu Aku dia gak pernah belajar.

“So? Kenapa tadi nyariin gue?” Tyo membenarkan posisi ranselnya.
“Hari ini ada rapat FEUI CUP di basement, jangan sampe gak dateng lho!” Aku membagikan undangan rapat yang diberikan Bayu pagi ini. Pas Aku baru aja turun dari BiKun (Bis Kuning : sarana transportasi untuk mahasiswa-mahasiswa UI untuk mengelilingi kampus)!!

“Oke, thanx ya, Sha.” Tyo tersenyum padaku. Bener-bener boyish nih anak.
“See you around!” Aku pun pergi meninggalkan Tyo.

* * * * *

Rapat FEUI CUP selesai pukul 7 malem. Udah gelap banget. Kalo gini ceritanya, pengen rasanya Aku nginep di rumah salah satu temenku yang nge-kost di deket kampus. Agak males juga pulang naik kereta malem-malem gini. Tiana pulang bawa mobil sendiri. Regina pulang bareng Reza, temen deketnya dari SMA, atau gak sama gebetannya, Ramon, si anak Teknik Mesin.

Biasanya sih Aku pulang bareng Sarah dan Ochie. Kita sama-sama pulang naik kereta api tut-tut-tut. Tapi mereka udah pulang dari jam 3 tadi. Mereka gak ikut kepanitiaan FEUI CUP.

“Woy, malem-malem bengong! Kesambet baru tau rasa lho!” Tyo si rese membuyarkan lamunanku.
“Gue baru aja kesambet! Sama lo!” jawabku asal sambil merapikan kertas-kertas yang berserakan di lantai.

“Hahahaha. Bisa aja lo! Eh, pulang sama siapa?” tanya Tyo sambil membantuku merapikan kertas-kertas dan memasukkannya ke dalam map pink-ku.
“Gak tau. Pulang sendiri kali.” Aku melihat ke arah luar. Bener-bener gelap, kayak udah jam 9 malem.

“Udah gila ya lo mau pulang sendiri naik kereta? Udah malem tau!” Tyo ikut-ikutan berdiri ketika Aku berdiri dan menggenggam map-ku dengan tangan kiriku.
“Mau digimanain lagi, Yo? Lagian gue udah gede kali, gue berani kok pulang sendiri.” Aku tersenyum untuk meyakinkan Tyo bahwa Aku bukan perempuan cemen, yang takut pulang malem sendirian. I’m a tough girl!

“Pulang bareng gue aja, gue anterin lo sampe rumah.” Tyo tersenyum.
“Aduh, makasih banyak deh, Yo tapi gue takut ngerepotin.”
“Ya elah, gak apa-apa kali. Santai aja. Yuk!” Tyo mengajakku ke arah parkiran mobil. Untung Tyo memarkirkan mobilnya di depan KAFE, jadinya Aku gak perlu capek-capek jalan jauh.

* * * * *

Tyo memutar CD-nya Boys Like Girls. Aliran musik mereka tergolong Pop Rock, jadinya Aku masih kuat ngedengernya. Hehehe.

Gak tau kenapa, tiba-tiba Aku ingin menanyakan sesuatu hal yang personal kepada Tyo. Mungkin udara yang dingin, jalanan yang senggang, dan langit yang gelap karena mendung, mendorong Aku untuk bertanya hal ini ke Tyo.

“Yo, kenapa sih sampe sekarang lo masih jomblo juga? Lo kan ganteng, banyak kok cewek-cewek yang naksir sama lo.” Aku melihat ke arah Tyo yang tersenyum.
“Soalnya di antara cewek-cewek yang naksir gue itu gak ada yang kayak lo, Sha. Hahaha.” Jawab Tyo santai sambil ketawa terbahak-bahak.
“Noraaaakkkk!!!” Aku pun mencubiti lengan Tyo yang malam ini sebenernya terlihat keren dengan polo shirt hitam-nya.

Walau pun udah malem, tapi wangi parfum Hugo Boss-nya Tyo masih tercium juga. Sayang, semuanya itu gak ada apa-apanya kalo dibandingin sama kejahilan Tyo ke Aku!

* * * * *

Akhirnya sampe juga di depan rumahku. Aku dan Tyo sama-sama melepaskan seat belt kami.

“Yo, makasih banyak ya.” Aku tersenyum dan siap-siap turun dari mobil.
“Sama-sama, Sha.” Tyo tersenyum.

“Eh iya, yang gue bilang tadi itu gak bercanda lho.” Setelah Aku turun, Tyo yang berdiri di samping mobilnya, berkata demikian sambil nyengir.

“Bye, Sha.” Tyo menutup pintu mobilnya.
“Bye, Yo …” Aku cuma bisa bengong sambil melihat mobil Tyo meninggalkan rumahku.

Wednesday, June 17, 2009

This is Tasha : CHAPTER 1

Halo, namaku Natasha Verdhana but you can simply call me Tasha and this is a story about me. You think you know about me, but you have no idea. Tee-hee-hee.

Tiana adalah salah satu sahabat terdekatku, semenjak pacarnya, Tian, pindah ke Jerman, Aku jadi rajin nginep di rumahnya Tiana. Selain buat nemenin Tiana, Aku nginep di sana juga buat dengerin semua curhatannya. Yang rata-rata diakhiri dengan tangisan. Huhu, jadi sedih kalau udah ngeliat Tiana nangis.

Nginep di rumah Tiana hampir tiap weekend sih gak masalah buatku, secara rumah Aku sama Tiana gak jauh-jauh amat. Rumah Aku di bilangan Otista, Jakarta Timur sedangkan rumah Tiana di Kemang Pratama, Bekasi.

Minggu sore ini Tiana gak bisa nganterin Aku pulang ke rumah karena dia harus ngukur kebaya sama Bunda-nya di Bestari, Caman. Terpaksa Aku pulang sama Tyo, kakaknya Tiana yang super rese.

“Sorry ya, Yo gue jadi ngerepotin.” Ucapku sambil memasang seat belt.
“Ya elah, kapan sih lo gak ngerepotin gue?! Hahaha.”
“Rese!”

Selama perjalanan, Tyo gak henti-hentinya gangguin Aku. Mulai dari nyuruh Aku turun dan gabung sama sapi-sapi yang dibawa sama truk di jalan tol sampai disuruh nyanyi lagu Indonesia Raya kalau Aku gak mau diturunin di tengah jalan. Gila kan?

Tyo emang gila dan nyebelin. Aku sampai kapan pun gak bisa akur sama dia. Kita ibarat minyak dan air, gak pernah bersatu. Hehehe. Gaya banget ya pake perumpaan segala?!

Sebenernya kalau dilihat-lihat sih, muka Tyo mirip kayak Zacky Vengeance-nya Avenged Sevenfold. Mukanya yang putih bersih dan dandannya yang rapih bikin banyak cewek tergila-gila sama dia. Cuma Tyo itu makhluk yang super cuek sejagat. Gak heran sampe sekarang dia masih jomblo!

“Makasih ya, Yo. Mau mampir dulu gak?” Tanyaku basa-basi. Aku berdiri di pintu pagar, siap-siap masuk.
“Makasih deh, Sha. Gue mainnya malam minggu aja, boleh gak?” Tanya Tyo dengan senyum boyish-nya.
“Eww!!” Aku pun masuk dan menutup pintu pagar. Dapat kulihat Tyo dari sela-sela pagar. Dia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali masuk ke mobilnya.

* * * * *

From : Tiana – Besties
Message : Cinta, kamu udah sampe rumah belum? Mas Tyo gimana nyetirnya? Ngebut gak? Maaf ya Aku gak bisa nganterin kamu pulang (>.<) Wah, Tiana nanya apa interogasi nih? Pertanyaannya panjang aja. Hahaha. Sambil mengeringkan rambutku dengan handuk, Aku menarik kursi di meja riasku, lalu mulai membalas SMS dari Tiana. To : Tiana – Besties Message : Udah nyampe rumah dari sejam yang lalu, Say. Tenang aja, tadi Tyo nyetirnya gak ngebut kok. Makasih ya :) Sent. Aku pun lanjut mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Ugh, masih harus ngerjain PR, mana besok ada kuis pula. Males banget deh. Kayaknya lebih enak tidur. Oh iya, mana besok ada rapat FEUI CUP lagi. Bakalan sibuk banget deh kayaknya. I hate Mondays!