Thursday, June 25, 2009

This is Tasha : CHAPTER 5

Di Jum’at siang yang mendung ini, Aku dan Tyo lagi ada di Trax FM, menyerahkan proposal FEUI CUP untuk minta Trax FM mempublikasikan acara kami yang bakal diadain sebulan lagi

Aku hari ini pake knee-length-dress biru muda, cardigan biru tua, dan closed-toed-flats warna biru tua juga. Tyo bilang, hari ini Aku tampak fresh, persis kayak kolam renang berjalan. Ugh, hate him! I’m more to sophisticated, Dude!

Kenapa juga kita harus sama-sama jadi anak Publikasi sih? Harus berdua-duaan sama Tyo tuh cuma nambah-nambahin dosa aja. Bawaannya pengen ngomel terus!

Tyo hari ini pake kemeja lengan panjang (lengannya digulung) warna putih motif garis-garis vertikal (yang ngebuat Tyo jadi keliatan makin tinggi) dengan merk Jail Body Inside yang tertera di kantong kemejanya.

Gak sedikit cewek-cewek yang ngeliatin Tyo pas kita makan di McD Sarinah. Tapi Sang Objek dengan cueknya tetep melahap Triple Cheese Burger-nya.

“Sha, nanti temenin gue ke studio bentar ya.” Sambil makanin kentang satu-satu, Tyo memintaku menemaninya ke studio.
“Aduh, Yo gue gak bisa, gue mau ngerjain paper. Belum kelar-kelar. Seminggu lagi dikumpulin.” Aku menolak permintaan Tyo.

“Ngajak kok ke studio? Ke toko buku kayaknya lebih asyik.” Pikirku dalam hati sambil menyeruput Lemon Tea-ku.

“Ya elah, bentar doank, Sha. Gue mau ngambil gitar listrik Ade gue, dya mau nge-band sama temen-temennya.” Tyo menatapku setengah memohon.
“Plis deh, Yo lo kalo mau ke studio kan bisa abis nganterin gue pulang.” Jawabku cuek.

“Ya udah deh. Balik yuk, udah jam segini nih. Gue takut macet.” Tyo membersihkan mulutnya dengan tissue kemudian berdiri dari karsi, Aku pun melakukan hal yang sama, dan kita pun pulang.

* * * * *

“Lho? Kok kita di sini, Yo? Emang kita mau ke mana?” tanyaku panik.
“Ke studio bentar. Oke?” Tyo mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jahil.

Di saat yang sama Aku pun langsung mencak-mencak, ngedumel, karena Tyo dengan semena-mena ngerubah jadwal yang udah Aku susun. Aku gak suka!

Tyo pun memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah berbentuk minimalis, terdapat plang di sebelah tiang listrik bertuliskan : “Ivan’s Band Studio”. Iya, Aku tau ini rumahnya Ivan, Aku pernah ke sini sekali, waktu nemenin Tiana yang pengen ketemu Tian.

“Gue turun bentar ya, Sha. 5 menit doang kok.” Tyo tersenyum padaku –well, lebih terkesan nyengir sih daripada senyum—kemudian turun dari mobil.

Aku yang emang udah kesel sama kelakuannya dia yang seenak jidat, lebih milih diem.

20 menit berlalu, Tyo belum dateng-dateng juga. Kemudian pada menit berikutnya Tyo datang.

Dia membuka pintu belakang dan menaruh gitarnya di kursi belakang. Kemudian membuka pintu depan, duduk di bangku kemudi, dan bilang …

“Sha, sori lama, tadi gue …”

“Lo tuh gimana sih? Lo kan janjinya cuma 5 menit? Lo udah ninggalin gue di sini berapa lama, Yo? Gue kepanasan tau nunggu sendirian di mobil! Gue tuh paling gak suka kalo schedule yang gue bikin berantakan! Lo tuh harusnya …”

Cup!

Tyo mendaratkan subtle-kiss-that-no-one-sees-nya ke bibirku yang saat itu mengenakan lipgloss dari Revlon dengan Very Cherry Flavor.

Aku pun terdiam, menatap ke arah Tyo dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan padaku.

“I think I’ve found a way how to make you shut your cherry favor lips up.” Tyo tersenyum manis sekali saat itu, kemudian dia memasang seat belt dan menyalakan mobilnya.

Aku hanya diam terpaku, Aku yakin mukaku memerah saat itu. Aku merapatkan bibirku, kemudian mengalihkan pandanganku ke arah jendela.

Saat itu hujan turun rintik-rintik membasahi jendela mobil Baleno X-Over Tyo. Udara terasa sangat dingin. Terlebih lagi semenjak “kejadian” itu, Aku dan Tyo sama sekali tidak berbicara. Suasana yang dingin ini membuat udara yang dingin ini menjadi semakin dingin.

“Tyo? Bramantyo Notosudiro? Musuh bebuyutanku? Menciumku? This is insane!” pikirku dalam hati. Jantungku berdetak semakin cepat kala mengingat hal itu.

“Sha, mau turun apa mau ikut gue pulang ke rumah?” Tyo menghentikan laju mobilnya, kemudian tersenyum jahil ke arahku.
“Hah? Oh, iya iya …” Aku segera bergegas begitu menyadari bahwa sekarang kami sudah ada di depan rumahku.

“Seat belt-nya dicopot dulu, Sha. Nanti mobil gue kebawa sampe rumah lo lagi. Hehehe.”
“Ya ampun …” Karena panik, Aku pun mencoba melepaskan seat belt-ku. Stuck. “Aduh, kok malah stuck begini sih? Aku pengen cepet-cepet turun!” pikirku dalam hati.

“Let me …” Tyo memegang tanganku, kemudian melepaskan seat belt-ku.
“Thank you.” Aku tersenyum seadanya, kemudian segera turun dari mobil Tyo dan masuk ke dalam rumah, tanpa pamit terlebih dahulu.

Gosh, what’s happening to me? My heart beats so fast like it wants to jump out. And his kiss … His kiss tasted so sweet. I can still remember the smell of his parfum. He smells good. As always. Seriously, he’s really driving me crazy!

No comments:

Post a Comment