Sunday, June 21, 2009

This is Tasha : CHAPTER 2

Hari Senin pun datang juga. Aku menyisir rambut sebahuku dan menyemprotkan cologne Victoria’s Secret-ku yang wanginya Aku sesuaikan dengan wangi Victoria’s Secret body lotion-ku, Forever Romance. I look so casually chic today. As usual. Hehehe.

Pagi ini Aku mengenakan kemeja girly putih dari The Executive, skinny jeans Dust, low heels, dan tas Louis Vuitton KW1 yang Aku beli di ITC Kuningan sama Regina sebulan yang lalu.

Penampilan yang oke ngebuat mood Aku jadi oke juga. Gak tau sih ngaruh apa gaknya, but it works on me. Hehehe.

Dandanan? Checked! Books? Checked! Map? Checked! Semuanya udah siap deh pokoknya. Off to campus now!

* * * * *

“Joe … Joe …” Aku berusaha mengejar Joe yang lagi jalan sambil sibuk masukin uang yang baru aja diambilnya di ATM BRI di Gedung A.
“Yo, what’s up, Angel?” Joe berbalik dan tersenyum sumringah begitu mengetahui bahwa Aku yang memanggilnya.

“D’oh! Playboy!” I roll my eyes.
“Hahaha. Kenapa, Sha?” tanya Joe sambil memasukkan dompetnya di saku belakangnya.

“Liat Tyo?”
“Tyo? Si ganteng maksud lo?” tiba-tiba Tyo dateng dan langsung menginterupsi pembicaraanku dengan Joe. Joe hanya ketawa melihat sahabatnya (atau pasangan hombrengnya) itu datang.

“Whatever!” Aku menjawabnya acuh tak acuh.
“Sha, jangan jutek-jutek napa? Muka lo tuh cantik, kalo lo jutek terus, mana ada cowok yang mau sama lo?” Tyo meledekku dan Joe langsung ketawa ngakak. As if it’s a joke!

“Seriously, Guys it’s still early and you’ve already made jokes on me!” jawabku jutek sambil menolak tangan kananku ke pinggang.
“Kidding!” Tyo langsung menaruh tangannya di kedua pipiku dan memaksaku untuk menyunggingkan sebuah senyumnya.

“See? You look more beautiful when you smile.” Tyo tersenyum, Aku pun melepaskan tangannya dengan tangan kananku. Tangan kiriku terlalu sibuk memegang buku dan map.
“Dude, gue ke koperasi dulu ya. Mau beli lemper buat di kelas. Hahaha.” Joe menepuk bahu Tyo dan pergi meninggalkan kami.

Dasar raksasa! Yang ada di otaknya cuma makan, tidur, nge-band sama pacaran! Heran, kenapa IPK-nya bisa bagus! Setahu Aku dia gak pernah belajar.

“So? Kenapa tadi nyariin gue?” Tyo membenarkan posisi ranselnya.
“Hari ini ada rapat FEUI CUP di basement, jangan sampe gak dateng lho!” Aku membagikan undangan rapat yang diberikan Bayu pagi ini. Pas Aku baru aja turun dari BiKun (Bis Kuning : sarana transportasi untuk mahasiswa-mahasiswa UI untuk mengelilingi kampus)!!

“Oke, thanx ya, Sha.” Tyo tersenyum padaku. Bener-bener boyish nih anak.
“See you around!” Aku pun pergi meninggalkan Tyo.

* * * * *

Rapat FEUI CUP selesai pukul 7 malem. Udah gelap banget. Kalo gini ceritanya, pengen rasanya Aku nginep di rumah salah satu temenku yang nge-kost di deket kampus. Agak males juga pulang naik kereta malem-malem gini. Tiana pulang bawa mobil sendiri. Regina pulang bareng Reza, temen deketnya dari SMA, atau gak sama gebetannya, Ramon, si anak Teknik Mesin.

Biasanya sih Aku pulang bareng Sarah dan Ochie. Kita sama-sama pulang naik kereta api tut-tut-tut. Tapi mereka udah pulang dari jam 3 tadi. Mereka gak ikut kepanitiaan FEUI CUP.

“Woy, malem-malem bengong! Kesambet baru tau rasa lho!” Tyo si rese membuyarkan lamunanku.
“Gue baru aja kesambet! Sama lo!” jawabku asal sambil merapikan kertas-kertas yang berserakan di lantai.

“Hahahaha. Bisa aja lo! Eh, pulang sama siapa?” tanya Tyo sambil membantuku merapikan kertas-kertas dan memasukkannya ke dalam map pink-ku.
“Gak tau. Pulang sendiri kali.” Aku melihat ke arah luar. Bener-bener gelap, kayak udah jam 9 malem.

“Udah gila ya lo mau pulang sendiri naik kereta? Udah malem tau!” Tyo ikut-ikutan berdiri ketika Aku berdiri dan menggenggam map-ku dengan tangan kiriku.
“Mau digimanain lagi, Yo? Lagian gue udah gede kali, gue berani kok pulang sendiri.” Aku tersenyum untuk meyakinkan Tyo bahwa Aku bukan perempuan cemen, yang takut pulang malem sendirian. I’m a tough girl!

“Pulang bareng gue aja, gue anterin lo sampe rumah.” Tyo tersenyum.
“Aduh, makasih banyak deh, Yo tapi gue takut ngerepotin.”
“Ya elah, gak apa-apa kali. Santai aja. Yuk!” Tyo mengajakku ke arah parkiran mobil. Untung Tyo memarkirkan mobilnya di depan KAFE, jadinya Aku gak perlu capek-capek jalan jauh.

* * * * *

Tyo memutar CD-nya Boys Like Girls. Aliran musik mereka tergolong Pop Rock, jadinya Aku masih kuat ngedengernya. Hehehe.

Gak tau kenapa, tiba-tiba Aku ingin menanyakan sesuatu hal yang personal kepada Tyo. Mungkin udara yang dingin, jalanan yang senggang, dan langit yang gelap karena mendung, mendorong Aku untuk bertanya hal ini ke Tyo.

“Yo, kenapa sih sampe sekarang lo masih jomblo juga? Lo kan ganteng, banyak kok cewek-cewek yang naksir sama lo.” Aku melihat ke arah Tyo yang tersenyum.
“Soalnya di antara cewek-cewek yang naksir gue itu gak ada yang kayak lo, Sha. Hahaha.” Jawab Tyo santai sambil ketawa terbahak-bahak.
“Noraaaakkkk!!!” Aku pun mencubiti lengan Tyo yang malam ini sebenernya terlihat keren dengan polo shirt hitam-nya.

Walau pun udah malem, tapi wangi parfum Hugo Boss-nya Tyo masih tercium juga. Sayang, semuanya itu gak ada apa-apanya kalo dibandingin sama kejahilan Tyo ke Aku!

* * * * *

Akhirnya sampe juga di depan rumahku. Aku dan Tyo sama-sama melepaskan seat belt kami.

“Yo, makasih banyak ya.” Aku tersenyum dan siap-siap turun dari mobil.
“Sama-sama, Sha.” Tyo tersenyum.

“Eh iya, yang gue bilang tadi itu gak bercanda lho.” Setelah Aku turun, Tyo yang berdiri di samping mobilnya, berkata demikian sambil nyengir.

“Bye, Sha.” Tyo menutup pintu mobilnya.
“Bye, Yo …” Aku cuma bisa bengong sambil melihat mobil Tyo meninggalkan rumahku.

No comments:

Post a Comment