Sunday, June 7, 2009

Tatiana's Diary : PART 5

Minggu kedua kuliah. Dosen-dosen yang baik hati itu mulai memberikan segala macam tugas-tugas perkuliahan. Ada yang dikumpulin pas UTS (Ujian Tengah Semester), ada juga yang dikumpulin secara berkala (misalnya seminggu sekali). Bener-bener baik kan? Huhuhu.

Semenjak nganterin Aku pulang ke rumah Sabtu kemarin, Aku sama Tian jadi sering SMS-an. Hihihi. Maybe it’s too fast to jump into a conclusion, but I guess I know where this leads.

Hari ini Mas Tyo kuliah siang, kemarin malem, Tian nawarin Aku berangkat bareng. Another chance to be alone with him.

“Guten morgen, Tiana.” Tian tersenyum saat Aku membuka pintu rumahku.
“Guten morgen, Tian.” Aku tersenyum.

“Should we go now?” tanya Tian.
“Yuk!” Aku menutup pintu.

“Eh, gak pamit sama Bokap Nyokap lo dulu?” Tian belum beranjak dari tempatnya berdiri tadi.
“Ayah, Bunda, sama Adi udah berangkat dari tadi. Mas Tyo abis sholat Subuh lanjut tidur lagi. Semaleman begadang main Dynasty Warriors 6.” jelasku, Tian pun tertawa kecil.

Tian membukakan pintu mobilnya untukku. Sweet banget ya?! Hihi. Di dalam mobil, kami sama-sama memasang seat belt. Bagiku, pake seat belt bukan hanya karena Aku takut ditilang atau apa, tapi demi keselamatan.

“Bismillah …” Tian pun menyalakan mesin mobil, menginjak kopling, memasukkan persneling, perlahan melepaskan kakinya dari pedal kopling, dan mulai menginjak gas.

Hari ini Tian ganteng banget deh. Dia pake Polo shirt biru tua, black jeans, sepatu Airwalk putih, dan jam tangan Guess. Wangi parfum Tian juga seger banget. Bikin betah deket-deket sama dia. Hehehe.

Sedangkan Aku pake camisole pink muda, bolero pink tua, skinny jeans Logo, sepatu flat Zara, tas cewek Zara, dan jam tanganku pagi itu kebetulan Guess juga. Bersyukur Aku punya rambut lurus, jadi Aku gak perlu repot-repot nyatok, cukup di-blow sebentar, rambut Aku udah well done. Hehehe.

Ngomong-ngomong soal rambut, Aku jadi keinget sama poniku. Fiuh … Untung roll-nya udah Aku copot. Gila aja kalau Aku ketemu Tian masih pake roll poni. Untuk dandanan sih Aku biasa aja, cuma pake mascara dari Maybelline biar mata Aku terlihat segar, lipstick warna Nudie Mocha (juga) dari Maybelline, dan bedak warna Sand Beige dari Caring. Simple kan? Kalau parfum sih andalan Aku ya Just Me-nya Paris Hilton. Abis wanginya enak banget!

Perjalanan pagi ini diiringi sama CD-nya Maroon 5. Bener-bener bikin mood bagus banget deh. Tapi sebenernya gak ada alasan buat bad mood juga secara pagi-pagi Aku udah bisa berduaan sama Tian. Hehehe.

“Rocker bisa juga dengerin Maroon 5?” Aku melirik Tian, lirikan ngeledek lebih tepatnya.
“Sebenernya sih ini CD-nya Kakak gue, gue kan mau menyesuaikan sama selera penumpang.” Tian melirik Aku sesaat, tersenyum, kemudian kembali fokus melihat jalanan.

“Hey hey you you I want to be your girlfriend …” Sony Ericsson C902i-ku berdering. Eh tau gak? HP-ku punya nama lho! Namanya Summer. Cute ya?! Hihi. Oops, sampe lupa. Mas Tyo calling …

“Halo?!” Aku menjawab setelah Aku menekan tombol Answer.
“Tiana, di mana lo?” terdengar suara Mas Tyo dari seberang sana.

“Aku lagi di jalan, Mas. Kenapa?”
“Mobil lo masih ada di rumah. Berangkat sama siapa?”

Duh, gimana ya? Apa Aku harus bohong? Apa Aku harus jujur? Kalau Aku bohong, Aku dosa tapi kalau Aku jujur, Aku bilang Aku dijemput sama Tian, yang ada Aku dituduh yang gak-gak sama Mas Tyo.

Tapi kalau Aku bohong pun, let’s say sekarang Aku berangkat sama Regina yang rumahnya di Jaka Sampurna alias deket juga sama rumahku, berarti nanti Aku harus nyuruh Regina bohong sama Mas Tyo kalau pagi ini Aku berangkat sama dia.

Lagian Regina kan gak tau kalau Aku naksir sama Tian dan kayaknya Tian juga begitu. Well, Aku bilang kayaknya lho ya, belum pasti juga. Duuuhhh, Aku jadi pusing!!

“Tiana? Are you there?” Mas Tyo menegaskan.
“Eh iya, Mas Aku berangkatnya sama Tian. Dia juga ada kuliah pagi.” Aku berusaha se-cool mungkin. Tian melihat ke arahku beberapa detik karena namanya Aku sebut.

“Oh sama Tian. Bagus deh. Minta dianterin pulang sekalian ya? Kelas gue batal, Cuy hari ini. Hahahaha.”
“Lho? Lho? Lho? Kok Mas Tyo malah nyantai gini? Emangnya dia gak curiga?” pikirku dalam hati. “Oh, gitu ya? Iya deh nanti Aku tanyain dia dulu. Ya udah gih mandi dulu sana, pasti Mas Tyo belum mandi deh. Baunya kecium sampe sini nih! Hehehe.” Aku berusaha menguasai suasana hatiku sendiri.

“Bawel lo ah. Yang penting gue tetep ganteng!”
“Wuih, PD!!” Aku menjawab cepat.

“Hahaha. Ya udah ah, abis nanti pulsa gue nelfon lo. Rugi! Salam buat Tian, bilang nyetirnya hati-hati. Bye.”
“Iya, Pak Mister. Bye.” Aku menutup telfonku sambil tersenyum.

“Tyo?” Tian melihat ke arahku yang sedang memasukkan HP-ku ke dalam tas.
“Iya, dia nanya gue berangkat ke kampus sama siapa. Gue bilang sama lo. Terus dia bilang, pulangnya gue juga disuruh bareng sama lo karena hari ini kelasnya dia dibatalin.”

“Mau pulang bareng juga?”
“Eh, gak usah. Ngerepotin. Gue pulang sore hari ini. Mau rapat dance juga.” Aku segera menolak tawaran Tian buat pulang bareng. Aku takut ngerepotin.

“Emang rapatnya jam berapa sampe jam berapa?”
“Belum tau. Mulainya aja baru jam 3. Belum lagi ngaretnya. Biasa lah anak-anak. Hehehe.” Aku berusaha tidak membalas tatapan Tian yang menunggu jawabanku. Takut pingsan. Hahahaha.

“Oh. Gue selesai kelas sih jam 2.” Tian kembali melihat ke arah jalan. Kayaknya dia lagi mikir sesuatu. Soalnya raut mukanya berubah. Jujur, Aku kecewa sih karena dia gak mau nungguin Aku. Tapi kenapa harus kecewa juga? Tian kan bukan siapa-siapa Aku.

“Tapi gue bisa nungguin lo sambil ngeliat anak-anak main futsal.” Tian melihat ke arahku, tersenyum manis.
“Eh, beneran nih gak apa-apa? Kalo gue sampe sore banget gimana?” Aku bener-bener ngerasa gak enak sekarang. Tapi kekecewaanku luntur sih. Hihihi.
“Gak apa-apa. Gue kan bisa nunggu di KAFE.” Tian mengubah persneling.

Tunggu, Aku mau ngejelasin sesuatu nih. KAFE itu stands for Kantin FE. Alias tempat makannya anak-anak FE. Kalau Kantek itu Kantin Teknik, Kancil itu Kantin Cikologi alias Psikologi. Rada maksa sih, hihihi. Well, cuma itu sedikit ilmu yang bisa Aku bagi pagi ini. Gak penting ya? Hahaha.

“Makasih banyak ya, Tian. Maaf gue jadi ngerepotin lo.” Gue melihat ke arah Tian sambil tersenyum.
“Gak apa-apa kali, santai aja.” Tian menatapku, tersenyum, tangan kirinya menyentuh tangan kananku.

Wait, did I just say that his left hand touched my right hand? Did I? Oh yes, I did! Saat itu Aku bener-bener freezing, I can’t think about anything, I can even hardly breath. Aku tau Aku super lebay secara Tian megang tangan Aku juga cuma seperduapuluh detik. Cuma tetep aja … TIAN MEGANG TANGAN AKU!!

+ + + + + +

“Jadi jadwal dance kita itu setiap hari Jum’at jam setengah satu ya, Girls. Thank you for coming.” Ochie yang kita tunjuk sebagai ketua dance mengakhiri rapat. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima, alhamdulillah Aku udah sholat Ashar tadi, jadi sekarang bisa langsung pulang sama Tian deh.

“Tiana, lo lagi PDKT sama Tian ya?” Tiba-tiba Regina mencolek lenganku. Aku bener-bener gak nyangka dia bakal nanya kayak gini.
“Hah? Tau dari mana lo? Dasar bigos!” Aku tertawa kecil berusaha menutupi kegugupanku.
“Abis tadi lo berangkat bareng sama dia, kemarin Sabtu juga pulang dianterin sama dia. Iya kan lo PDKT sama dia?” Regina mengedipkan matanya.
“Ngaco ah! Kebetulan aja rumah kita deketan kali.” Aku mencoba memberikan alasan yang masuk akal.
“Cinta tumbuh karena biasa lho, Say!” Sarah tiba-tiba sudah ada di sebelahku.
“Bisa aja lo!” Aku mencubit pelan lengan Sarah.
“Awww …” Sarah menahan sakit sambil tertawa.

“Tapi bukannya lo gak boleh naksir-naksiran sama temen se-band-nya Tyo ya? Klo naksir-naksiran aja udah gak boleh, apalagi pacaran?” raut wajah Tasha menunjukkan keseriusan terhadap apa yang baru aja dia ucapin.

Deg! “She’s totally right. Should I perish this feeling?” pikirku dalam hati. “Hahaha. Orang gak ada apa-apa, jadi ya santai aja.” Aku berusaha menutupi kegugupanku lagi.

“Kalo emang gak ada apa-apa, boleh donk gue yang PDKT sama Tian?” Regina tersenyum centil, namun Aku tahu dia tidak becanda, dia serius. Aku tau Regina suka sama Tian dari kali pertama mereka ketemu.

“Boleh aja.” lagi-lagi Aku berusaha menutupi kegugupanku. Tasha melihat ke arahku, penuh arti. Mungkin cuma Tasha yang tau apa yang Aku rasakan saat ini. Aku melihat ke arahnya dan tersenyum, senyuman ‘I’m okay, bestfriend. You don’t need to worry.’

Beep. Beep.

From : Tian FEUI
Message : Udah selesai rapatnya? :)

Aku pun langsung membalas.

To : Tian FEUI
Message : Udah. Gue ada di basement. Lo di mana? Biar gue yang ke tempat lo :)

Beberapa menit kemudian, Tian dateng ke basement. Gang dance-ku pun menyapanya satu per satu.

“Tian nyari siapa?” Regina berdiri menghampiri Tian.
“Nyari Tiana.” Tian tersenyum.
“Kok nyarinya Tiana sih? Sekali-sekali nyariin Regina donk.” Regina mendorong pelan bahu Tian. Tian hanya tertawa kecil.
“Makanya lo ngutang dulu sama Tian, baru nanti dia nyariin lo.” Ochie meledek Ragina.
“Siaul lo!” Regina cemberut.

“Yuk!” Aku berdiri menghampiri Tian. “Gue cabut duluan ya, Girls. Bye!” pamit ku.
“Duluan ya semua.” Tian pamit sambil memberikan senyum manisnya kepada teman-temanku. Sopan banget!

“Eh, eh … Tunggu!” Regina menarik tangan Tian. Tian pun membalikan badannya. Dia kaget banget kayaknya.

“Can I have your number, please?” Regina tersenyum centil, tangan kanannya sudah memegang HP. Teman-temanku yang lain pun bersorak-sorak. Muka Tian memerah. Aku hanya senyum, lagi-lagi senyuman untuk menutupi kegugupanku.
“Sure.” Tian berusaha tersenyum.

“Berapa?” Regina menekan angka-angka yang disebutkan Tian kemudian menyimpannya.
“Sip deh. Makasih ya, Tian. Later!” Regina kembali tersenyum centil dan berjalan menjauhi Aku dan Tian, Regina kembali pada teman-temanku dan mereka semua tertawa centil. Aku kembali melambaikan tanganku dan mereka membalas dengan memberikanku air kiss.

+ + + + + +

Di mobil Tian. Hening. Hujan. Lagu-lagu Michael Buble mengalun dari CD player mobilnya Tian. It should be romantic.

“Are you okay?” akhirnya Tian memecah keheningan, dia melihat ke arahku.
“I’m okay.” Aku menatap matanya sesaat, lalu memalingkan pandanganku ke arah jendela yang basah.

“If you’re okay, then why are we in this awkward silence?” Tian tersenyum. “Gosh, he can kill me with that irresistible smile!” pikirku dalam hati.
“I think I’m just a little bit unwell.” Aku berusaha tersenyum. “Ugh, Tian tau gak sih lo kalo gue jealous? Huh!” jeritku dalam hati. Iya, dalam hati aja, supaya dia gak denger.

Tian memegang keningku. “Mungkin lo kecapekan.” wajah Tian terlihat serius.

“Iya, gara-gara tugas kampus banyak banget kayaknya.” Aku berusaha tersenyum. Aku gugup.
“Iya nih, dosen-dosen kita sadis banget ya?” Tian tertawa kecil. Cute. “Eh, hari Sabtu malem ada acara gak?” Tian kembali melihat ke arahku.

“Kayaknya sih gak ada? Kenapa?”
“Mau nemenin gue ke Marotti CafĂ© gak? Band temen SMA gue manggung.”
“Sounds great.” Aku tersenyum lebar. Aku udah lupa kalo tadi Aku jealous karena Regina nanya nomor HP-nya Tian. Hihihi. Tapi tunggu deh, kenapa Aku harus jealous ya? Aku kan bukan siapa-siapanya Tian.

“Aliran musik mereka Japan Rock gitu. Bakalan banyak yang pake kostum, tapi kita sih gak perlu kayak gitu.” mata Tian tampak berbinar-binar. Mungkin dia seneng kali ya gue mau diajak ‘what-so-called-date’ sama dia. Ge-er mode : ON nih. Hahaha.

“Hahaha. Lagian gue juga gak punya kostum-kostum Jepang gitu kali.” Aku tertawa geli. Tapi sebenernya Aku lagi mikir, kalo aja Aku punya kostum Jepang gitu, what would I be ya? Sailormoon would fit on me. In my dream! Hahaha.

“Jadinya lo mau kan?”
“Iya, gue mau.” Aku tersenyum. “Ihiy! Another chance to be alone with him!” ingin rasanya Aku loncat-loncatan di trampoline saat mengucapkan kata-kata itu.

No comments:

Post a Comment