Malam ini, di studio band milik Ivan yang udah di-booked Tian selama dua jam ke depan, Tian memutuskan untuk candle light dinner sama Aku. Burger King sebagai menu kita malam ini dan lagu-lagu dari Secondhand Serenade terus mengalun dari iPod touch-nya Tian. Romantis ala anak band.
Aku yang malam ini mengenakan 1960’s England dress (geomatric print-slim-cowl neck), Mary Jane shoes, Baby Phat bag, dan jam tangan Alexandre Christie tampak serasi dengan Tian yang memakai kaos putih bergambarkan band Atreyu, blazer hitam yang kita beli di Endorse, Tebet Sabtu kemarin, black jeans, sepatu Vans bertali warna putih, dan jam tangan Guess kesayangan Tian.
Malam ini Aku berniat untuk menanyakan ke Tian tentang hubungan kita. What are we? A couple? So be it!
Setelah dinner, Aku dan Tian sama-sama duduk di sofa. Tian merangkul pundakku. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku berfikir keras, kapan waktu yang tepat untuk menanyakan tentang kejelasan hubungan Aku dan Tian.
“Tian?”
“Ya?”
Aku membenarkan posisi dudukku. Kini Aku duduk tegak, menghadap Tian. Mataku mencoba untuk menatap matanya. Tian tersenyum, merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Tangan kirinya menyentuh tangan kananku yang dingin.
I don’t know where to start …
“What’s wrong?” Tian menyeka poniku yang sedikit menutupi mataku.
“Tian, what are we?” tanyaku cepat. Aku terlalu gugup.
“Bestfriends?” kini wajah Tian tampak bingung dengan sudden question-ku.
“Bestfriends?” ulangku lagi. Tak percaya.
“Yeah, bestfriends.” Tian mencoba menggenggam tangan kananku lebih kuat lagi, namun Aku mencoba mengelak.
“Bestfriends don’t do this, Tian.” Aku menatapnya dengan tajam. Penuh ketidak percayaan.
“After all these things, we’re just bestfriends? What make you any different with my besties then, huh?” pertanyaanku kali ini benar-benar membuat Tian diam seribu bahasa. Entah kenapa Aku jadi begitu emosional malam ini.
“Look …” Tian akhirnya membuka suara. “I so want you to be my girlfriend …”
Belum selesai Tian menyelesaikan kalimat itu, Aku langsung memotongnya, “Then all you have to do is ask!”
I know, I look like a darn beggar now. But I don’t care.
“Listen …” Tian memegang kedua pipiku, tangannya dingin, tatapan matanya begitu tajam. “There’s a reason why I never asked you to be my girlfriend.”
Aku tidak berkata apa-apa. Karena Aku juga tidak tahu Aku harus berkata apa.
“By the end of semester, my family and I are moving to Germany. We’ll be living there for about three years. You know that my Dad is a Diplomat. This is a price I should pay.” Tian tampak tenang mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang dapat membuat a spoiled Princess seperti Aku menitikkan air mata. Tapi Aku dapat menahannya.
“I want to stay, but Mom wants me to continue my study there, in Germany. She knows what’s best for me.” Seperti bisa membaca pikiranku yang memintanya untuk stay, Tian kembali mengucapkan kata-kata yang terdengar begitu menyakitkan bagiku.
“It’s okay, Tian. I’ll be just fine.” Aku mencoba tersenyum tulus, membohongi perasaanku sendiri yang saat ini sangat ingin menangis. Kenapa? Di saat Aku menemukan seseorang yang tampak sempurna seperti Tian, seseorang itu harus meninggalkanku jauh?
Untuk pertama kalinya, Tian mencium bibirku, Aku membalasnya, dan air mataku pun menetes.
“I swear it’s true, because a girl like you is impossible to find. You're impossible to find …” alunan lirik Fall For You-nya Secondhand Serenade, mengingatkanku pada kejadian dua bulan lalu, di mana Tian mengucapkan kalimat yang kurang lebih sama, sebelum ia mengecup keningku dan memberiku seribu pengharapan.
“Bestfriends don’t kiss, Tian.” Tian pun tertawa kemudian menyeka air mataku dan memelukku erat.
“Then we’re bestfriends in love.” ujar Tian tersenyum.
Saturday, June 13, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment