Saturday, June 27, 2009

This is Tasha : CHAPTER 6

Malam itu hujan turun rintik-rintik. Aku sedang khusyuk (mencoba untuk khusyuk) pada tugas paper-ku yang harus dikumpulin minggu depan. Sebernernya masih banyak waktu sih buat nyelesaiinnya, cuma Aku gak suka menunda segala sesuatu yang bisa Aku kerjakan sesegera mungkin.

Lagu-lagu dari Mandy Moore, Pussycat Dolls, dan penyanyi-penyanyi wanita lainnya mengiringiku malam itu. Aku memang paling konservatif di antara teman-teman wanitaku. Aku lebih suka mendengarkan lagu-lagu lama atau paling tidak lagu-lagu pop yang easy listening. Hihihi.

HP Sony Ericsson W910i-ku berbunyi, Aku berusaha menggapainya. Kebetulan HP-ku berada di sebelah mouse komputerku. Tanpa melihat layarnya terlebih dahulu, Aku langsung mengangkat telfonku.

“Halo.”
“Tasha?” terdengar suara dari seberang sana.

“Iya, ini siapa ya?” Aku menghentikan aktivitas mengetikku dan benar-benar menaruh konsentrasiku pada suara seseorang di seberang sana.
“Ini Tyo, Sha. Lo gak nyatet nomor gue ya? Tega banget sih.” Tyo pun tertawa renyah.

Deg!

Tyo? Ngapain dia nelfon Aku malem-malem gini? Gak cukup ya dia bikin Aku ‘kehilangan akal’ seharian ini?

“Gue save kok. Cuma tadi gue langsung ngangkat telfonnya tanpa ngeliat layarnya dulu. Kenapa, Yo?” tanyaku se-casual mungkin.

“Gue ada di depan rumah lo, Sha. Can we talk?”
“What?” Aku hampir saja teriak. Namun Aku berusaha untuk tenang.
“Ya udah, gue keluar sekarang.”

Aku pun bergegas menuruni anak tangga, membuka pintu, dan … Tyo sudah berdiri di teras rumahku.

“Hi, Sha.” Tyo tersenyum padaku. Tidak ada tanda-tanda kejahilan di sana.
“Please have a seat.” Aku menawarkan Tyo untuk duduk.

Tyo kemudian duduk di bangku teras yang terbuat dari rotan dengan bantalan bermotif bunga-bunga yang empuk. Aku dan keluargaku bisa berbincang-bincang selama berjam-jam di teras ini. Apalagi halaman rumahku cukup luas dan ditanami rerumputan, bunga-bunga, dan pohon mangga yang buahnya manis-manis.

“Mau minum apa, Yo?” Tanyaku.
“Gak usah, gue cuma bentar kok.” Jawab Tyo singkat, tangannya memainkan kunci mobil yang dipegangnya daritadi.

“Mau ngomongin apa?” tanyaku kalem. Aku tidak mau terlihat gugup di sini.
“Sha, I’m sorry about the kiss. I …” Belum sempat Tyo menyelesaikan kalimatnya, namun Aku sudah memotongnya.
“It’s okay. It’s only a kiss.” Aku berusaha tersenyum.

“What? It’s only a kiss? How could I say that?!” hatiku membantah perkataanku yang terucap begitu saja. Seolah-olah kecupan dari Tyo tadi tidak berarti apa-apa bagiku.

“Oh … So, it’s only a kiss, huh? Okay then. I think I should go home.” Tyo yang malam itu mengenakan jaket ber-hoodie warna abu-abu, kaos hitam bertuliskan ‘Queens of The Stone Age’, celana jeans Levi’s, dan sepatu Nike putih, beranjak dari kursi.

“Wait, I didn’t mean that …” Aku, karena panik, juga ikut berdiri.

“You know what, Sha? It’s okay if you think of me that way. But one thing you should know, the kiss I gave you, it means a lot to me.” Tyo menatapku dengan tatapan dingin, kemudian berlalu begitu saja meninggalkanku.

What did I do? What did I do that make you go, Tyo? The kiss you gave me also means a lot to me. Wish you knew. Wish I could show you my feelings. Wish it never happened in the first place.

Dengan langkah yang guntai, Aku pun kembali ke kamarku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aku menangis. Untuk seorang lelaki seperti Tyo. Lelaki yang akrab mengisi hari-hariku dengan tawa dan rasa sebal (most of the time).

Why me, Tyo? I thought you were my arch enemy. It’s funny how feelings can change over night, over a kiss. How about my friendship with your sister, Tiana? What should I tell her?

Aku hanya bisa menangis sambil memeluk boneka kesayanganku, Friday, seekor kelinci warna coklat yang lucu, hadiah ulang tahun dari teman-teman dance-ku.

Aku pun terlelap, diiringi hujan dan alunan lagu Wanna Be With You dari Mandy Moore.

“Friday, I’m in love.” Kembali kudekap boneka kelinciku erat-erat sebelum akhirnya Aku benar-benar terlelap.

No comments:

Post a Comment