Oh iya, pasti kalian penasaran ya gimana kejadian semalem antara Aku dan Mas Tyo? Hihihi. Aku ceritain deh biar kalian gak penasaran.
Semalem Aku memutuskan untuk talk heart to heart sama Mas Tyo. Kita berdua ngobrol cukup lama di kamarnya Mas Tyo.
“Kenapa sih Mas Tyo gak ngizinin Aku dan temen-temen band Mas Tyo kalau sampai ada apa-apa di antara kita? Saling suka gitu misalnya?” Aku duduk di pinggir tempat tidur, membuka jaketku. Sementara Mas Tyo sibuk memainkan gitar klasiknya.
“Tiana, gue cuma mau yang terbaik buat lo. That’s it.”
“So your friends aren’t good enough for me? How about Tian? He’s different!” Aku terdengar sangat persistent saat itu.
“He is. But he’s a new guy. I know nothing about him.” Mas Tyo menaruh gitar klasik berwarna coklat tua itu di sampingnya. Suaranya tetap menunjukkan ekspresi yang tenang, berbeda denganku yang menggebu-gebu menyanggahnya.
“So what? He’s nice, he’s smart, and he knows how to treat a girl like me!” Kini Mas Tyo duduk di sebelahku, menatapku cukup lama.
“You know what will happen to my band when your relationship with him is over?” Mas Tyo berkata dingin sedingin tatapannya padaku.
“Things haven’t even started yet.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Jujur, Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Mungkin apa yang Mas Tyo katakan benar. Apa yang terjadi kalau Aku dan Tian sampai pacaran namun tidak berhasil dan pada akhirnya kami pun putus? Bagaimana hubungan Mas Tyo dengan Tian? Sepertinya Aku terlalu egois.
Aku menunduk, Aku tidak tahu harus berkata apa. Mas Tyo merangkul bahuku kemudian mengelus rambutku dengan lembut.
“Lo tau? Lo emang nyebelin.” Mas Tyo mendorong pelan kepalaku sambil tersenyum.
“Hey, what’s that supposed to mean?” Aku cemberut, mulai sewot.
“It means you got my bless, sister.” Mas Tyo mengacak-acak rambutku.
“Seriously? Thank you!” Aku teriak kegirangan dan langsung memeluk Mas Tyo. Mas Tyo hanya bisa tertawa.
“Udah ngapain aja sama Tian?” Mas Tyo menatapku dengan tatapan jahil.
“Eww!! None of your business!!” Aku menutup muka Mas Tyo dengan bantal yang ada di sebelahku. Aku pun pergi meninggalkan kamar Mas Tyo saat itu juga!
“Hey, I just asked!” terdengar suara Mas Tyo dari dalam kamar. Tentu saja sambil tertawa puas.
Aku meninggalkan kamar Mas Tyo dengan penuh senyum. It’s funny how a simple statement can change a thing.
+ + + + + +
Everything seems to be perfect for this spoiled Princess and that spoiled Princess is me. Aku sama Tian ke mana-mana bareng. Pergi ke kampus, bareng. Makan siang, bareng. Pulang ke kampus, bareng. Pokoknya semua-muanya bareng deh! Kecuali pas lagi pipis di kamar mandi. Hahaha. Everybody who sees us should know what’s going on between us. They should, they’re supposed to.
My besties pun udah tau tentang Aku dan Tian. Regina sama sekali gak terlihat kecewa. Dia malah yang paling semangat nyuruh Aku dan Tian jadian, soalnya ternyata dia juga lagi PDKT sama anak Teknik Mesin, namanya Ramon. Ugh, dasar nih cewek, cepet banget berubah haluan. Hehehe.
Malam itu, anak2 lagi pada nginep rumah Aku, kita lagi Pajamas Party. Seneng deh! Kita marathon nonton DVD Gossip Girl, nyanyi-nyanyi sambil nge-dance, main dandan-dandanan terus foto-foto gila, dan terakhir kita curhat-curhatan.
Sebenernya malem ini kita Pajamas Party bukan tanpa alasan, tapi kita semua sepakat mau ngehibur Sarah yang baru putus sama pacarnya, Galih, anak Akun FEUI juga. Mereka cinlok gitu pas nonton konsernya Bullet For My Valentine di Jakarta kemaren. Padahal setahu Aku, lagu-lagunya Bullet For My Valentine gonjreng semua deh, kenapa bisa cinlok ya? Well, namanya juga cinta. Love is blind and deaf, isn’t it? Hehehe.
Lagi jatuh cinta aja emo, gimana pas putus? Wuih, jangan tanya! Sarah si Emo Girl curhat abis-abisan tentang alasan putus mereka. Awalnya Cuma karena sering ribut-ribut gak penting, kayak ngeributin soal skill-nya Herman Li, guitarist-nya Dragon Force, sampe masalah mantannya Gilang yang freak, yang masih tailing Gilang ke mana-mana. Hang in there, Dear.
Setelah Sarah puas curhat, sekarang anak-anak pada nanya hubungan Aku sama Tian. Udah dua bulan lebih Aku sama Tian kayak gini. Dibilang pacaran, gak. Dibilang gak pacaran, tapi kita udah kayak orang pacaran.
Aku sendiri sebenernya gak ambil pusing sama masalah begini. Maybe Tian wants to take baby steps in our relationship. Why should we be in a rush then? Isn’t it such a good thing? Knowing each other first before getting any deeper?
“Lo gak takut Tian diambil cewek lain, Na?” Regina tampak serius. Walaupun tangan kanannya sibuk mengasah kuku-kuku kirinya dengan nail buffer dari Oriflame.
Jujur, Aku takut. Aku gak tau ke mana arah hubungan Aku dan Tian sekarang. Tian gak pernah bilang “I love you” atau “Would you be my girlfriend?” and so on. Tian cuma pernah bilang, “A girl like you is impossible to find.” Lalu Tian mengecup keningku, sesaat sebelum Aku turun dari mobilnya. Dan Tian bilang hal itu hampir dua bulan yang lalu. Abis Aku sama dia ngopi-ngopi di Starbucks, Sarinah. Aku sih nganggep kita udah jadian. At least kita seperti orang jadian saat ini.
“I don’t know. I’m happy with what I’ve got now.” Aku terdengar sangat mantap dalam mengucapkan kalimat itu. Tapi Aku yakin, gak satu pun dari temen-temen Aku yang tau kalau sebenernya pertanyaan-pertanyaan mereka tentang Aku dan Tian ngebuat Aku berfikir, jangan-jangan Tian cuma mau fooling around sama Aku. “Gosh, should relationship be this complicated? Change the word into relationsh*t if the answer is a yes then!” umpatku dalam hati.
“I think we should get our beauty sleep. It’s now 2 AM, Ladies!” Ochie, orang pertama yang menaiki tempat tidur, menyadarkanku bahwa saat ini Aku sedang bersama teman-temanku. Bukan bersama Tian, di mana Aku bisa menanyakan tentang kepastian hubunganku dengannya. Aku dan teman-temanku yang lain pun segera mengejar Ochie ke tempat tidur dan kami mengelitikinya sampai dia tertawa terbahak-bahak. Typically Ochie. Hihi.
“Good night, Besties. Love you.” Aku pun menarik selimut berwarna pink-ku dan kemudian menutup kedua mataku, mencoba tidur, mencoba melupakan masalah hubunganku dengan Tian. Jika itu bisa dikategorikan sebagai suatu masalah.

No comments:
Post a Comment