“Hey hey you you I want to be your girlfriend …” Sony Ericsson C902i-ku berdering. Tian calling …
“Halo, Tian? Di mana?” tangan kananku memegang handphone, tapi tangan kiriku merapikan poniku di depan cermin.
“Gue udah mau nyampe rumah lo sepuluh menit lagi. Udah siap kan?” suara Tian terdengar sangat tenang. Gak panik kayak Aku sekarang.
“Udah kok. See you soon!” karena panik, Aku langsung menutup telfon dari Tian. Padahal kan Tian yang nelfon, kenapa Aku yang matiin telfon duluan ya?
Benar saja, sepuluh menit kemudian Mbak Wati, Asisten Rumah Tangga (bahasa halusnya pembantu rumah tangga) di rumahku, mengetuk pintu kamarku.
“Masuk.”
Mbak Wati membuka pintu kamarku. “Mbak Tiana, ada temennya di luar.”
“Tolong suruh masuk aja, Mbak. Suruh tunggu di ruang tamu. Saya bentar lagi turun.” jawabku sambil menyemprotkan parfum di belakang telinga dan pergelangan tanganku.
“Sudah, Mbak. Malah sekarang temennya Mbak Tiana lagi nonton TV sama Mas Tyo. Permisi, Mbak.” Mbak Wati menutup pintu kamarku.
“Iya, makasih banyak ya, Mbak.” jawabku. Lemas.
Mampus! Mas Tyo di rumah? Bukannya dia lagi main PS di rumahnya Ivan ya? Duh, gimana donk ini? Mas Tyo bisa interogasi Aku abis-abisan. Atau mungkin Mas Tyo bisa marah-marah sama Aku. Belum lagi kalau Mas Tyo bilang ke Tian kalo di antara Aku sama dia gak boleh ada apa-apa. Gosh, things haven’t even started yet but why they seem to be over?
Aku menuruni anak tangga demi anak tangga. Malam ini cukup dingin. Sesuai dengan tema malam ini, Japan Rock Small Gig, Aku mengenakan kaos berwarna hitam bertuliskan “Rock Chick” berwarna pink, jaket ketat ber-hoodie berwarna pink, rok mini lipit berwarna putih, legging hitam, dan sepatu Converse pink.
Untuk urusan rambut, Aku tetap terlihat girly, poni Aku jepit ke belakang, namun rambut Aku model keriting gantung. Aku gak ke salon kok, cuma dari sore Aku emang udah nge-roll rambut supaya nanti pas dilepas modelnya kayak sekarang ini. I must admit I look cute tonight. Hehehe.
Wait, we’ve got a real big problem here! Dari tangga Aku sudah bisa melihat Mas Tyo becanda-becanda sama Tian. Huhuhu. Rasanya pengen balik ke kamar aja deh. Aku bener-bener takut!
“Tiana? What took you so long?” Mas Tyo melihat ke arahku. Aku cuma bisa berdiri kaku bagaikan patung di ujung tangga. “Tian udah nungguin daritadi nih. Nanti telat lho!” Mas Tyo membenarkan posisi duduknya. Tian yang tadi duduk di sebelahnya kini berdiri karena melihat kehadiranku.
Tian ganteng banget malem ini. Dia pake kaos hitam, ada tulisannya, LAMB OF GOD. Aku gak tau itu apa, tapi kayaknya sih nama band gitu. I don’t care though. Hihihi. Tian juga pake blue jeans yang agak belel, sama kaos kaki. Kaos kaki? Sepatunya mana? Oh, pasti tadi dilepas pas masuk rumah. Sopannya. Hihihi.
“Maaf ya lama. Mau berangkat sekarang?” Aku menghampiri Mas Tyo dan Tian.
“Gak juga. Yuk, biar pulangnya gak kemaleman.” Tian tersenyum kemudian mengambil kunci mobilnya yang ia letakan di atas meja.
“Mas, Ayah Bunda mana?” tanyaku ke Mas Tyo yang sibuk gonta-ganti channel TV.
“Ayah Bunda lagi pergi kondangan.” jawab Mas Tyo datar.
“Kalo Adi?” Aku mendekat.
“Adi lagi pergi sama temen-temennya.” Another plain answer from Mas Tyo.
“Gue pergi dulu ya, Bro.” Tian menyalami Mas Tyo, mau gak mau Mas Tyo pun berdiri, mengantarkan kami sampai di pintu.
“Jagain ade gue ya, Bro. Jangan pulang malem-malem. Jangan ngebut-ngebut juga.” Mas Tyo memberikan wejangan-wejangan sakti pada Tian yang lagi make sepatu Vans slip in-nya.
“Siap, Bos!” Tian tertawa kecil. “Pergi dulu ya. Bye.” Tian berjalan menuju mobil Civic-nya.
“Mas, Aku pergi dulu ya. Bye.” Aku menyusul Tian.
“Bye.” Mas Tyo pun menutup pintu rumah. Datar, tanpa senyum. But he’s good at this quick drama scene. Kalo ke Tian, dia senyum, tapi ke Aku? Don’t ask!
+ + + + + +
Oke, jadi ini toh tempat yang namanya Marotti Café. Tempat ini letaknya di Panglima Polim, Jakarta Selatan, gedungnya punya tiga lantai, gak terlalu besar, malah terkesan sempit. Oh, well …
Aku sama Tian sampai di Marotti Café jam 20.20. Parkiran udah lumayan penuh, akhirnya Tian memarkirkan mobilnya di samping gedung, sehingga kita harus jalan kaki dulu sebelum sampai ke Marotti Café.
Di depan Marotti Café ada stand-stand makanan dan minuman, ada juga yang jual rokok. Ugh, I hate smoke! Untung Tian gak ngerokok. Tian pernah bilang, dia gak ngerti, di lihat dari segi konsumen, ngerokok itu gak ada value added-nya sama sekali, jadi kenapa dia harus capek-capek bakar duit buat sesuatu yang gak value added bagi dirinya? Malah merugikan. Sangat merugikan. Diplomatis ya? Hihihi.
Selain ada stand-stand, banyak juga anak-anak yang nongkrong dengan kostum yang unik-unik. Ada yang rambutnya kayak Dragon Ball, ada yang pake sepatu yang haknya tebel banget kayak buku Intermediate Accounting-nya Kieso, dan malah ada yang make Balaclava!
Oh My God, sumpah ya, Aku hampir ngejerit pas ngeliat ada orang ber-balaclava itu gak sengaja nabrak Aku gara-gara Aku bengong ngeliat orang pake iket pinggang yang ada lampu-lampunya gitu. Keren!
Tunggu, jangan-jangan kalian gak tau lagi balaclava itu apa. Hihihi. Balaclava itu kain item yang biasanya dipakai buat nutupin muka, biasanya sih dipakai sama penjahat atau thugs di luar negeri gitu. Serem deh pokoknya. Kalau gak percaya tanya aja sama Mbah Google. Hehehe.
“Tian …” Aku menarik pelan lengan bajunya.
“Iya?” Tian mendekatkan telinganya ke mukaku.
“Tempatnya serem banget ya?” Aku berbisik di telinganya.
Tian tertawa kecil, kemudian menggandeng tanganku. “Kan ada Aku, gak usah takut.” Aku memantapkan pegangan tanganku. Aku tersenyum. “Kita ke atas yuk, beli tiket dulu.” Tian melihat ke arahku, Aku mengangguk, Tian di depan menggandeng tangan kiriku, Aku mengikutinya masuk ke dalam gedung.
Wuih, it’s even worse here! Tempatnya gelap, penuh asap rokok, Aku mau pulang!
“Tunggu sebentar, Aku beliin tiket dulu ya.” Tian melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menjauhi Aku. Tunggu deh, kayaknya ada yang salah, bener gak sih tadi Tian ngomong ‘Aku’ ke Aku? Bukannya ‘Gue’? Tadi pas di bawah juga kayaknya gitu. Apa Aku salah denger ya?
Tian datang menghampiriku yang daritadi cuma berdiri tegak di dekat tangga, dia membawa dua tiket, dia tersenyum dan kembali memegang tanganku. Lalu Tian mengajakku naik ke lantai tiga soalnya acara nge-band-nya itu di sana.
Tian menunjukkan tiketnya kepada seorang cowok berpakaian paling normal di antara yang lain, kaos hitam dan jeans belel, yang berdiri di dekat tangga menuju ke lantai tiga.
“Dicap dulu, Mas, Mbak.” Cowok tersebut mencap tangan kiri Tian dan tangan kiri Aku. Kayak mau masuk Dufan gitu. Cuma bedanya, cap di sini gede banget, ada tulisannya, Japan Rock Music Festival. Ckckck. Gede aja capnya, padahal gedungnya sempit begini. Bener-bener deh, sentimen pribadi jadinya. Hehehe.
Oh, no … Tangganya aja udah gelap banget, gimana di lantai tiga nanti? Aku semakin erat menggenggam tangan Tian, Tian pun mengeratkan genggaman tangannya, rasanya aman banget deh.
Lantai tiga ada pintu masuknya. Tian membuka pintunya dan kita berdua pun disambut dengan asap rokok dan musik hingar bingar yang bisa bikin gendang telinga Aku rusak saat itu juga. Tian dan Aku memasuki ruangan itu dengan hati-hati. Bukannya apa-apa, agak full house soalnya.
Wajah Tian tampak tenang, beda banget sama Aku. Wajah Aku bener-bener pucet. Gimana gak? Asap rokok di mana-mana, musiknya kenceng banget, belum lagi yang nyanyi teriak-teriak (apa gonggong Aku juga gak tau). Oh, penontonnya juga gak kalah heboh, mereka head banging! Oh, God … I don’t wanna die in this place! I beg You …
“Aduh, kok musiknya begini ya?” Tian sekarang tampak kebingungan, lehernya menjenjang, seperti mencari seseorang di tengah ramai dan rusuhnya ruangan ini.
“Iya, serem banget ya.” Aku melepaskan tanganku dari pegangan tangannya Tian, Aku membenarkan jaketku, Aku berusaha tersenyum ketika Tian melihatku untuk mencari tahu kenapa Aku melepaskan tangannya.
“Kita pergi aja dari sini yuk. Kasian kamu.” Tian merangkul bahuku. Nyamannya … Suer deh, nyaman banget! Secara ya, tinggi Tian 180 cm dan Aku 160 cm. Aku bener-bener ngerasa dilindungin. Tunggu, tunggu, bener kan tadi Tian ngomong ‘Kamu’ bukannya ‘Lo’? Apa Aku salah denger? Apa Aku berhalusinasi gara-gara kebanyakan menghirup asap rokok?
“Temen lo gimana?” Aku gak mau ge-er dulu, takutnya Aku salah denger tadi, jadi mendingan play safe aja, tetep pake ‘Gue-Lo’.
“Nanti Aku SMS dia aja deh. Sekarang kita cari makan aja yuk. Kamu belum makan kan?” Tian melepaskan rangkulannya untuk menatap mataku.
Aha! Dia bener-bener mau ngomong pake ‘Aku-Kamu’, baiklah, mari kita pake ‘Aku-Kamu’ mulai saat ini!
“Belum dunk, kan Aku tau mau ditraktir kamu. Hehehe.” Tian tertawa kecil dan kembali merangkulku. Kita keluar dari ruangan itu saat itu juga.
+ + + + + +
Here we are now. Aku dan Tian sekarang udah ada di Hema, Tebet Indraya Square. Di antara resto-resto yang lain, cuma Hema yang lumayan sepi malam itu, tempatnya juga bagus, nuansa Eropa gitu –ya iya lah, secara restoran Belanda--, belum lagi makanan di sini enak-enak, harganya juga terjangkau dompet mahasiswa.
Aku dan Tian sama-sama pesen Fish and Chips, simple dan mengenyangkan. Cuma bedanya, Aku minum air putih, Tian pesen Orange Juice. Tian seneng banget minum Orange Juice. Alright, noted!
“Kamu udah berapa lama sih main gitar? Kayaknya jago banget.” Aku udah mulai relax sekarang ngomong berduaan aja sama Tian, gak kayak kemarin-kemarin, mau ngomong aja mikir.
“Dari umur 13. Aku belajar sendiri lho!” Tian tampak bersemangat karena kita membicarakan tentang hobinya.
“Oh ya? Hebat banget! Terus-terus? Cerita tentang gitar pertama kamu dunk.” Aku bertanya sambil memainkan sedotan di gelasku. Kebiasaan.
“Gitar pertama Aku itu dibeliin Papa, gak ada merek-nya, karena Papa gak yakin Aku bisa main gitar, jadi kalau toh nantinya Aku emang gak bisa main gitar, Papa gak ngerasa rugi karena gak keluar duit banyak-banyak. Hehehe. Kalau Tyo gimana?”
“Mas Tyo ya? Hahaha. Dia belajar gitar itu pas baru masuk SMA, dia bilang biar eksis di acara sekolah. Tapi bener lho, karena keinginan untuk eksis di setiap acara sekolah, Mas Tyo jadinya terkenal banget di SMA-nya. Salut deh! Bahkan guru BP pun sampe afal sama dia.”
“Lho? Kok bisa?” Tian tampak semangat denger cerita Aku.
“Bisa lah, Mas Tyo kan waktu SMA nakal banget. Well, mungkin lebih ke jail sih. Yang pasti Mas Tyo sering tidur di kelas, makanya sering dipanggil guru BP, Mas Tyo ditanyain, kenapa sering tidur di kelas. Mau tau jawaban Mas Tyo apa?”
“Apa?” muka Tian udah siap-siap ketawa ngakak denger cerita Aku.
“Mas Tyo bilang, ‘Saya kebanyakan makan kangkung, Bu. Kan kangkung kaya akan zat besi tuh, makanya berat, beratnya lari ke mata, makanya Saya ngantuk terus jadinya.’” Aku dan Tian sama-sama tertawa terkikih-kikih.
“Kakak kamu emang cerdas.” Tian meminum Orange Juice-nya untuk menenangkan dirinya.
Iya, Mas Tyo emang cerdas, Mas Tyo emang lucu banget, Mas Tyo juga super jail dan nyebelin, tapi Mas Tyo kayaknya lagi marah sama Aku karena Aku pergi sama Tian dan Mas Tyo sama sekali gak tau akan hal ini sebelumnya.
“Tiana? Kok diem?” Tian melihat ke arahku, membuyarkan lamunanku.
“Gak apa-apa, jadi kangen sama Mas Tyo.” Aku memeletkan lidahku.
“Kalian kayak kembar aja.” Tian meledekku dan kami pun tertawa kecil sebelum kami melanjutakan late dinner kami.
+ + + + + +
“Thank you for tonight ya, Tian. I had so much fun.” Aku melepaskan seat belt-ku.
“My pleasure is on me. Maaf ya tadi Aku bawa kamu ke tempat kayak gitu. I really had no idea.” Tian juga melepas seat belt-nya.
“Gak apa-apa kali. Gimana mau jadi pacar Rock Star kalau ke tempat gitu aja Aku gak tahan.” Aku tertawa kecil.
“Iya ya …” Tian tertawa canggung. “Tiana, Aku boleh bilang sesuatu gak?”
Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak. Tian mau ngomong apa nih? Jadi deg-dean.
“Boleh, mau ngomong apa emangnya?” Aku tersenyum untuk menutupi rasa deg-degan di hatiku.
“Kamu cantik banget malam ini.” Tian menatap mataku.
“Makasih.” Aku malu-malu, mukaku memerah, dan seperti biasa, kalau Aku salah tingkah atau sedang dalam situasi yang bikin Aku canggung, Aku pasti akan merapikan poniku yang sama sekali tidak berantakan.
Cup! Tian mencium pipi kananku. Oh my gosh … Tian mencium pipi kananku! Ingin rasanya Aku melompat-lompat kegirangan, tapi gak bisa. Aku gak bisa lompat-lompat kegirangan karena kakiku dingin, I can’t even feel my toes. Norak ya? Hihihi.
“I … I’m sorry.” Tian menyadari kalau dia baru aja melakukan kesalahan. Tian jadi gugup setengah mati. Mukanya lucu banget!
“It’s okay.” Aku tersenyum manis. Aku sudah bisa menenangkan diriku sendiri. “Makasih ya, Tian.”
Cup! Kini Aku yang mencium pipi kiri Tian dan turun dari mobil. Tian bahkan belum sempat berkata apa pun.
Aku langsung masuk ke dalam rumah. Karena penasaran, Aku mengintip dari jendela. Tian berdiri di dekat pintu mobilnya lalu masuk lagi dan pulang.
“Gosh, he’s awesome!” Aku tersenyum sambil memegang pipi kananku. “He really knows how to treat a girl.” Aku pun membalikan badanku …
“Had some fun?” Mas Tyo berdiri tepat di belakangku. Mukanya dingin. Aku pun hanya bisa diam.

Part 6 is great job!!
ReplyDeleteAww ... Thank you, Honey :)
ReplyDeleteaheeeeeeeeeeeeyyy
ReplyDeletedisini ngareppp ini!!!