Monday, June 29, 2009

This is Tasha : CHAPTER 7

Aku harus bersikap profesional. Bagaimana pun juga, Aku sudah berjanji untuk menginap di rumah Tiana Sabtu ini. Selain untuk latihan dance, Aku menginap di sini juga untuk menemani Tiana yang masih juga merasa kesepian karena ditinggal Tian.

Namun malam ini Aku gak sendiri. Regina, Sarah, dan Ochie pun juga ikut menginap di rumah Tiana. Semoga malam ini Aku gak perlu ketemu Tyo. Semoga.

Selesai latihan dance, Aku dan anak-anak lainnya memutuskan untuk nonton DVD Lipstick Jungle bersama. Love the storie, love the characters, love everything about these series!

“Gue mau ke dapur nih, pada mau nitip apa?” tanyaku kepada anak-anak yang begitu konsentrasinya nonton DVD.

Kalo belajar aja, susah banget konsentrasinya. Tapi kalo nonton DVD, jangan tanya! Hehehe.

“Gue mau coklat!” Ochie menjawab pertama kali.
“I’m on diet.” Regina menjawab dengan acuh.
“Can I have chips?” Sarah bertanya dengan nada males-malesan. Dasar Emo Girl! Hehehe.
“Aku mau Tian.” Tiana memasang wajah (sok) imut. Kami pun memeluknya bersamaan dan Tiana pun tertawa geli.

“Kidding!” mukanya sudah ceria lagi. Namun begitu, Aku tau, hati Tiana sakit banget. Tiana cuma berpura-pura menjadi sosok yang tegar walaupun perasaannya rapuh. Kurang lebih sama seperti Aku.

* * * * *

Sekarang udah jam 1 pagi, seharusnya semua orang di rumah ini udah tidur. Aku liat kamar Tyo yang letaknya gak jauh dari kamar Tiana. Lampunya masih nyala. Mungkin dia lagi main PS atau malah belum pulang.

Aku menuruni anak tangga satu persatu. Aku berusaha tidak membuat keributan di sini.
Malam itu Aku mengenakan Baby Doll berwarna biru dengan gambar kelinci dan slipper biru dengan kepala kelinci. Lucu! Aku masih cocok kok disebut anak SMA. Iya, anak SMA yang gak lulus-lulus tapinya. Hahaha.

Aku menyalakan lampu dapur. Pintu kulkas terbuka.

“Ya ampun, siapa yang ninggalin pintu kulkas kebuka kayak gini sih?” Aku pun menghampiri kulkas untuk menutupnya.

“Tyo?!” Aku kaget bukan main begitu melihat Tyo berdiri dari balik pintu kulkas.

Tyo memakai kaos oblong warna coklat muda dan celana pendek coklat tua selutut merek Adidas.

“What are you doing?” tanyaku dengan suara berbisik karena takut suaraku membangunkan orang-orang satu rumah.
“Hey, it’s my house, remember?” jawab Tyo santai sambil memain-mainkan botol jus, kemudian Tyo menutup pintu kulkas.

“Oh …” Aku pun kehabisan kata-kata.
“What are you doing here?” tanyanya sambil membuka tutup botol dan kemudian meminumnya. Tanpa dikocok dulu!

“I …” belum selesai Aku bicara, Tyo sudah memotongku dengan kalimat sinisnya.

“I thought you were looking for another kiss from me. Wait, it’s only a kiss, right? So it won’t mean a thing to you.” Tyo mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kemudian meninggalkanku begitu saja.

Aku hanya bisa menyeka air mata yang terjatuh di pipiku.

“Kenapa Tyo berubah? Ke mana Tyo yang lucu dan menyebalkan? Kenapa sekarang Tyo jadi sinis? What did I do? Gosh …” Aku menutup muka dengan kedua tanganku.

Seseorang memelukku dari belakang.

“Tyo?” aku pun menoleh ke belakang.

“Tasha, I saw it …”

Ternyata Tiana, sahabat baikku. Tiana, adik perempuan dari Bramantyo Notosudiro. Dan dia melihat semuanya.

* * * * *

Akhirnya Aku memutuskan untuk menceritakan hal itu ke teman-temanku yang lain. Reaksinya macem-macem.

Tiana sudah dapat membaca kalau ada benih-benih cinta di antara Aku dan Tyo sejak lama. Regina melihat hal ini sebagai suatu proses pendewasaan, kalau cinta itu bisa tumbuh kapan aja, di mana aja, dan sama siapa aja.

Sarah melihat hal ini sebagai hal yang umum terjadi. Sarah tau banget kalo ada cowok yang sering gangguin cewek sampe segitunya, biasanya si cowok ada apa-apanya sama si cewek. Ochie? Ochie malah sibuk nanya gimana rasanya dicium Tyo sambil ber-eww-eww ria dan menutup mukanya sendiri karena ingin muntah! Hihi.

Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk membantuku. Membantu untuk meluruskan kesalah pahaman ini. Membantu agar Tyo tau perasaanku yang sebenarnya. Dan membantuku agar Aku lebih jujur terhadap perasaanku sendiri.

“Good night, Tyo. Have a nice dream.” Ucapku dalam hati.

Aku pun memeluk Friday dan tertidur pulas bersama teman-temanku yang lain. Thank you for being such great BFFs, Girls.

Saturday, June 27, 2009

This is Tasha : CHAPTER 6

Malam itu hujan turun rintik-rintik. Aku sedang khusyuk (mencoba untuk khusyuk) pada tugas paper-ku yang harus dikumpulin minggu depan. Sebernernya masih banyak waktu sih buat nyelesaiinnya, cuma Aku gak suka menunda segala sesuatu yang bisa Aku kerjakan sesegera mungkin.

Lagu-lagu dari Mandy Moore, Pussycat Dolls, dan penyanyi-penyanyi wanita lainnya mengiringiku malam itu. Aku memang paling konservatif di antara teman-teman wanitaku. Aku lebih suka mendengarkan lagu-lagu lama atau paling tidak lagu-lagu pop yang easy listening. Hihihi.

HP Sony Ericsson W910i-ku berbunyi, Aku berusaha menggapainya. Kebetulan HP-ku berada di sebelah mouse komputerku. Tanpa melihat layarnya terlebih dahulu, Aku langsung mengangkat telfonku.

“Halo.”
“Tasha?” terdengar suara dari seberang sana.

“Iya, ini siapa ya?” Aku menghentikan aktivitas mengetikku dan benar-benar menaruh konsentrasiku pada suara seseorang di seberang sana.
“Ini Tyo, Sha. Lo gak nyatet nomor gue ya? Tega banget sih.” Tyo pun tertawa renyah.

Deg!

Tyo? Ngapain dia nelfon Aku malem-malem gini? Gak cukup ya dia bikin Aku ‘kehilangan akal’ seharian ini?

“Gue save kok. Cuma tadi gue langsung ngangkat telfonnya tanpa ngeliat layarnya dulu. Kenapa, Yo?” tanyaku se-casual mungkin.

“Gue ada di depan rumah lo, Sha. Can we talk?”
“What?” Aku hampir saja teriak. Namun Aku berusaha untuk tenang.
“Ya udah, gue keluar sekarang.”

Aku pun bergegas menuruni anak tangga, membuka pintu, dan … Tyo sudah berdiri di teras rumahku.

“Hi, Sha.” Tyo tersenyum padaku. Tidak ada tanda-tanda kejahilan di sana.
“Please have a seat.” Aku menawarkan Tyo untuk duduk.

Tyo kemudian duduk di bangku teras yang terbuat dari rotan dengan bantalan bermotif bunga-bunga yang empuk. Aku dan keluargaku bisa berbincang-bincang selama berjam-jam di teras ini. Apalagi halaman rumahku cukup luas dan ditanami rerumputan, bunga-bunga, dan pohon mangga yang buahnya manis-manis.

“Mau minum apa, Yo?” Tanyaku.
“Gak usah, gue cuma bentar kok.” Jawab Tyo singkat, tangannya memainkan kunci mobil yang dipegangnya daritadi.

“Mau ngomongin apa?” tanyaku kalem. Aku tidak mau terlihat gugup di sini.
“Sha, I’m sorry about the kiss. I …” Belum sempat Tyo menyelesaikan kalimatnya, namun Aku sudah memotongnya.
“It’s okay. It’s only a kiss.” Aku berusaha tersenyum.

“What? It’s only a kiss? How could I say that?!” hatiku membantah perkataanku yang terucap begitu saja. Seolah-olah kecupan dari Tyo tadi tidak berarti apa-apa bagiku.

“Oh … So, it’s only a kiss, huh? Okay then. I think I should go home.” Tyo yang malam itu mengenakan jaket ber-hoodie warna abu-abu, kaos hitam bertuliskan ‘Queens of The Stone Age’, celana jeans Levi’s, dan sepatu Nike putih, beranjak dari kursi.

“Wait, I didn’t mean that …” Aku, karena panik, juga ikut berdiri.

“You know what, Sha? It’s okay if you think of me that way. But one thing you should know, the kiss I gave you, it means a lot to me.” Tyo menatapku dengan tatapan dingin, kemudian berlalu begitu saja meninggalkanku.

What did I do? What did I do that make you go, Tyo? The kiss you gave me also means a lot to me. Wish you knew. Wish I could show you my feelings. Wish it never happened in the first place.

Dengan langkah yang guntai, Aku pun kembali ke kamarku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aku menangis. Untuk seorang lelaki seperti Tyo. Lelaki yang akrab mengisi hari-hariku dengan tawa dan rasa sebal (most of the time).

Why me, Tyo? I thought you were my arch enemy. It’s funny how feelings can change over night, over a kiss. How about my friendship with your sister, Tiana? What should I tell her?

Aku hanya bisa menangis sambil memeluk boneka kesayanganku, Friday, seekor kelinci warna coklat yang lucu, hadiah ulang tahun dari teman-teman dance-ku.

Aku pun terlelap, diiringi hujan dan alunan lagu Wanna Be With You dari Mandy Moore.

“Friday, I’m in love.” Kembali kudekap boneka kelinciku erat-erat sebelum akhirnya Aku benar-benar terlelap.

Thursday, June 25, 2009

This is Tasha : CHAPTER 5

Di Jum’at siang yang mendung ini, Aku dan Tyo lagi ada di Trax FM, menyerahkan proposal FEUI CUP untuk minta Trax FM mempublikasikan acara kami yang bakal diadain sebulan lagi

Aku hari ini pake knee-length-dress biru muda, cardigan biru tua, dan closed-toed-flats warna biru tua juga. Tyo bilang, hari ini Aku tampak fresh, persis kayak kolam renang berjalan. Ugh, hate him! I’m more to sophisticated, Dude!

Kenapa juga kita harus sama-sama jadi anak Publikasi sih? Harus berdua-duaan sama Tyo tuh cuma nambah-nambahin dosa aja. Bawaannya pengen ngomel terus!

Tyo hari ini pake kemeja lengan panjang (lengannya digulung) warna putih motif garis-garis vertikal (yang ngebuat Tyo jadi keliatan makin tinggi) dengan merk Jail Body Inside yang tertera di kantong kemejanya.

Gak sedikit cewek-cewek yang ngeliatin Tyo pas kita makan di McD Sarinah. Tapi Sang Objek dengan cueknya tetep melahap Triple Cheese Burger-nya.

“Sha, nanti temenin gue ke studio bentar ya.” Sambil makanin kentang satu-satu, Tyo memintaku menemaninya ke studio.
“Aduh, Yo gue gak bisa, gue mau ngerjain paper. Belum kelar-kelar. Seminggu lagi dikumpulin.” Aku menolak permintaan Tyo.

“Ngajak kok ke studio? Ke toko buku kayaknya lebih asyik.” Pikirku dalam hati sambil menyeruput Lemon Tea-ku.

“Ya elah, bentar doank, Sha. Gue mau ngambil gitar listrik Ade gue, dya mau nge-band sama temen-temennya.” Tyo menatapku setengah memohon.
“Plis deh, Yo lo kalo mau ke studio kan bisa abis nganterin gue pulang.” Jawabku cuek.

“Ya udah deh. Balik yuk, udah jam segini nih. Gue takut macet.” Tyo membersihkan mulutnya dengan tissue kemudian berdiri dari karsi, Aku pun melakukan hal yang sama, dan kita pun pulang.

* * * * *

“Lho? Kok kita di sini, Yo? Emang kita mau ke mana?” tanyaku panik.
“Ke studio bentar. Oke?” Tyo mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jahil.

Di saat yang sama Aku pun langsung mencak-mencak, ngedumel, karena Tyo dengan semena-mena ngerubah jadwal yang udah Aku susun. Aku gak suka!

Tyo pun memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah berbentuk minimalis, terdapat plang di sebelah tiang listrik bertuliskan : “Ivan’s Band Studio”. Iya, Aku tau ini rumahnya Ivan, Aku pernah ke sini sekali, waktu nemenin Tiana yang pengen ketemu Tian.

“Gue turun bentar ya, Sha. 5 menit doang kok.” Tyo tersenyum padaku –well, lebih terkesan nyengir sih daripada senyum—kemudian turun dari mobil.

Aku yang emang udah kesel sama kelakuannya dia yang seenak jidat, lebih milih diem.

20 menit berlalu, Tyo belum dateng-dateng juga. Kemudian pada menit berikutnya Tyo datang.

Dia membuka pintu belakang dan menaruh gitarnya di kursi belakang. Kemudian membuka pintu depan, duduk di bangku kemudi, dan bilang …

“Sha, sori lama, tadi gue …”

“Lo tuh gimana sih? Lo kan janjinya cuma 5 menit? Lo udah ninggalin gue di sini berapa lama, Yo? Gue kepanasan tau nunggu sendirian di mobil! Gue tuh paling gak suka kalo schedule yang gue bikin berantakan! Lo tuh harusnya …”

Cup!

Tyo mendaratkan subtle-kiss-that-no-one-sees-nya ke bibirku yang saat itu mengenakan lipgloss dari Revlon dengan Very Cherry Flavor.

Aku pun terdiam, menatap ke arah Tyo dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan padaku.

“I think I’ve found a way how to make you shut your cherry favor lips up.” Tyo tersenyum manis sekali saat itu, kemudian dia memasang seat belt dan menyalakan mobilnya.

Aku hanya diam terpaku, Aku yakin mukaku memerah saat itu. Aku merapatkan bibirku, kemudian mengalihkan pandanganku ke arah jendela.

Saat itu hujan turun rintik-rintik membasahi jendela mobil Baleno X-Over Tyo. Udara terasa sangat dingin. Terlebih lagi semenjak “kejadian” itu, Aku dan Tyo sama sekali tidak berbicara. Suasana yang dingin ini membuat udara yang dingin ini menjadi semakin dingin.

“Tyo? Bramantyo Notosudiro? Musuh bebuyutanku? Menciumku? This is insane!” pikirku dalam hati. Jantungku berdetak semakin cepat kala mengingat hal itu.

“Sha, mau turun apa mau ikut gue pulang ke rumah?” Tyo menghentikan laju mobilnya, kemudian tersenyum jahil ke arahku.
“Hah? Oh, iya iya …” Aku segera bergegas begitu menyadari bahwa sekarang kami sudah ada di depan rumahku.

“Seat belt-nya dicopot dulu, Sha. Nanti mobil gue kebawa sampe rumah lo lagi. Hehehe.”
“Ya ampun …” Karena panik, Aku pun mencoba melepaskan seat belt-ku. Stuck. “Aduh, kok malah stuck begini sih? Aku pengen cepet-cepet turun!” pikirku dalam hati.

“Let me …” Tyo memegang tanganku, kemudian melepaskan seat belt-ku.
“Thank you.” Aku tersenyum seadanya, kemudian segera turun dari mobil Tyo dan masuk ke dalam rumah, tanpa pamit terlebih dahulu.

Gosh, what’s happening to me? My heart beats so fast like it wants to jump out. And his kiss … His kiss tasted so sweet. I can still remember the smell of his parfum. He smells good. As always. Seriously, he’s really driving me crazy!

Tuesday, June 23, 2009

This is Tasha : CHAPTER 4

Tubuhku ada di ruang tamu, ngajarin Yuli Akuntansi Manajemen, tapi pikiranku entah ada di mana. Aku teringat kata-kata Tyo ketika kita pulang bareng tadi.

Sambil mengecilkan volume CD Player yang sedang memainkan The Boys of Summer-nya The Ataris, Tyo tiba-tiba bilang, “Gak semua cowok bisa ngungkapin perasaannya dengan ngasih perhatian lebih ke cewek yang dia sukain, ada juga tipe cowok yang lebih suka ngejailin cewek yang dia sukain buat ngedapetin perhatiannya.”

Tiba-tiba tenggorokkanku seperti tercekat sesuatu. Lalu Aku menoleh ke arah Tyo yang saat itu sedang menarik hand break karena traffic light-nya lagi merah. Kemudian dia menoleh ke arahku, tersenyum jahil, dan …

“Jangan kaget gitu dunk, Sha. Bukan berarti gue naksir lo karena gue ngerjain lo terus. Hahahaha.” Tyo pun tertawa lepas sambil menutup wajahku dengan tangan kirinya.

Siaul! Tyo bisa baca pikiranku! Lagian, siapa juga yang minta ditaksir Tyo?! Gak banget deh!

Aku pun melepaskan tangan Tyo dari mukaku, “Iiihhh, siapa juga yang nyangka lo naksir gue?! Eww, big time!!”
Tyo menurunkan hand break, menginjak kopling, mengubah perseneling, dan menginjak gas sambil tertawa kecil.

“You know what, Sha? You’re really funny.” Tyo pun tersenyum walaupun pandangannya lurus ke depan.

Aku udah terlanjur kesel karena ke-gep sama Tyo kalo Aku mikir yang aneh-aneh tentang kejahilan dia. Huff … He’s mentally deranged!!

* * * * *

“Sha? Sha?” Yuli melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mukaku.
“Eh, iya, Yul? Kenapa? Ada yang gak ngerti?” tanyaku kaget.

“Nih, udah selesai. Coba tolong dicek, bener gak jawabannya?” Yuli menyerahkan kertas yang berisi jawaban-jawaban dari soal-soal latihan yang ada di buku.
“Bentar ya, gue cek dulu.” Aku mengambil kertas itu dan mulai mencocokkan dengan jawaban yang udah Aku buat sebelumnya.

“Gue ke kamar mandi dulu ya. Hehehe.” Aku cuma mengangguk mendengar Yuli minta izin ke kamar mandi. Aku terlalu konsentrasi untuk menjawabnya.

Beep. Beep.

“Duh, siapa sih yang SMS? Gak tau orang lagi jadi Tutor Dadakan apa?!” umpatku dalam hati. Tangan kananku mencari-cari HP-ku yang ternyata ada di antara tumpukan kertas-kertas.

From : Tyo FEUI
Message : Woy, udah mandi belum lo? Jangan-jangan sampe rumah tadi langsung tidur lagi. Hahaha. Oh iya, besok jangan lupa bawa proposal buat Trax FM ya. Okay thanx bye.

Typically Tyo! Suka banget bikin intoductry yang nyebelin, belum lagi di setiap akhir SMS selalu nulis ‘Okay thanx bye’. Baca SMS dari dia aja udah bikin kesel!

To : Tyo FEUI
Message : Enak aja! Jangan samain gue sama lo yang pemales! Iya, besok gue bawa. See you.

Sent.

Kalo dipikir-pikir, kadang Aku ngerasa suka keterlaluan sama Tyo. Mungkin apa yang selama ini Tyo bilang ke Aku bener. Aku ini kadang suka jutek, terus apa-apa dibawa serius. Well, mungkin karena Aku anaknya perfectionist kali ya? Jadi apa-apa harus under control.

“Ah, lagi-lagi Tyo. Ada apa sih sama Aku? Ini gak sehat!” Aku pun menaruh HP-ku di sampingku dan kembali memeriksa jawaban-jawaban Yuli. Udah banyak kemajuan. Hebat.

Sunday, June 21, 2009

This is Tasha : CHAPTER 3

“Kita pergi ke Trax FM-nya hari Jum’at aja deh, Sha. Abis gue sholat Jum’at dan makan siang. Gimana?” Tyo berdiri di sebelahku yang lagi asik Facebook-an di KAFE pake lap top-nya Regina.

“Aduh, Tyo! Baru dateng bukannya nyapa kita-kita dulu, malah langsung ngobrol sama Tasha!” protes Ochie.

“Tyo, kan udah gue bilang, Jum’at siang itu gue latihan dance!” Aku melihat Tyo yang lagi sibuk nyuruh Ochie geser supaya dya bisa duduk berhadap-hadapan denganku.

“Lagian jalanan macet!” sambungku lagi sambil ngelanjutin komen di fotonya Ochie, Sarah, Regina, dan Tatiana yang sok-sokan hormat di depan tiang bendera kampus.

Hahahaha. Kalo inget hal itu, Aku malu banget! Aku aja yang motret mereka malu, apalagi mereka ya?! Tapi herannya, mereka fine-fine aja tuh! Semua demi Facebook! Edan!

“Kamis gue gak bisa, gue harus main futsal. Lo mau ke Trax naik angkot?” tanya Tyo setengah mengancam.

“Ugh … Ya udah deh, Jum’at aja kalo gitu!” jawabku tanpa pikir panjang.

“Lho? Terus latihan dance kita gimana?” tanya Regina sewot.
“Girls, hari Jum’at ini gue absen dulu ya. Nanti gue latihannya di rumah Tiana aja. Sabtu lo gak kemana-mana kan, Na?” Aku menoleh ke arah Tiana yang duduk di sebelahku.
“Nope.” Tiana menggeleng sambil tetap chatting sama Tian over YM. Nasib LDR. Hehehe.

“Okay then. Jum’at ya. Bye, girls.” Tyo pun meningalkan meja kita.
“Bye, Tyo …” balasku dan teman-temanku.

“Eh, hari Kamis ini Reza main futsal lho. Nonton ya.” Regina merajuk.
“Dia satu tim sama Tyo ya, Gin?” tanya Sarah sambil tetap menggambar di Drawing Book-nya.

Dia lagi gambar cewek dengan sayap angel, tapi sayapnya warna hitam, dan berlutut menghadap bulan purnama.

“Yup!” jawab Regina singkat sambil memakaikan face paper Clean & Clear di wajahnya.

* * * * *

Kamis ini Aku dan teman-teman lainnya nemenin Regina buat nonton futsal. Regina bilang dya udah janji sama Reza buat nontonin Reza main futsal dan jadi saksi kalo tim futsalnya dia memenangkan pertandingan futsal hari ini.

Regina sama Reza udah temenan dari SMA, kita semua kagum sama persahabatan mereka. Secara ya, persahabatan antara cewek dan cowok tuh biasanya gak pernah berhasil. Tapi mereka bisa ngebuktiin kalo cewek dan cowok itu bisa sahabatan tanpa harus pacaran.

Hari ini Tyo keliatan beda dari Tyo yang biasa Aku liat. Tyo yang selalu rapi dengan kemeja lengan pendek atau lengan panjang tapi digulung atau Tyo yang keren dengan polo shirt ber-merk. Tyo yang sekarang cuma pake kaos putih polos, celana pendek di bawah lutut, dan sepatu bola warna biru strip merah.

Rambut Tyo yang juga selalu rapih sekarang keliatan agak lepek karena keringetan. Tapi yang lucunya, muka Tyo jadi merah karena kecapekan. Cute-nya. Oops!

“Ayo, Reza …” Regina gak henti-hentinya jejeritan, Ochie juga gak mau kalah nyemangatin Reza CS dan … GOL!!

Sang Jagoan pun mencetak gol lagi dibarengi dengan bunyi peluit dari wasit, tanda pertandingan telah selesai. Sang Jagoan, timnya Reza, Tyo, Joe, Irvan, Ray, dan lainnya memenangkan pertandingan kali ini.

“Yaaaayyyy!! Makan-makan!!” Ochie bersorak-sorak sambil menuangkan air putih yang ada di botol ke atas kepala anak-anak Sang Jagoan. Nama tim futsal yang norak ya? Hehehe.

“Lo semua pada mau makan di mana? Kita yang traktir!” tanya Joe sambil melepaskan bajunya.
“Iya, kita tau Joe perut lo six pack, gak perlu pamer gitu!” Ochie melemparkan handuk putih ke arah Joe dan Joe pun ngakak.

Anak-anak pada ribut buat nentuin mau makan di mana sementara Aku melihat jam tanganku. Udah jam setengah 4, Aku harus pulang. Aku udah janji mau ngajarin temen Aku, Yuli, anak Akun yang kuliah di YAI, mata kuliah Akuntansi Manajemen. Besok dia ada kuis dan dia belum ngerti pelajarannya sama sekali. It’s gonna be hard, I’m telling you.

“Guys, gue pulang duluan ya. Gue janji mau ngajarin temen gue mata kuliah AM.” Aku memakai tasku dan bersiap-siap pulang.

“Lho? Tasha gak ikut? Tasha pulang sama siapa?” Tiana yang tampak khawatir mendekatiku.
“Gak, Say Gue pulang aja. Gue berani pulang sendiri kok.” Aku tersenyum.

“Mau gue anterin gak, Sha?”

Suasana jadi hening. Tyo, musuh bebuyutanku, menawarkanku tumpangan pulang di depan anak-anak. What is it? Public humiliation? Great!

“Gak usah, Yo. Makasih. Gue pulang sendiri aja. Masih sore ini.” Aku berusaha menolak tawaran Tyo se-cool mungkin.
“Beneran, Sha? Soalnya gue juga sekalian mau pulang. Gue lagi capek banget, gak kuat deh kalo harus nge-hedon lagi sama anak-anak.” Sambil nyengir, Tyo bergegas merapikan barang-barangnya dan menghampiriku.

Sementara anak-anak yang lain pada sok-sok sibuk nentuin mau makan-makan di mana. Padahal Aku bisa ngerasa mereka curi-curi pandang ke arah Aku dan Tyo. Regina malah dengan ekstrimnya nyubit-nyubitin lengannya Reza karena ngerasa scene Aku dan Tyo ‘cute’.

“Yeah, right! Cute!’ pikirku sinis.
“Yuk, Sha. Guys, gue balik duluan ya. Have fun!” Tyo pamit sambil melambaikan tangan kanannya. Tangan kirinya memeganga tas olah raga berisi peralatan futsalnya.

“Dah semua …” Aku menyusul Tyo dan melambaikan tanganku ke teman-teman.
“Hati-hati!” Tatiana setengah teriak, kemudian menutup mulutnya, dan melihat ke arahku dengan tatapan malu-malu.

Tyo, Tyo … Mau bikin gosip kalo di antara kita ada apa-apanya? Hah! In your dream!

This is Tasha : CHAPTER 2

Hari Senin pun datang juga. Aku menyisir rambut sebahuku dan menyemprotkan cologne Victoria’s Secret-ku yang wanginya Aku sesuaikan dengan wangi Victoria’s Secret body lotion-ku, Forever Romance. I look so casually chic today. As usual. Hehehe.

Pagi ini Aku mengenakan kemeja girly putih dari The Executive, skinny jeans Dust, low heels, dan tas Louis Vuitton KW1 yang Aku beli di ITC Kuningan sama Regina sebulan yang lalu.

Penampilan yang oke ngebuat mood Aku jadi oke juga. Gak tau sih ngaruh apa gaknya, but it works on me. Hehehe.

Dandanan? Checked! Books? Checked! Map? Checked! Semuanya udah siap deh pokoknya. Off to campus now!

* * * * *

“Joe … Joe …” Aku berusaha mengejar Joe yang lagi jalan sambil sibuk masukin uang yang baru aja diambilnya di ATM BRI di Gedung A.
“Yo, what’s up, Angel?” Joe berbalik dan tersenyum sumringah begitu mengetahui bahwa Aku yang memanggilnya.

“D’oh! Playboy!” I roll my eyes.
“Hahaha. Kenapa, Sha?” tanya Joe sambil memasukkan dompetnya di saku belakangnya.

“Liat Tyo?”
“Tyo? Si ganteng maksud lo?” tiba-tiba Tyo dateng dan langsung menginterupsi pembicaraanku dengan Joe. Joe hanya ketawa melihat sahabatnya (atau pasangan hombrengnya) itu datang.

“Whatever!” Aku menjawabnya acuh tak acuh.
“Sha, jangan jutek-jutek napa? Muka lo tuh cantik, kalo lo jutek terus, mana ada cowok yang mau sama lo?” Tyo meledekku dan Joe langsung ketawa ngakak. As if it’s a joke!

“Seriously, Guys it’s still early and you’ve already made jokes on me!” jawabku jutek sambil menolak tangan kananku ke pinggang.
“Kidding!” Tyo langsung menaruh tangannya di kedua pipiku dan memaksaku untuk menyunggingkan sebuah senyumnya.

“See? You look more beautiful when you smile.” Tyo tersenyum, Aku pun melepaskan tangannya dengan tangan kananku. Tangan kiriku terlalu sibuk memegang buku dan map.
“Dude, gue ke koperasi dulu ya. Mau beli lemper buat di kelas. Hahaha.” Joe menepuk bahu Tyo dan pergi meninggalkan kami.

Dasar raksasa! Yang ada di otaknya cuma makan, tidur, nge-band sama pacaran! Heran, kenapa IPK-nya bisa bagus! Setahu Aku dia gak pernah belajar.

“So? Kenapa tadi nyariin gue?” Tyo membenarkan posisi ranselnya.
“Hari ini ada rapat FEUI CUP di basement, jangan sampe gak dateng lho!” Aku membagikan undangan rapat yang diberikan Bayu pagi ini. Pas Aku baru aja turun dari BiKun (Bis Kuning : sarana transportasi untuk mahasiswa-mahasiswa UI untuk mengelilingi kampus)!!

“Oke, thanx ya, Sha.” Tyo tersenyum padaku. Bener-bener boyish nih anak.
“See you around!” Aku pun pergi meninggalkan Tyo.

* * * * *

Rapat FEUI CUP selesai pukul 7 malem. Udah gelap banget. Kalo gini ceritanya, pengen rasanya Aku nginep di rumah salah satu temenku yang nge-kost di deket kampus. Agak males juga pulang naik kereta malem-malem gini. Tiana pulang bawa mobil sendiri. Regina pulang bareng Reza, temen deketnya dari SMA, atau gak sama gebetannya, Ramon, si anak Teknik Mesin.

Biasanya sih Aku pulang bareng Sarah dan Ochie. Kita sama-sama pulang naik kereta api tut-tut-tut. Tapi mereka udah pulang dari jam 3 tadi. Mereka gak ikut kepanitiaan FEUI CUP.

“Woy, malem-malem bengong! Kesambet baru tau rasa lho!” Tyo si rese membuyarkan lamunanku.
“Gue baru aja kesambet! Sama lo!” jawabku asal sambil merapikan kertas-kertas yang berserakan di lantai.

“Hahahaha. Bisa aja lo! Eh, pulang sama siapa?” tanya Tyo sambil membantuku merapikan kertas-kertas dan memasukkannya ke dalam map pink-ku.
“Gak tau. Pulang sendiri kali.” Aku melihat ke arah luar. Bener-bener gelap, kayak udah jam 9 malem.

“Udah gila ya lo mau pulang sendiri naik kereta? Udah malem tau!” Tyo ikut-ikutan berdiri ketika Aku berdiri dan menggenggam map-ku dengan tangan kiriku.
“Mau digimanain lagi, Yo? Lagian gue udah gede kali, gue berani kok pulang sendiri.” Aku tersenyum untuk meyakinkan Tyo bahwa Aku bukan perempuan cemen, yang takut pulang malem sendirian. I’m a tough girl!

“Pulang bareng gue aja, gue anterin lo sampe rumah.” Tyo tersenyum.
“Aduh, makasih banyak deh, Yo tapi gue takut ngerepotin.”
“Ya elah, gak apa-apa kali. Santai aja. Yuk!” Tyo mengajakku ke arah parkiran mobil. Untung Tyo memarkirkan mobilnya di depan KAFE, jadinya Aku gak perlu capek-capek jalan jauh.

* * * * *

Tyo memutar CD-nya Boys Like Girls. Aliran musik mereka tergolong Pop Rock, jadinya Aku masih kuat ngedengernya. Hehehe.

Gak tau kenapa, tiba-tiba Aku ingin menanyakan sesuatu hal yang personal kepada Tyo. Mungkin udara yang dingin, jalanan yang senggang, dan langit yang gelap karena mendung, mendorong Aku untuk bertanya hal ini ke Tyo.

“Yo, kenapa sih sampe sekarang lo masih jomblo juga? Lo kan ganteng, banyak kok cewek-cewek yang naksir sama lo.” Aku melihat ke arah Tyo yang tersenyum.
“Soalnya di antara cewek-cewek yang naksir gue itu gak ada yang kayak lo, Sha. Hahaha.” Jawab Tyo santai sambil ketawa terbahak-bahak.
“Noraaaakkkk!!!” Aku pun mencubiti lengan Tyo yang malam ini sebenernya terlihat keren dengan polo shirt hitam-nya.

Walau pun udah malem, tapi wangi parfum Hugo Boss-nya Tyo masih tercium juga. Sayang, semuanya itu gak ada apa-apanya kalo dibandingin sama kejahilan Tyo ke Aku!

* * * * *

Akhirnya sampe juga di depan rumahku. Aku dan Tyo sama-sama melepaskan seat belt kami.

“Yo, makasih banyak ya.” Aku tersenyum dan siap-siap turun dari mobil.
“Sama-sama, Sha.” Tyo tersenyum.

“Eh iya, yang gue bilang tadi itu gak bercanda lho.” Setelah Aku turun, Tyo yang berdiri di samping mobilnya, berkata demikian sambil nyengir.

“Bye, Sha.” Tyo menutup pintu mobilnya.
“Bye, Yo …” Aku cuma bisa bengong sambil melihat mobil Tyo meninggalkan rumahku.

Wednesday, June 17, 2009

This is Tasha : CHAPTER 1

Halo, namaku Natasha Verdhana but you can simply call me Tasha and this is a story about me. You think you know about me, but you have no idea. Tee-hee-hee.

Tiana adalah salah satu sahabat terdekatku, semenjak pacarnya, Tian, pindah ke Jerman, Aku jadi rajin nginep di rumahnya Tiana. Selain buat nemenin Tiana, Aku nginep di sana juga buat dengerin semua curhatannya. Yang rata-rata diakhiri dengan tangisan. Huhu, jadi sedih kalau udah ngeliat Tiana nangis.

Nginep di rumah Tiana hampir tiap weekend sih gak masalah buatku, secara rumah Aku sama Tiana gak jauh-jauh amat. Rumah Aku di bilangan Otista, Jakarta Timur sedangkan rumah Tiana di Kemang Pratama, Bekasi.

Minggu sore ini Tiana gak bisa nganterin Aku pulang ke rumah karena dia harus ngukur kebaya sama Bunda-nya di Bestari, Caman. Terpaksa Aku pulang sama Tyo, kakaknya Tiana yang super rese.

“Sorry ya, Yo gue jadi ngerepotin.” Ucapku sambil memasang seat belt.
“Ya elah, kapan sih lo gak ngerepotin gue?! Hahaha.”
“Rese!”

Selama perjalanan, Tyo gak henti-hentinya gangguin Aku. Mulai dari nyuruh Aku turun dan gabung sama sapi-sapi yang dibawa sama truk di jalan tol sampai disuruh nyanyi lagu Indonesia Raya kalau Aku gak mau diturunin di tengah jalan. Gila kan?

Tyo emang gila dan nyebelin. Aku sampai kapan pun gak bisa akur sama dia. Kita ibarat minyak dan air, gak pernah bersatu. Hehehe. Gaya banget ya pake perumpaan segala?!

Sebenernya kalau dilihat-lihat sih, muka Tyo mirip kayak Zacky Vengeance-nya Avenged Sevenfold. Mukanya yang putih bersih dan dandannya yang rapih bikin banyak cewek tergila-gila sama dia. Cuma Tyo itu makhluk yang super cuek sejagat. Gak heran sampe sekarang dia masih jomblo!

“Makasih ya, Yo. Mau mampir dulu gak?” Tanyaku basa-basi. Aku berdiri di pintu pagar, siap-siap masuk.
“Makasih deh, Sha. Gue mainnya malam minggu aja, boleh gak?” Tanya Tyo dengan senyum boyish-nya.
“Eww!!” Aku pun masuk dan menutup pintu pagar. Dapat kulihat Tyo dari sela-sela pagar. Dia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali masuk ke mobilnya.

* * * * *

From : Tiana – Besties
Message : Cinta, kamu udah sampe rumah belum? Mas Tyo gimana nyetirnya? Ngebut gak? Maaf ya Aku gak bisa nganterin kamu pulang (>.<) Wah, Tiana nanya apa interogasi nih? Pertanyaannya panjang aja. Hahaha. Sambil mengeringkan rambutku dengan handuk, Aku menarik kursi di meja riasku, lalu mulai membalas SMS dari Tiana. To : Tiana – Besties Message : Udah nyampe rumah dari sejam yang lalu, Say. Tenang aja, tadi Tyo nyetirnya gak ngebut kok. Makasih ya :) Sent. Aku pun lanjut mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Ugh, masih harus ngerjain PR, mana besok ada kuis pula. Males banget deh. Kayaknya lebih enak tidur. Oh iya, mana besok ada rapat FEUI CUP lagi. Bakalan sibuk banget deh kayaknya. I hate Mondays!

Monday, June 15, 2009

Tatiana's Diary : PART 9

Selama seminggu setelah Tian dan keluarganya pindah ke Jerman, Aku tidak henti-hentinya menangis ketika malam datang di mana tiap kali Aku dan Tian selesai berbagi cerita melalui YM (kita bisa liat-liatan lewat webcam sih, hehehe).

“I’ll come on your birthday, Tiana.”
“Promise?”
“Promise.”
“Love you.”
“Love you too.”

Aku dan Tian tertawa, menyadari bahwa kadang LDR (Long Distance Relationship) ngebuat kita jadi makhluk super cheesy. Gimana gak? Kita cuma bisa mengekspresikan perasaan kita through words, no other ways.

“Tian, Aku tidur dulu ya, besok pagi Aku SMS.”
“Okay. See you, Girlfriend.”
“See you, Boyfriend.” Aku pun tersenyum dan mencium layar lap top-ku sebelum …

“See you, Boyfriend! Mwah mwah mwah!”

Sebelum Mas Tyo dan Adi menyerobotku dan menicumi layar lap top-ku sampai basah dan Tian pun cuma bisa tertawa-tawa melihat Aku yang sibuk ngusirin Mas Tyo dan Adi dari kamarku.

There’s no need to feel sad. I’ve got a lovely family (read : retarded brothers) and great besties. And I’ve got someone to love and love me return.

Love you.

XOXO,
Tiana.

Saturday, June 13, 2009

Tatiana's Diary : PART 8

Malam ini, di studio band milik Ivan yang udah di-booked Tian selama dua jam ke depan, Tian memutuskan untuk candle light dinner sama Aku. Burger King sebagai menu kita malam ini dan lagu-lagu dari Secondhand Serenade terus mengalun dari iPod touch-nya Tian. Romantis ala anak band.

Aku yang malam ini mengenakan 1960’s England dress (geomatric print-slim-cowl neck), Mary Jane shoes, Baby Phat bag, dan jam tangan Alexandre Christie tampak serasi dengan Tian yang memakai kaos putih bergambarkan band Atreyu, blazer hitam yang kita beli di Endorse, Tebet Sabtu kemarin, black jeans, sepatu Vans bertali warna putih, dan jam tangan Guess kesayangan Tian.

Malam ini Aku berniat untuk menanyakan ke Tian tentang hubungan kita. What are we? A couple? So be it!

Setelah dinner, Aku dan Tian sama-sama duduk di sofa. Tian merangkul pundakku. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku berfikir keras, kapan waktu yang tepat untuk menanyakan tentang kejelasan hubungan Aku dan Tian.

“Tian?”
“Ya?”

Aku membenarkan posisi dudukku. Kini Aku duduk tegak, menghadap Tian. Mataku mencoba untuk menatap matanya. Tian tersenyum, merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Tangan kirinya menyentuh tangan kananku yang dingin.

I don’t know where to start …

“What’s wrong?” Tian menyeka poniku yang sedikit menutupi mataku.
“Tian, what are we?” tanyaku cepat. Aku terlalu gugup.

“Bestfriends?” kini wajah Tian tampak bingung dengan sudden question-ku.
“Bestfriends?” ulangku lagi. Tak percaya.

“Yeah, bestfriends.” Tian mencoba menggenggam tangan kananku lebih kuat lagi, namun Aku mencoba mengelak.
“Bestfriends don’t do this, Tian.” Aku menatapnya dengan tajam. Penuh ketidak percayaan.

“After all these things, we’re just bestfriends? What make you any different with my besties then, huh?” pertanyaanku kali ini benar-benar membuat Tian diam seribu bahasa. Entah kenapa Aku jadi begitu emosional malam ini.

“Look …” Tian akhirnya membuka suara. “I so want you to be my girlfriend …”
Belum selesai Tian menyelesaikan kalimat itu, Aku langsung memotongnya, “Then all you have to do is ask!”

I know, I look like a darn beggar now. But I don’t care.

“Listen …” Tian memegang kedua pipiku, tangannya dingin, tatapan matanya begitu tajam. “There’s a reason why I never asked you to be my girlfriend.”

Aku tidak berkata apa-apa. Karena Aku juga tidak tahu Aku harus berkata apa.

“By the end of semester, my family and I are moving to Germany. We’ll be living there for about three years. You know that my Dad is a Diplomat. This is a price I should pay.” Tian tampak tenang mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang dapat membuat a spoiled Princess seperti Aku menitikkan air mata. Tapi Aku dapat menahannya.

“I want to stay, but Mom wants me to continue my study there, in Germany. She knows what’s best for me.” Seperti bisa membaca pikiranku yang memintanya untuk stay, Tian kembali mengucapkan kata-kata yang terdengar begitu menyakitkan bagiku.

“It’s okay, Tian. I’ll be just fine.” Aku mencoba tersenyum tulus, membohongi perasaanku sendiri yang saat ini sangat ingin menangis. Kenapa? Di saat Aku menemukan seseorang yang tampak sempurna seperti Tian, seseorang itu harus meninggalkanku jauh?

Untuk pertama kalinya, Tian mencium bibirku, Aku membalasnya, dan air mataku pun menetes.

“I swear it’s true, because a girl like you is impossible to find. You're impossible to find …” alunan lirik Fall For You-nya Secondhand Serenade, mengingatkanku pada kejadian dua bulan lalu, di mana Tian mengucapkan kalimat yang kurang lebih sama, sebelum ia mengecup keningku dan memberiku seribu pengharapan.

“Bestfriends don’t kiss, Tian.” Tian pun tertawa kemudian menyeka air mataku dan memelukku erat.
“Then we’re bestfriends in love.” ujar Tian tersenyum.

Thursday, June 11, 2009

Tatiana's Diary : PART 7

Hari Minggu yang benar-benar melelahkan. Dari jam 10 pagi Aku udah berkutat di depan lap top-ku untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahku. Huh, harusnya hari Minggu seperti ini bisa Aku manfaatkan buat nonton koleksi DVD-ku.

Oh iya, pasti kalian penasaran ya gimana kejadian semalem antara Aku dan Mas Tyo? Hihihi. Aku ceritain deh biar kalian gak penasaran.

Semalem Aku memutuskan untuk talk heart to heart sama Mas Tyo. Kita berdua ngobrol cukup lama di kamarnya Mas Tyo.

“Kenapa sih Mas Tyo gak ngizinin Aku dan temen-temen band Mas Tyo kalau sampai ada apa-apa di antara kita? Saling suka gitu misalnya?” Aku duduk di pinggir tempat tidur, membuka jaketku. Sementara Mas Tyo sibuk memainkan gitar klasiknya.

“Tiana, gue cuma mau yang terbaik buat lo. That’s it.”
“So your friends aren’t good enough for me? How about Tian? He’s different!” Aku terdengar sangat persistent saat itu.

“He is. But he’s a new guy. I know nothing about him.” Mas Tyo menaruh gitar klasik berwarna coklat tua itu di sampingnya. Suaranya tetap menunjukkan ekspresi yang tenang, berbeda denganku yang menggebu-gebu menyanggahnya.
“So what? He’s nice, he’s smart, and he knows how to treat a girl like me!” Kini Mas Tyo duduk di sebelahku, menatapku cukup lama.
“You know what will happen to my band when your relationship with him is over?” Mas Tyo berkata dingin sedingin tatapannya padaku.

“Things haven’t even started yet.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Jujur, Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Mungkin apa yang Mas Tyo katakan benar. Apa yang terjadi kalau Aku dan Tian sampai pacaran namun tidak berhasil dan pada akhirnya kami pun putus? Bagaimana hubungan Mas Tyo dengan Tian? Sepertinya Aku terlalu egois.

Aku menunduk, Aku tidak tahu harus berkata apa. Mas Tyo merangkul bahuku kemudian mengelus rambutku dengan lembut.

“Lo tau? Lo emang nyebelin.” Mas Tyo mendorong pelan kepalaku sambil tersenyum.
“Hey, what’s that supposed to mean?” Aku cemberut, mulai sewot.
“It means you got my bless, sister.” Mas Tyo mengacak-acak rambutku.
“Seriously? Thank you!” Aku teriak kegirangan dan langsung memeluk Mas Tyo. Mas Tyo hanya bisa tertawa.

“Udah ngapain aja sama Tian?” Mas Tyo menatapku dengan tatapan jahil.
“Eww!! None of your business!!” Aku menutup muka Mas Tyo dengan bantal yang ada di sebelahku. Aku pun pergi meninggalkan kamar Mas Tyo saat itu juga!

“Hey, I just asked!” terdengar suara Mas Tyo dari dalam kamar. Tentu saja sambil tertawa puas.
Aku meninggalkan kamar Mas Tyo dengan penuh senyum. It’s funny how a simple statement can change a thing.

+ + + + + +

Everything seems to be perfect for this spoiled Princess and that spoiled Princess is me. Aku sama Tian ke mana-mana bareng. Pergi ke kampus, bareng. Makan siang, bareng. Pulang ke kampus, bareng. Pokoknya semua-muanya bareng deh! Kecuali pas lagi pipis di kamar mandi. Hahaha. Everybody who sees us should know what’s going on between us. They should, they’re supposed to.

My besties pun udah tau tentang Aku dan Tian. Regina sama sekali gak terlihat kecewa. Dia malah yang paling semangat nyuruh Aku dan Tian jadian, soalnya ternyata dia juga lagi PDKT sama anak Teknik Mesin, namanya Ramon. Ugh, dasar nih cewek, cepet banget berubah haluan. Hehehe.

Malam itu, anak2 lagi pada nginep rumah Aku, kita lagi Pajamas Party. Seneng deh! Kita marathon nonton DVD Gossip Girl, nyanyi-nyanyi sambil nge-dance, main dandan-dandanan terus foto-foto gila, dan terakhir kita curhat-curhatan.

Sebenernya malem ini kita Pajamas Party bukan tanpa alasan, tapi kita semua sepakat mau ngehibur Sarah yang baru putus sama pacarnya, Galih, anak Akun FEUI juga. Mereka cinlok gitu pas nonton konsernya Bullet For My Valentine di Jakarta kemaren. Padahal setahu Aku, lagu-lagunya Bullet For My Valentine gonjreng semua deh, kenapa bisa cinlok ya? Well, namanya juga cinta. Love is blind and deaf, isn’t it? Hehehe.

Lagi jatuh cinta aja emo, gimana pas putus? Wuih, jangan tanya! Sarah si Emo Girl curhat abis-abisan tentang alasan putus mereka. Awalnya Cuma karena sering ribut-ribut gak penting, kayak ngeributin soal skill-nya Herman Li, guitarist-nya Dragon Force, sampe masalah mantannya Gilang yang freak, yang masih tailing Gilang ke mana-mana. Hang in there, Dear.

Setelah Sarah puas curhat, sekarang anak-anak pada nanya hubungan Aku sama Tian. Udah dua bulan lebih Aku sama Tian kayak gini. Dibilang pacaran, gak. Dibilang gak pacaran, tapi kita udah kayak orang pacaran.

Aku sendiri sebenernya gak ambil pusing sama masalah begini. Maybe Tian wants to take baby steps in our relationship. Why should we be in a rush then? Isn’t it such a good thing? Knowing each other first before getting any deeper?

“Lo gak takut Tian diambil cewek lain, Na?” Regina tampak serius. Walaupun tangan kanannya sibuk mengasah kuku-kuku kirinya dengan nail buffer dari Oriflame.

Jujur, Aku takut. Aku gak tau ke mana arah hubungan Aku dan Tian sekarang. Tian gak pernah bilang “I love you” atau “Would you be my girlfriend?” and so on. Tian cuma pernah bilang, “A girl like you is impossible to find.” Lalu Tian mengecup keningku, sesaat sebelum Aku turun dari mobilnya. Dan Tian bilang hal itu hampir dua bulan yang lalu. Abis Aku sama dia ngopi-ngopi di Starbucks, Sarinah. Aku sih nganggep kita udah jadian. At least kita seperti orang jadian saat ini.

“I don’t know. I’m happy with what I’ve got now.” Aku terdengar sangat mantap dalam mengucapkan kalimat itu. Tapi Aku yakin, gak satu pun dari temen-temen Aku yang tau kalau sebenernya pertanyaan-pertanyaan mereka tentang Aku dan Tian ngebuat Aku berfikir, jangan-jangan Tian cuma mau fooling around sama Aku. “Gosh, should relationship be this complicated? Change the word into relationsh*t if the answer is a yes then!” umpatku dalam hati.

“I think we should get our beauty sleep. It’s now 2 AM, Ladies!” Ochie, orang pertama yang menaiki tempat tidur, menyadarkanku bahwa saat ini Aku sedang bersama teman-temanku. Bukan bersama Tian, di mana Aku bisa menanyakan tentang kepastian hubunganku dengannya. Aku dan teman-temanku yang lain pun segera mengejar Ochie ke tempat tidur dan kami mengelitikinya sampai dia tertawa terbahak-bahak. Typically Ochie. Hihi.

“Good night, Besties. Love you.” Aku pun menarik selimut berwarna pink-ku dan kemudian menutup kedua mataku, mencoba tidur, mencoba melupakan masalah hubunganku dengan Tian. Jika itu bisa dikategorikan sebagai suatu masalah.

Tuesday, June 9, 2009

Tatiana's Diary : PART 6

Aku bolak balik ganti pakaian. Aku bener-bener bingung mau pake baju apa. Jam udah menunjukkan pukul 7, padahal Tian bakalan jemput Aku jam 7.30 tapi sampai sekarang Aku masih belum tau mau pake baju apa.

“Hey hey you you I want to be your girlfriend …” Sony Ericsson C902i-ku berdering. Tian calling …

“Halo, Tian? Di mana?” tangan kananku memegang handphone, tapi tangan kiriku merapikan poniku di depan cermin.
“Gue udah mau nyampe rumah lo sepuluh menit lagi. Udah siap kan?” suara Tian terdengar sangat tenang. Gak panik kayak Aku sekarang.
“Udah kok. See you soon!” karena panik, Aku langsung menutup telfon dari Tian. Padahal kan Tian yang nelfon, kenapa Aku yang matiin telfon duluan ya?

Benar saja, sepuluh menit kemudian Mbak Wati, Asisten Rumah Tangga (bahasa halusnya pembantu rumah tangga) di rumahku, mengetuk pintu kamarku.

“Masuk.”
Mbak Wati membuka pintu kamarku. “Mbak Tiana, ada temennya di luar.”
“Tolong suruh masuk aja, Mbak. Suruh tunggu di ruang tamu. Saya bentar lagi turun.” jawabku sambil menyemprotkan parfum di belakang telinga dan pergelangan tanganku.
“Sudah, Mbak. Malah sekarang temennya Mbak Tiana lagi nonton TV sama Mas Tyo. Permisi, Mbak.” Mbak Wati menutup pintu kamarku.
“Iya, makasih banyak ya, Mbak.” jawabku. Lemas.

Mampus! Mas Tyo di rumah? Bukannya dia lagi main PS di rumahnya Ivan ya? Duh, gimana donk ini? Mas Tyo bisa interogasi Aku abis-abisan. Atau mungkin Mas Tyo bisa marah-marah sama Aku. Belum lagi kalau Mas Tyo bilang ke Tian kalo di antara Aku sama dia gak boleh ada apa-apa. Gosh, things haven’t even started yet but why they seem to be over?

Aku menuruni anak tangga demi anak tangga. Malam ini cukup dingin. Sesuai dengan tema malam ini, Japan Rock Small Gig, Aku mengenakan kaos berwarna hitam bertuliskan “Rock Chick” berwarna pink, jaket ketat ber-hoodie berwarna pink, rok mini lipit berwarna putih, legging hitam, dan sepatu Converse pink.

Untuk urusan rambut, Aku tetap terlihat girly, poni Aku jepit ke belakang, namun rambut Aku model keriting gantung. Aku gak ke salon kok, cuma dari sore Aku emang udah nge-roll rambut supaya nanti pas dilepas modelnya kayak sekarang ini. I must admit I look cute tonight. Hehehe.

Wait, we’ve got a real big problem here! Dari tangga Aku sudah bisa melihat Mas Tyo becanda-becanda sama Tian. Huhuhu. Rasanya pengen balik ke kamar aja deh. Aku bener-bener takut!

“Tiana? What took you so long?” Mas Tyo melihat ke arahku. Aku cuma bisa berdiri kaku bagaikan patung di ujung tangga. “Tian udah nungguin daritadi nih. Nanti telat lho!” Mas Tyo membenarkan posisi duduknya. Tian yang tadi duduk di sebelahnya kini berdiri karena melihat kehadiranku.

Tian ganteng banget malem ini. Dia pake kaos hitam, ada tulisannya, LAMB OF GOD. Aku gak tau itu apa, tapi kayaknya sih nama band gitu. I don’t care though. Hihihi. Tian juga pake blue jeans yang agak belel, sama kaos kaki. Kaos kaki? Sepatunya mana? Oh, pasti tadi dilepas pas masuk rumah. Sopannya. Hihihi.

“Maaf ya lama. Mau berangkat sekarang?” Aku menghampiri Mas Tyo dan Tian.
“Gak juga. Yuk, biar pulangnya gak kemaleman.” Tian tersenyum kemudian mengambil kunci mobilnya yang ia letakan di atas meja.

“Mas, Ayah Bunda mana?” tanyaku ke Mas Tyo yang sibuk gonta-ganti channel TV.
“Ayah Bunda lagi pergi kondangan.” jawab Mas Tyo datar.

“Kalo Adi?” Aku mendekat.
“Adi lagi pergi sama temen-temennya.” Another plain answer from Mas Tyo.

“Gue pergi dulu ya, Bro.” Tian menyalami Mas Tyo, mau gak mau Mas Tyo pun berdiri, mengantarkan kami sampai di pintu.
“Jagain ade gue ya, Bro. Jangan pulang malem-malem. Jangan ngebut-ngebut juga.” Mas Tyo memberikan wejangan-wejangan sakti pada Tian yang lagi make sepatu Vans slip in-nya.

“Siap, Bos!” Tian tertawa kecil. “Pergi dulu ya. Bye.” Tian berjalan menuju mobil Civic-nya.
“Mas, Aku pergi dulu ya. Bye.” Aku menyusul Tian.
“Bye.” Mas Tyo pun menutup pintu rumah. Datar, tanpa senyum. But he’s good at this quick drama scene. Kalo ke Tian, dia senyum, tapi ke Aku? Don’t ask!

+ + + + + +

Oke, jadi ini toh tempat yang namanya Marotti CafĂ©. Tempat ini letaknya di Panglima Polim, Jakarta Selatan, gedungnya punya tiga lantai, gak terlalu besar, malah terkesan sempit. Oh, well …

Aku sama Tian sampai di Marotti Café jam 20.20. Parkiran udah lumayan penuh, akhirnya Tian memarkirkan mobilnya di samping gedung, sehingga kita harus jalan kaki dulu sebelum sampai ke Marotti Café.

Di depan Marotti Café ada stand-stand makanan dan minuman, ada juga yang jual rokok. Ugh, I hate smoke! Untung Tian gak ngerokok. Tian pernah bilang, dia gak ngerti, di lihat dari segi konsumen, ngerokok itu gak ada value added-nya sama sekali, jadi kenapa dia harus capek-capek bakar duit buat sesuatu yang gak value added bagi dirinya? Malah merugikan. Sangat merugikan. Diplomatis ya? Hihihi.

Selain ada stand-stand, banyak juga anak-anak yang nongkrong dengan kostum yang unik-unik. Ada yang rambutnya kayak Dragon Ball, ada yang pake sepatu yang haknya tebel banget kayak buku Intermediate Accounting-nya Kieso, dan malah ada yang make Balaclava!

Oh My God, sumpah ya, Aku hampir ngejerit pas ngeliat ada orang ber-balaclava itu gak sengaja nabrak Aku gara-gara Aku bengong ngeliat orang pake iket pinggang yang ada lampu-lampunya gitu. Keren!

Tunggu, jangan-jangan kalian gak tau lagi balaclava itu apa. Hihihi. Balaclava itu kain item yang biasanya dipakai buat nutupin muka, biasanya sih dipakai sama penjahat atau thugs di luar negeri gitu. Serem deh pokoknya. Kalau gak percaya tanya aja sama Mbah Google. Hehehe.

“Tian …” Aku menarik pelan lengan bajunya.
“Iya?” Tian mendekatkan telinganya ke mukaku.
“Tempatnya serem banget ya?” Aku berbisik di telinganya.

Tian tertawa kecil, kemudian menggandeng tanganku. “Kan ada Aku, gak usah takut.” Aku memantapkan pegangan tanganku. Aku tersenyum. “Kita ke atas yuk, beli tiket dulu.” Tian melihat ke arahku, Aku mengangguk, Tian di depan menggandeng tangan kiriku, Aku mengikutinya masuk ke dalam gedung.

Wuih, it’s even worse here! Tempatnya gelap, penuh asap rokok, Aku mau pulang!

“Tunggu sebentar, Aku beliin tiket dulu ya.” Tian melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menjauhi Aku. Tunggu deh, kayaknya ada yang salah, bener gak sih tadi Tian ngomong ‘Aku’ ke Aku? Bukannya ‘Gue’? Tadi pas di bawah juga kayaknya gitu. Apa Aku salah denger ya?

Tian datang menghampiriku yang daritadi cuma berdiri tegak di dekat tangga, dia membawa dua tiket, dia tersenyum dan kembali memegang tanganku. Lalu Tian mengajakku naik ke lantai tiga soalnya acara nge-band-nya itu di sana.

Tian menunjukkan tiketnya kepada seorang cowok berpakaian paling normal di antara yang lain, kaos hitam dan jeans belel, yang berdiri di dekat tangga menuju ke lantai tiga.

“Dicap dulu, Mas, Mbak.” Cowok tersebut mencap tangan kiri Tian dan tangan kiri Aku. Kayak mau masuk Dufan gitu. Cuma bedanya, cap di sini gede banget, ada tulisannya, Japan Rock Music Festival. Ckckck. Gede aja capnya, padahal gedungnya sempit begini. Bener-bener deh, sentimen pribadi jadinya. Hehehe.

Oh, no … Tangganya aja udah gelap banget, gimana di lantai tiga nanti? Aku semakin erat menggenggam tangan Tian, Tian pun mengeratkan genggaman tangannya, rasanya aman banget deh.

Lantai tiga ada pintu masuknya. Tian membuka pintunya dan kita berdua pun disambut dengan asap rokok dan musik hingar bingar yang bisa bikin gendang telinga Aku rusak saat itu juga. Tian dan Aku memasuki ruangan itu dengan hati-hati. Bukannya apa-apa, agak full house soalnya.

Wajah Tian tampak tenang, beda banget sama Aku. Wajah Aku bener-bener pucet. Gimana gak? Asap rokok di mana-mana, musiknya kenceng banget, belum lagi yang nyanyi teriak-teriak (apa gonggong Aku juga gak tau). Oh, penontonnya juga gak kalah heboh, mereka head banging! Oh, God … I don’t wanna die in this place! I beg You …

“Aduh, kok musiknya begini ya?” Tian sekarang tampak kebingungan, lehernya menjenjang, seperti mencari seseorang di tengah ramai dan rusuhnya ruangan ini.
“Iya, serem banget ya.” Aku melepaskan tanganku dari pegangan tangannya Tian, Aku membenarkan jaketku, Aku berusaha tersenyum ketika Tian melihatku untuk mencari tahu kenapa Aku melepaskan tangannya.

“Kita pergi aja dari sini yuk. Kasian kamu.” Tian merangkul bahuku. Nyamannya … Suer deh, nyaman banget! Secara ya, tinggi Tian 180 cm dan Aku 160 cm. Aku bener-bener ngerasa dilindungin. Tunggu, tunggu, bener kan tadi Tian ngomong ‘Kamu’ bukannya ‘Lo’? Apa Aku salah denger? Apa Aku berhalusinasi gara-gara kebanyakan menghirup asap rokok?

“Temen lo gimana?” Aku gak mau ge-er dulu, takutnya Aku salah denger tadi, jadi mendingan play safe aja, tetep pake ‘Gue-Lo’.
“Nanti Aku SMS dia aja deh. Sekarang kita cari makan aja yuk. Kamu belum makan kan?” Tian melepaskan rangkulannya untuk menatap mataku.

Aha! Dia bener-bener mau ngomong pake ‘Aku-Kamu’, baiklah, mari kita pake ‘Aku-Kamu’ mulai saat ini!

“Belum dunk, kan Aku tau mau ditraktir kamu. Hehehe.” Tian tertawa kecil dan kembali merangkulku. Kita keluar dari ruangan itu saat itu juga.

+ + + + + +

Here we are now. Aku dan Tian sekarang udah ada di Hema, Tebet Indraya Square. Di antara resto-resto yang lain, cuma Hema yang lumayan sepi malam itu, tempatnya juga bagus, nuansa Eropa gitu –ya iya lah, secara restoran Belanda--, belum lagi makanan di sini enak-enak, harganya juga terjangkau dompet mahasiswa.

Aku dan Tian sama-sama pesen Fish and Chips, simple dan mengenyangkan. Cuma bedanya, Aku minum air putih, Tian pesen Orange Juice. Tian seneng banget minum Orange Juice. Alright, noted!

“Kamu udah berapa lama sih main gitar? Kayaknya jago banget.” Aku udah mulai relax sekarang ngomong berduaan aja sama Tian, gak kayak kemarin-kemarin, mau ngomong aja mikir.
“Dari umur 13. Aku belajar sendiri lho!” Tian tampak bersemangat karena kita membicarakan tentang hobinya.
“Oh ya? Hebat banget! Terus-terus? Cerita tentang gitar pertama kamu dunk.” Aku bertanya sambil memainkan sedotan di gelasku. Kebiasaan.

“Gitar pertama Aku itu dibeliin Papa, gak ada merek-nya, karena Papa gak yakin Aku bisa main gitar, jadi kalau toh nantinya Aku emang gak bisa main gitar, Papa gak ngerasa rugi karena gak keluar duit banyak-banyak. Hehehe. Kalau Tyo gimana?”

“Mas Tyo ya? Hahaha. Dia belajar gitar itu pas baru masuk SMA, dia bilang biar eksis di acara sekolah. Tapi bener lho, karena keinginan untuk eksis di setiap acara sekolah, Mas Tyo jadinya terkenal banget di SMA-nya. Salut deh! Bahkan guru BP pun sampe afal sama dia.”

“Lho? Kok bisa?” Tian tampak semangat denger cerita Aku.
“Bisa lah, Mas Tyo kan waktu SMA nakal banget. Well, mungkin lebih ke jail sih. Yang pasti Mas Tyo sering tidur di kelas, makanya sering dipanggil guru BP, Mas Tyo ditanyain, kenapa sering tidur di kelas. Mau tau jawaban Mas Tyo apa?”
“Apa?” muka Tian udah siap-siap ketawa ngakak denger cerita Aku.

“Mas Tyo bilang, ‘Saya kebanyakan makan kangkung, Bu. Kan kangkung kaya akan zat besi tuh, makanya berat, beratnya lari ke mata, makanya Saya ngantuk terus jadinya.’” Aku dan Tian sama-sama tertawa terkikih-kikih.

“Kakak kamu emang cerdas.” Tian meminum Orange Juice-nya untuk menenangkan dirinya.
Iya, Mas Tyo emang cerdas, Mas Tyo emang lucu banget, Mas Tyo juga super jail dan nyebelin, tapi Mas Tyo kayaknya lagi marah sama Aku karena Aku pergi sama Tian dan Mas Tyo sama sekali gak tau akan hal ini sebelumnya.

“Tiana? Kok diem?” Tian melihat ke arahku, membuyarkan lamunanku.
“Gak apa-apa, jadi kangen sama Mas Tyo.” Aku memeletkan lidahku.
“Kalian kayak kembar aja.” Tian meledekku dan kami pun tertawa kecil sebelum kami melanjutakan late dinner kami.

+ + + + + +

“Thank you for tonight ya, Tian. I had so much fun.” Aku melepaskan seat belt-ku.
“My pleasure is on me. Maaf ya tadi Aku bawa kamu ke tempat kayak gitu. I really had no idea.” Tian juga melepas seat belt-nya.
“Gak apa-apa kali. Gimana mau jadi pacar Rock Star kalau ke tempat gitu aja Aku gak tahan.” Aku tertawa kecil.
“Iya ya …” Tian tertawa canggung. “Tiana, Aku boleh bilang sesuatu gak?”

Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak. Tian mau ngomong apa nih? Jadi deg-dean.

“Boleh, mau ngomong apa emangnya?” Aku tersenyum untuk menutupi rasa deg-degan di hatiku.
“Kamu cantik banget malam ini.” Tian menatap mataku.
“Makasih.” Aku malu-malu, mukaku memerah, dan seperti biasa, kalau Aku salah tingkah atau sedang dalam situasi yang bikin Aku canggung, Aku pasti akan merapikan poniku yang sama sekali tidak berantakan.

Cup! Tian mencium pipi kananku. Oh my gosh … Tian mencium pipi kananku! Ingin rasanya Aku melompat-lompat kegirangan, tapi gak bisa. Aku gak bisa lompat-lompat kegirangan karena kakiku dingin, I can’t even feel my toes. Norak ya? Hihihi.

“I … I’m sorry.” Tian menyadari kalau dia baru aja melakukan kesalahan. Tian jadi gugup setengah mati. Mukanya lucu banget!
“It’s okay.” Aku tersenyum manis. Aku sudah bisa menenangkan diriku sendiri. “Makasih ya, Tian.”

Cup! Kini Aku yang mencium pipi kiri Tian dan turun dari mobil. Tian bahkan belum sempat berkata apa pun.

Aku langsung masuk ke dalam rumah. Karena penasaran, Aku mengintip dari jendela. Tian berdiri di dekat pintu mobilnya lalu masuk lagi dan pulang.

“Gosh, he’s awesome!” Aku tersenyum sambil memegang pipi kananku. “He really knows how to treat a girl.” Aku pun membalikan badanku …
“Had some fun?” Mas Tyo berdiri tepat di belakangku. Mukanya dingin. Aku pun hanya bisa diam.

Sunday, June 7, 2009

Tatiana's Diary : PART 5

Minggu kedua kuliah. Dosen-dosen yang baik hati itu mulai memberikan segala macam tugas-tugas perkuliahan. Ada yang dikumpulin pas UTS (Ujian Tengah Semester), ada juga yang dikumpulin secara berkala (misalnya seminggu sekali). Bener-bener baik kan? Huhuhu.

Semenjak nganterin Aku pulang ke rumah Sabtu kemarin, Aku sama Tian jadi sering SMS-an. Hihihi. Maybe it’s too fast to jump into a conclusion, but I guess I know where this leads.

Hari ini Mas Tyo kuliah siang, kemarin malem, Tian nawarin Aku berangkat bareng. Another chance to be alone with him.

“Guten morgen, Tiana.” Tian tersenyum saat Aku membuka pintu rumahku.
“Guten morgen, Tian.” Aku tersenyum.

“Should we go now?” tanya Tian.
“Yuk!” Aku menutup pintu.

“Eh, gak pamit sama Bokap Nyokap lo dulu?” Tian belum beranjak dari tempatnya berdiri tadi.
“Ayah, Bunda, sama Adi udah berangkat dari tadi. Mas Tyo abis sholat Subuh lanjut tidur lagi. Semaleman begadang main Dynasty Warriors 6.” jelasku, Tian pun tertawa kecil.

Tian membukakan pintu mobilnya untukku. Sweet banget ya?! Hihi. Di dalam mobil, kami sama-sama memasang seat belt. Bagiku, pake seat belt bukan hanya karena Aku takut ditilang atau apa, tapi demi keselamatan.

“Bismillah …” Tian pun menyalakan mesin mobil, menginjak kopling, memasukkan persneling, perlahan melepaskan kakinya dari pedal kopling, dan mulai menginjak gas.

Hari ini Tian ganteng banget deh. Dia pake Polo shirt biru tua, black jeans, sepatu Airwalk putih, dan jam tangan Guess. Wangi parfum Tian juga seger banget. Bikin betah deket-deket sama dia. Hehehe.

Sedangkan Aku pake camisole pink muda, bolero pink tua, skinny jeans Logo, sepatu flat Zara, tas cewek Zara, dan jam tanganku pagi itu kebetulan Guess juga. Bersyukur Aku punya rambut lurus, jadi Aku gak perlu repot-repot nyatok, cukup di-blow sebentar, rambut Aku udah well done. Hehehe.

Ngomong-ngomong soal rambut, Aku jadi keinget sama poniku. Fiuh … Untung roll-nya udah Aku copot. Gila aja kalau Aku ketemu Tian masih pake roll poni. Untuk dandanan sih Aku biasa aja, cuma pake mascara dari Maybelline biar mata Aku terlihat segar, lipstick warna Nudie Mocha (juga) dari Maybelline, dan bedak warna Sand Beige dari Caring. Simple kan? Kalau parfum sih andalan Aku ya Just Me-nya Paris Hilton. Abis wanginya enak banget!

Perjalanan pagi ini diiringi sama CD-nya Maroon 5. Bener-bener bikin mood bagus banget deh. Tapi sebenernya gak ada alasan buat bad mood juga secara pagi-pagi Aku udah bisa berduaan sama Tian. Hehehe.

“Rocker bisa juga dengerin Maroon 5?” Aku melirik Tian, lirikan ngeledek lebih tepatnya.
“Sebenernya sih ini CD-nya Kakak gue, gue kan mau menyesuaikan sama selera penumpang.” Tian melirik Aku sesaat, tersenyum, kemudian kembali fokus melihat jalanan.

“Hey hey you you I want to be your girlfriend …” Sony Ericsson C902i-ku berdering. Eh tau gak? HP-ku punya nama lho! Namanya Summer. Cute ya?! Hihi. Oops, sampe lupa. Mas Tyo calling …

“Halo?!” Aku menjawab setelah Aku menekan tombol Answer.
“Tiana, di mana lo?” terdengar suara Mas Tyo dari seberang sana.

“Aku lagi di jalan, Mas. Kenapa?”
“Mobil lo masih ada di rumah. Berangkat sama siapa?”

Duh, gimana ya? Apa Aku harus bohong? Apa Aku harus jujur? Kalau Aku bohong, Aku dosa tapi kalau Aku jujur, Aku bilang Aku dijemput sama Tian, yang ada Aku dituduh yang gak-gak sama Mas Tyo.

Tapi kalau Aku bohong pun, let’s say sekarang Aku berangkat sama Regina yang rumahnya di Jaka Sampurna alias deket juga sama rumahku, berarti nanti Aku harus nyuruh Regina bohong sama Mas Tyo kalau pagi ini Aku berangkat sama dia.

Lagian Regina kan gak tau kalau Aku naksir sama Tian dan kayaknya Tian juga begitu. Well, Aku bilang kayaknya lho ya, belum pasti juga. Duuuhhh, Aku jadi pusing!!

“Tiana? Are you there?” Mas Tyo menegaskan.
“Eh iya, Mas Aku berangkatnya sama Tian. Dia juga ada kuliah pagi.” Aku berusaha se-cool mungkin. Tian melihat ke arahku beberapa detik karena namanya Aku sebut.

“Oh sama Tian. Bagus deh. Minta dianterin pulang sekalian ya? Kelas gue batal, Cuy hari ini. Hahahaha.”
“Lho? Lho? Lho? Kok Mas Tyo malah nyantai gini? Emangnya dia gak curiga?” pikirku dalam hati. “Oh, gitu ya? Iya deh nanti Aku tanyain dia dulu. Ya udah gih mandi dulu sana, pasti Mas Tyo belum mandi deh. Baunya kecium sampe sini nih! Hehehe.” Aku berusaha menguasai suasana hatiku sendiri.

“Bawel lo ah. Yang penting gue tetep ganteng!”
“Wuih, PD!!” Aku menjawab cepat.

“Hahaha. Ya udah ah, abis nanti pulsa gue nelfon lo. Rugi! Salam buat Tian, bilang nyetirnya hati-hati. Bye.”
“Iya, Pak Mister. Bye.” Aku menutup telfonku sambil tersenyum.

“Tyo?” Tian melihat ke arahku yang sedang memasukkan HP-ku ke dalam tas.
“Iya, dia nanya gue berangkat ke kampus sama siapa. Gue bilang sama lo. Terus dia bilang, pulangnya gue juga disuruh bareng sama lo karena hari ini kelasnya dia dibatalin.”

“Mau pulang bareng juga?”
“Eh, gak usah. Ngerepotin. Gue pulang sore hari ini. Mau rapat dance juga.” Aku segera menolak tawaran Tian buat pulang bareng. Aku takut ngerepotin.

“Emang rapatnya jam berapa sampe jam berapa?”
“Belum tau. Mulainya aja baru jam 3. Belum lagi ngaretnya. Biasa lah anak-anak. Hehehe.” Aku berusaha tidak membalas tatapan Tian yang menunggu jawabanku. Takut pingsan. Hahahaha.

“Oh. Gue selesai kelas sih jam 2.” Tian kembali melihat ke arah jalan. Kayaknya dia lagi mikir sesuatu. Soalnya raut mukanya berubah. Jujur, Aku kecewa sih karena dia gak mau nungguin Aku. Tapi kenapa harus kecewa juga? Tian kan bukan siapa-siapa Aku.

“Tapi gue bisa nungguin lo sambil ngeliat anak-anak main futsal.” Tian melihat ke arahku, tersenyum manis.
“Eh, beneran nih gak apa-apa? Kalo gue sampe sore banget gimana?” Aku bener-bener ngerasa gak enak sekarang. Tapi kekecewaanku luntur sih. Hihihi.
“Gak apa-apa. Gue kan bisa nunggu di KAFE.” Tian mengubah persneling.

Tunggu, Aku mau ngejelasin sesuatu nih. KAFE itu stands for Kantin FE. Alias tempat makannya anak-anak FE. Kalau Kantek itu Kantin Teknik, Kancil itu Kantin Cikologi alias Psikologi. Rada maksa sih, hihihi. Well, cuma itu sedikit ilmu yang bisa Aku bagi pagi ini. Gak penting ya? Hahaha.

“Makasih banyak ya, Tian. Maaf gue jadi ngerepotin lo.” Gue melihat ke arah Tian sambil tersenyum.
“Gak apa-apa kali, santai aja.” Tian menatapku, tersenyum, tangan kirinya menyentuh tangan kananku.

Wait, did I just say that his left hand touched my right hand? Did I? Oh yes, I did! Saat itu Aku bener-bener freezing, I can’t think about anything, I can even hardly breath. Aku tau Aku super lebay secara Tian megang tangan Aku juga cuma seperduapuluh detik. Cuma tetep aja … TIAN MEGANG TANGAN AKU!!

+ + + + + +

“Jadi jadwal dance kita itu setiap hari Jum’at jam setengah satu ya, Girls. Thank you for coming.” Ochie yang kita tunjuk sebagai ketua dance mengakhiri rapat. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima, alhamdulillah Aku udah sholat Ashar tadi, jadi sekarang bisa langsung pulang sama Tian deh.

“Tiana, lo lagi PDKT sama Tian ya?” Tiba-tiba Regina mencolek lenganku. Aku bener-bener gak nyangka dia bakal nanya kayak gini.
“Hah? Tau dari mana lo? Dasar bigos!” Aku tertawa kecil berusaha menutupi kegugupanku.
“Abis tadi lo berangkat bareng sama dia, kemarin Sabtu juga pulang dianterin sama dia. Iya kan lo PDKT sama dia?” Regina mengedipkan matanya.
“Ngaco ah! Kebetulan aja rumah kita deketan kali.” Aku mencoba memberikan alasan yang masuk akal.
“Cinta tumbuh karena biasa lho, Say!” Sarah tiba-tiba sudah ada di sebelahku.
“Bisa aja lo!” Aku mencubit pelan lengan Sarah.
“Awww …” Sarah menahan sakit sambil tertawa.

“Tapi bukannya lo gak boleh naksir-naksiran sama temen se-band-nya Tyo ya? Klo naksir-naksiran aja udah gak boleh, apalagi pacaran?” raut wajah Tasha menunjukkan keseriusan terhadap apa yang baru aja dia ucapin.

Deg! “She’s totally right. Should I perish this feeling?” pikirku dalam hati. “Hahaha. Orang gak ada apa-apa, jadi ya santai aja.” Aku berusaha menutupi kegugupanku lagi.

“Kalo emang gak ada apa-apa, boleh donk gue yang PDKT sama Tian?” Regina tersenyum centil, namun Aku tahu dia tidak becanda, dia serius. Aku tau Regina suka sama Tian dari kali pertama mereka ketemu.

“Boleh aja.” lagi-lagi Aku berusaha menutupi kegugupanku. Tasha melihat ke arahku, penuh arti. Mungkin cuma Tasha yang tau apa yang Aku rasakan saat ini. Aku melihat ke arahnya dan tersenyum, senyuman ‘I’m okay, bestfriend. You don’t need to worry.’

Beep. Beep.

From : Tian FEUI
Message : Udah selesai rapatnya? :)

Aku pun langsung membalas.

To : Tian FEUI
Message : Udah. Gue ada di basement. Lo di mana? Biar gue yang ke tempat lo :)

Beberapa menit kemudian, Tian dateng ke basement. Gang dance-ku pun menyapanya satu per satu.

“Tian nyari siapa?” Regina berdiri menghampiri Tian.
“Nyari Tiana.” Tian tersenyum.
“Kok nyarinya Tiana sih? Sekali-sekali nyariin Regina donk.” Regina mendorong pelan bahu Tian. Tian hanya tertawa kecil.
“Makanya lo ngutang dulu sama Tian, baru nanti dia nyariin lo.” Ochie meledek Ragina.
“Siaul lo!” Regina cemberut.

“Yuk!” Aku berdiri menghampiri Tian. “Gue cabut duluan ya, Girls. Bye!” pamit ku.
“Duluan ya semua.” Tian pamit sambil memberikan senyum manisnya kepada teman-temanku. Sopan banget!

“Eh, eh … Tunggu!” Regina menarik tangan Tian. Tian pun membalikan badannya. Dia kaget banget kayaknya.

“Can I have your number, please?” Regina tersenyum centil, tangan kanannya sudah memegang HP. Teman-temanku yang lain pun bersorak-sorak. Muka Tian memerah. Aku hanya senyum, lagi-lagi senyuman untuk menutupi kegugupanku.
“Sure.” Tian berusaha tersenyum.

“Berapa?” Regina menekan angka-angka yang disebutkan Tian kemudian menyimpannya.
“Sip deh. Makasih ya, Tian. Later!” Regina kembali tersenyum centil dan berjalan menjauhi Aku dan Tian, Regina kembali pada teman-temanku dan mereka semua tertawa centil. Aku kembali melambaikan tanganku dan mereka membalas dengan memberikanku air kiss.

+ + + + + +

Di mobil Tian. Hening. Hujan. Lagu-lagu Michael Buble mengalun dari CD player mobilnya Tian. It should be romantic.

“Are you okay?” akhirnya Tian memecah keheningan, dia melihat ke arahku.
“I’m okay.” Aku menatap matanya sesaat, lalu memalingkan pandanganku ke arah jendela yang basah.

“If you’re okay, then why are we in this awkward silence?” Tian tersenyum. “Gosh, he can kill me with that irresistible smile!” pikirku dalam hati.
“I think I’m just a little bit unwell.” Aku berusaha tersenyum. “Ugh, Tian tau gak sih lo kalo gue jealous? Huh!” jeritku dalam hati. Iya, dalam hati aja, supaya dia gak denger.

Tian memegang keningku. “Mungkin lo kecapekan.” wajah Tian terlihat serius.

“Iya, gara-gara tugas kampus banyak banget kayaknya.” Aku berusaha tersenyum. Aku gugup.
“Iya nih, dosen-dosen kita sadis banget ya?” Tian tertawa kecil. Cute. “Eh, hari Sabtu malem ada acara gak?” Tian kembali melihat ke arahku.

“Kayaknya sih gak ada? Kenapa?”
“Mau nemenin gue ke Marotti CafĂ© gak? Band temen SMA gue manggung.”
“Sounds great.” Aku tersenyum lebar. Aku udah lupa kalo tadi Aku jealous karena Regina nanya nomor HP-nya Tian. Hihihi. Tapi tunggu deh, kenapa Aku harus jealous ya? Aku kan bukan siapa-siapanya Tian.

“Aliran musik mereka Japan Rock gitu. Bakalan banyak yang pake kostum, tapi kita sih gak perlu kayak gitu.” mata Tian tampak berbinar-binar. Mungkin dia seneng kali ya gue mau diajak ‘what-so-called-date’ sama dia. Ge-er mode : ON nih. Hahaha.

“Hahaha. Lagian gue juga gak punya kostum-kostum Jepang gitu kali.” Aku tertawa geli. Tapi sebenernya Aku lagi mikir, kalo aja Aku punya kostum Jepang gitu, what would I be ya? Sailormoon would fit on me. In my dream! Hahaha.

“Jadinya lo mau kan?”
“Iya, gue mau.” Aku tersenyum. “Ihiy! Another chance to be alone with him!” ingin rasanya Aku loncat-loncatan di trampoline saat mengucapkan kata-kata itu.

Friday, June 5, 2009

Tatiana's Diary : PART 4

D-Day.

Kok tumben-tumbenan Aku deg-degan kayak gini ya? Padahal biasanya Aku gak pernah demam panggung. Masalah koreografi? Gak mungkin. Tarian ini pernah Aku dan temen-temen Aku bawain sebelum libur semester kemarin pas ada acara di Universitas Paramadina. Jadi kita udah afal mati deh sama setiap gerakannya. Tapi bukan berarti kita gak latihan lagi buat demo kali ini. Aku sama temen-temen tetep latihan kok seharian kemarin dan hasilnya memuaskan.

Kostum? Oke. CD? Oke. CD player? Oke. Apa ya yang kurang? Huh! Bismillah aja deh. Gak berapa lama kemudian MC memanggil ekskul kami, “Inilah demo dari Seni Gerak dan Budaya Tari FEUI …” MaBa alias Mahasiswa Baru pun menyambut kami semua dengan tepuk tangan yang meriah.

Regina, Aku, Ochie, Tasha, dan Sarah membentuk formasi awal. Penonton pun terdiam, menyimak kami dengan seksama.

“It’s all in your mind, in your mind …” CD player memainkan In Your Mind-nya Anggun. Kami pun memulai koreografi kami. Penonton kembali bertepuk tangan, beberapa mata terlihat sangat mengagumi gerakan kami. Kami tersenyum semanis mungkin. Ini lah saat-saat yang paling Aku suka ketika Aku menari. Aku bisa mengekspresikan perasaanku, Aku juga merasa menjadi pusat perhatian semua orang di mana all eyes on me. It’s such a great feeling, I’m telling you.

Mata Aku terus mencari sosok Tian. Di mana sih anak itu? Katanya mau dateng. Oops, ternyata dia gak bohong! Dia dateng! Ihiy! Tapi kok? Lho? Lho? Kenapa ada Mas Tyo juga? Ada Joe, ada Ivan, dan ada Ray juga. Ugh! Pasti mereka mau bikin rusuh deh!

Aku berhasil menangkap mata Tian yang penuh kekaguman menatap mataku. Hihihi. Bukannya ge-er, tapi Aku bisa tau dari cara dia senyum. Dia memberikan Aku senyuman termanisnya. Penuh arti. Semakin semangat lah Aku menari saat itu.

Lagu-lagu pun berganti. Dari In Your Mind-nya Anggun, Touch-nya Amerie, Button-nya Pussycat Dolls, sampe lagu terakhir, Get Up-nya Ciara. Lagu ini penuh arti banget. Aku percaya Tian pasti tau kalau lagu ini menyuarakan hatiku banget. Gimana gak, selama lagu ini diputer, mataku dan mata Tian terus bertemu. Kami saling menatap, saling melempar senyum penuh arti.

“The way you look at me, I’m feeling you. I just can’t help it tryin’ to keep it cool. I can feel it in the beat, when you do those things to me. Don’t let nothing stop you move. Ring the alarm. The club is jumping now so get up!”

BOOM!!

Thanx to Mas Tyo dan Joe yang udah nge-remix lagu-lagu ini sehingga CD dance kami jadi super oke. Apalagi di bagian akhir diberikan efek suara bom yang berarti berakhirnya tarian kami.

Para mahasiswa baru itu gak henti-hentinya bertepuk tangan. Ada beberapa panitia Ospek yang wolf whistling, termasuk Mas Tyo dan temen-temennya. Tian tersenyum dan tepuk tangan. Sesekali tertawa melihat tingkah laku temen-temen se-band-nya yang sumpah moron abis saat itu. Hihihi.

“Wuih, keren abis!!” Mas Tyo disusul temen-temen se-band-nya menyalami Aku dan temen-temenku.
“Sha, tadi lo keren abis deh.” Mas Tyo memuji Tasha.
“Aww, to twiiiitt …” Tasha menanggapinya dengan sinis.
“Iya, tambah keren lagi klo tadi lo pake topeng Reog Ponorogo!! Huahahahaha!!” Mas Tyo kembali meledek Tasha. Kita semua pun tertawa.
“Rese lo!!” Tasha melemparkan handuknya ke arah Mas Tyo. Mas Tyo berhasil menghindar.

“Eh, kenalin gitaris band kita yang baru nih …” Joe menarik tangan Tian yang daritadi hanya senyum-senyum ngeliat kita.
“Tian …” Tian menyalami temen-temenku satu persatu. Mulai dari Tasha, Ochie, Sarah, dan Regina. Senyum manisnya tetap tersungging di wajah tampannya.

“Woy udah woy!! Mau salaman berapa lama?!” ledek Ivan sambil manarik tangan Tian yang digenggam Regina.
“Nyangkut … Hehehehe …” Regina pun tersenyum sambil melepaskan tangan Tian, begitu juga Tian. Tetap tersenyum seperti biasa. Namun air mukanya berubah, jadi canggung.

“Dasar nenek lampir ganjen lo!! Hahahaha!!” Joe mengacak-acak rambut Regina.
“Iiiihhhh … Dasar playboy butut!!” Regina segera mencubit lengan Joe. Hihihi.

Harus Aku akui, kalau temen-temen Aku sama temen-temennya Mas Tyo udah ngumpul, orang-orang bisa ngira ada pertandingan Persija vs Persib, abis ramenya rame banget, kayak penonton di stadion. Hahahaha.

“Eh, gue abis ini mau main futsal dulu sama anak-anak, lo mau pulang duluan apa nunggu gue main futsal?” tanya Mas Tyo sambil mendekat ke arahku.
“Gimana sih, Mas? Aku kan gak bawa mobil. Lama gak mainnya? Pasti pake acara mehek-mehek segala macem deh!” ujarku sebal sambil berjalan ke arah tempat Aku menaruh tasku, Mas Tyo mengikutiku dari belakang.

“Ya elah, bawel banget nih bocah. Nebeng sama Regina aja ya? Bawa mobil kan tuh anak?” Mas Tyo mencari sosok Regina. “Gina, lo bawa mobil kagak?”
“Bawa, tapi gue mau jemput Bokap di bandara. Kenapa?” Regina teriak dari kejauhan karena lagi asyik ngobrol sama Tian. Aku iri. Hihihi. Becanda. Tian hanya terbengong melihat Aku dan Mas Tyo.

“Gue aja yang nganterin Tiana pulang. Gue kan gak main futsal.” Tiba-tiba aja Tian berjalan menuju ke tempat Aku dan Mas Tyo berdiri.
“Aduh, gak usah. Ngerepotin …” Aku berusaha menolak tawarannya. Karena salah tingkah, Aku jadi merapi-rapikan poni. Kebiasaan yang aneh. Hihihi.

“Gak apa-apa niy, man?” Mas Tyo melihat ke arah Tian yang 5cm lebih tinggi daripada dirinya.
“Gak apa-apa. Gue abis ini langsung balik kok.” Tian tersenyum.

“Gak malem mingguan? Hehehe.” tiba-tiba Tasha yang sudah ada di sebelahku meledek Tian.
“Hahaha. Malem mingguan sama siapa?” Tian tertawa. Canggung. Jadi makin imut. Sumpah!
“Kali aja …” Tasha memeletkan lidahnya, tangannya tetap merapikan barang-barang bawaannya ke dalam tas.

“Lo kali yang malem mingguan sama Pak Surya. Dia masih single lho!! Hahahaha.” Mas Tyo paling gak tahan ngeliat Tasha ‘nganggur’ bawaannya pengen diledekin terus. Tapi gak tau kenapa Pak Surya, dosen killer kita yang dipilih sebagai bahan ledekan kali ini. Karena minggu depan Mas Tyo mau kuis kali. Hihihi.

“Lo aja sama keluarga lo yang metal-metal!” Tasha melemparkan tatapan sinis ke arah Mas Tyo.
“Enak aja lo! Ogah banget gue malem mingguan sama Pak Surya!” Aku protes.
“Hahahaha. Gue lupa klo lo adenya si jelek ini, Say.” Tasha memeluk diriku yang berdiri di sebelahnya.

“Cuy, udah jam segini nih. Yuk buruan!!” Joe berteriak. Sementara Ivan sama Ray udah berjalan menjauhi kami.
“Iye iye …” Mas Tyo ikut-ikutan teriak. “Ya udah, gue main futsal dulu ya. Jaga ade gue baik-baik ya, Bro!” Mas Tyo menepuk lengan Tian.
“Siap, Bos!” Tian tertawa kecil.

“Sha …” Mas Tyo menoleh ke arah Tasha yang lagi ngerumpi sama Ochie, Sarah, dan Regina.
“Gak ada kiss for luck buat Ayank Tyo nih?” Mas Tyo menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya.
“Najiiiiiissssss!!!! Pergi sana!! Shoo shoo!!” Tasha teriak histeris. Mas Tyo pun tertawa sambil berjalan menyusul Joe, Ray, dan Ivan.
“Mau balik sekarang?” Tian bertanya lembut kepadaku.
“Yuk.” Aku membalasnya dengan senyum.

Aku dan Tian pun pamit pulang. Ochie, Tasha, Sarah, dan Regina mau nunggu capek mereka ilang dulu baru pulang, soalnya mereka nyetir sendiri, gak kayak Aku yang disetirin. Hohoho.

+ + + + + +

Ini pertama kalinya Aku berduaan aja sama Tian. Ini pertama kalinya juga Aku canggung. Aku speechless, Aku bingung, Aku gak tau mau ngomong apa.

Every Hot Girl is A Rock Star-nya Paul Gilbert mengalun dari CD player-nya Tian.

“I’m hot, I’m a Rock Star then. Hihihi.” Entah kesambit apa, tiba-tiba Aku punya keberanian buat ngomong kayak gitu. Stoopid me!!

“Yes, you are.” Tian tersenyum melihatku, Aku pun jadi salah tingkah.
“Eh, mau ke Cheese Cake Factory dulu gak? Lagi pengen minum Hot Chocolate nih” Tian bertanya, melihat ke arahku, tetap tersenyum.
“Mau banget!!” tiba-tiba Aku seperti melompat kegirangan, wajahku pasti terlihat excited sekali saat itu. Bodo amat deh, yang penting Aku mau makan Blueberry cake. Hmm … Yummy!!

Sepanjang perjalanan menuju Cheese Cake Factory yang berada di Tebet, Aku dan Tian ngomongin segala macem. Mulai dari musik, film, gosip artis, gosip kampus, makanan, sampe hal-hal gak penting lainnya.

Aku ngerasa nyambung banget ngomong sama Tian. Anaknya juga lucu. Aku gak percaya dia bisa nge-jayus lho. Tapi jayus-annya itu sukses banget ngebuat Aku tertawa terbahak-bahak, sesekali Aku memukul pelan lengannya. Lucu banget ngeliat dia menahan sakit sambil tetap berusaha tertawa.

Tau hal yang paling Tian suka kalau Aku ketawa? Muka Aku. Tian bilang muka Aku jadi merah padam, kayak kepiting direbus. Huh!! Enak aja muka Aku disamain kayak kepiting. Gak sekalian disamain sama sotong sekalian biar lebih seru?!

Tian memarkiran mobil Civic-nya di parkiran Cheese Cake Factory yang untungnya masih tersisa satu itu. Setelah nungguin Aku nyisir rambut, Tian keluar dari pintunya. Ketika Aku mau buka pintu, Tian segera membukakan pintunya untukku.

“He’s such an angel from heaven!” bisikku dalam hati.

Tian tersenyum manis. Aku berjalan beberapa langkah, menunggu Tian yang lagi menutup pintu, dan kemudian mengunci mobilnya dengan remote yang terpasang bersebelahan dengan kunci mobilnya. Kami pun sama-sama memasuki Cheese Cake Factory. Untung masih ada meja untuk dua orang di balkon.

Gak lama kemudian, pelayan datang menghampiri kami, memberikan kami buku menu. Karena Aku udah sering ke sini, makanya Aku gak perlu lagi buku menu untuk tahu mau pesan apa, karena Aku udah tahu Aku mau pesan apa. Hehehe.

“Saya Iced Chocolate sama Blueberry Cake-nya yang kecil ya, Mas.” Aku menunggu sang pelayan menyatat pesananku.
“Saya pesan Hot Chocolate aja deh.” Tian melihat ke arah sang pelayan, tangannya tetap memegang buku menu.
“Kuenya, Mas?” tanya sang pelayan ramah.
“Gak deh, Mas. Itu aja.” Tian tersenyum, memberikan buku menu kepada sang pelayan, Aku pun ikut memberikan buku menu tersebut.

“Saya ulang ya pesanannya. Satu Iced Chocolate, satu Blueberry Cake ukuran kecil, sama satu hot chocolate.”
“Yup!” Aku mengangguk.
“Makasih ya, Mas.” Aku dan Tian berbarengan mengucapkan terima kasih kepada sang pelayan. Sang pelayan pun berlalu sambil tersenyum.

Malem itu romantis banget. Udaranya segar, langit tampak cerah sehingga bintang-bintang terlihat jelas, belum lagi lagu-lagu yang diputar, romantis-romantis semua. Jadi kebawa suasana nih. Hihihi.

“Tarian lo bagus, udah berapa lama nge-dance?” Tian memajukan kursinya agar lebih dekat dengan meja kami.
“Wah, gue mah nge-dance dari masih SD. Well, awalnya sih tarian tradisional, tapi pas SMP, gue berubah haluan jadi tari modern. Tapi gue tetep bisa tari tradisional kok.” Wajahku menunjukkan keseriusan. Tian tertawa kecil.

“Lho? Kok ketawa?” Aku bingung.
“Muka lo lucu klo lagi serius gitu. Hahaha.” Kali ini volume tawanya lebih besar.
“Rese!” tanpa sadar, Aku pun memonyongkan mulutku.
“Sekarang malah kayak Donald Duck!” tawa Tian semakin keras. Tanpa sadar Aku menutup mulutku dengan tangan kananku. Kami berdua pun sama-sama tertawa.

Gak berapa lama setelah percakapan gak penting kita itu, sang pelayan membawakan pesanan kami. Hm … As I imagined, it’s yummy!!

Aku kalau udah ketemu Iced Chocolate dan Blueberry Cake bisa dipastikan bakalan anteng banget. Mau Barrack Obama lewat kek, mau Syaiful Jamil jadi presiden kek, mau Avenged Sevenfold konser kek ---wait, kalau Avenged Sevenfold konser, Aku mah dengan ikhlas meninggalkan Iced Chocolate dan Blueberry Cake-ku dan menonton konser mereka— Aku bisa dipastikan tidak bergeming.

Melihat Aku sibuk dengan duniaku sendiri, Tian tersenyum. Sesekali dia menyeruput Hot Chocolate-nya.

“Alhamdulillah … Kenyaaannnggg …” Aku pun membersihkan bibirku dengan tissue yang tersedia. Tiba-tiba Tian juga membantu Aku menyeka bibirku dengan tissue yang daritadi memang dipegangnya. Tanpa sadar, Aku meletakkan kedua tanganku di atas meja, di samping piring Blueberry Cake-ku. “What’s on earth makes him doing it to me? Brain freeze, can’t think!” Aku deg-degan setengah mati.Tian tersenyum.

“Udah …” dia menaruh tissue tersebut di dekat cangkirnya.
“Thank you.” Aku tersenyum malu-malu.
“Udah yuk, udah malem. Gue gak enak sama Tyo, nanti dikira gue bawa lo kabur lagi. Hahahaha.” Tian memundurkan bangkunya menjauh dari meja.
“Yuk!” Aku pun melakukan hal yang sama, kemudian berdiri.

Tian mentraktir Aku malam itu. Dia bilang sih sebagai hadiah karena tarian Aku keren banget hari ini. Dasar cowok, bisa aja, bilang aja gengsi dibayarin cewek. Hihihi.

“Makasih ya, Tian udah nganterin gue dan traktir gue Cheese Cake malem ini.” Aku berdiri di depan pintu masuk rumahku, menghadap ke Tian yang berdiri berhadapan denganku.
“Mau mampir dulu gak?” tanyaku ramah. Secara ya masih jam 8 juga. Malam minggu itu malamnya anak muda, Bung. Hahahaha.

“Makasih deh, lain kali aja.” Tian tersenyum lagi padaku. “Kapan-kapan mau kan makan di Cheese Cake Factory lagi?” tanya Tian sambil memainkan kunci mobilnya. Grogi kah dia? Who knows? :p
“Traktir ya?” Aku memeletkan lidahku.
“Beres!” Tian tertawa kecil. “Ya udah deh, gue pulang dulu ya. Salam buat Tyo. Bye.” Tian pun pamit.
“Bye.” Aku melambai kecil ke arahnya.

Setelah mobil Tian keluar dari halaman rumahku, Aku langsung masuk ke rumah dan pergi ke kamarku. Di balik pintu kamar Aku tak tahan untuk menutup wajahku dengan kedua tanganku.

“Ya Allah, thank you for today. I really had a blast!!” Aku senyum-senyum sendiri dan beranjak ke meja rias untuk membersihkan wajahku sebelum Aku mandi.

Wednesday, June 3, 2009

Tatiana's Diary : PART 3

Malam itu hujan deres banget, bener-bener bikin ngantuk. Makan malem udah, sholat Isya udah, pake krim muka juga udah. Sekarang enaknya ngapain ya? Online aja kali ya? Aku pun membuka laptop-ku dan menyambungkannya ke modem. Seperti biasa, Aku mengecek email-email-ku, Twitter (micro blogging yang membatasi kita buat nge-tweet sebanyak 140 karakter), Facebook, dan eBuddy.

1 Friend Request. Hm, siapa ya? Septian Anto Nugroho. 35 mutual friends. Wah, jangan-jangan temenku. Confirm. Karena penasaran dan sekarang dia udah jadi temenku, Aku udah bisa ngeliat profile dia. Liat ah …

WHAT??!! Ini Facebook-nya Tian!! Kok dia bisa tau Facebook Aku ya? Huhuhu. Harus lebih hati-hati kalau nge-set status nih, bisa-bisa dia tau kalau Aku seneng ngeliatin dia. Hihihi.

Septian Anto Nugroho
Sex : Male
Birthday : July 07, 1989
Relationship : Single
Religion : Islam

Aku pun senyum-senyum sendiri saat Aku melihat foto-fotonya. Oh, ternyata Papanya yang Jawa, Mamanya yang Jerman, gak heran anaknya ganteng begini. Hihihi. Tian juga punya dua kakak perempuan, cantik-cantik banget deh!!


Septian Anto Nugroho : “Hi :D”

Oh My God, Tian juga lagi online rupanya, ngajak chatting pula!! Aduh, harus jawab apa nih?

Tatiana Indira Notosudiro : “Hi juga :D”
Septian Anto Nugroho : “Lagi ngapain? :)”

Aduh, beneran deh, perut Aku mules!!

Tatiana Indira Notosudiro : “Lagi online aja nih :D Lo sendiri lagi ngapain?”
Septian Anto Nugroho : “Lagi ngeliat foto-foto lo. Hahaha. Gak apa-apa kan?”

Tatiana Indira Notosudiro : “Wah, jadi malu!! (>.<) Eh, lo anak Manajemen ya? Gue kok gak pernah ngeliat lo di kampus ya?”
Septian Anto Nugroho : “Iya, gue lumayan sering sekelas sama Joe kok. Mungkin karena beda gaulnya kali ya :) Gue abis liat foto lo manggung niy. Wah, anak dance ya? Eksis donk di kampus? :p”

Tatiana Indira Notosudiro : “Hahaha. Ngeledek nih? :p Iya, gue emang anak dance, lagi siap-siap buat demo depan MaBa nih, wish me luck ya ^^”
Septian Anto Nugroho : “Siap!! Kapan demonya? :)”
Tatiana Indira Notosudiro : “Sabtu ini di basement. Dateng aja klo gak ada acara :D”

Stupid me!! Stupid me!! Ngapain juga Aku nyuruh dia dateng ke acara demo
ekskul dance? Kalau dia gak mau dateng gimana? Kalau dia pikir Aku ini kecentilan gimana? Duh …

Septian Anto Nugroho : “Iya, nanti gue dateng deh :) Eh, gue off dulu ya, belum sholat nih :p Nite :)”
Tatiana Indira Notosudiro : “Hihihi. Nitey nite :)”

Ah, I can’t believe it!! Aku baru aja chatting sama Tian. Huhuhu. Bisa-bisa malah gak tidur nih karena senyum-senyum sendiri.

+ + + + + +

Pagi itu Aku berangkat sendiri ke kampus dengan Honda Jazz pink-ku. Mas Tyo gak ada kuliah pagi, adanya kuliah jam 2. Kalau udah tau gitu, mana mau dia berangkat pagi-pagi bareng Aku? Huh, dia lebih milih tidur! Padahal kan kalau kita berangkat bareng, bisa irit uang bensin. Terus uang bensin yang Ayah kasih buat Aku bisa ditabung terus dibeliin DVD seri di Ambasador. Mas Tyo emang bukan anak Ekonomi sejati!

Setelah parkir dengan susah payah, Aku pun berjalan ke arah gedung kuliahku, Gedung A.

“Masih jam setengah sembilan, kelasku baru mulai setengah jam lagi.” Pikirku dalam hati. Maka Aku memutuskan buat duduk-duduk di Makara, sebuah taman yang menjadi pusat Fakultas Ekonomi ini di mana di tengah-tengah taman ini terdapat sebuah kolam yang tengahnya ada Makara-nya. Makara itu lambang dari universitas kami tercinta, yang gak lain dan gak bukan Universitas Indonesia.

Aku pun duduk di salah satu bangku. Aku mulai mengeluarkan majalah Cosmo Girl-ku dan mulai membaca dengan khusyuknya.

“Nanti ada kuis mata kuliah Cosmo Girl ya?” tanya seseorang yang duduk di sebelahku.
“Hah?” Aku terkejut dengan pernyataan orang tersebut dan hanya bisa terbengong bodoh.

“Astaga! Kok Tian bisa ada di sebelah Aku? Kapan nih anak datengya?” Aku berpikir keras.
“Hahaha. Becanda kali.” Tian tertawa sambil membenarkan posisi duduknya.

“Sendirian aja, Tyo mana?” Tian menatap mataku.

“Ya Tuhan, ingin rasanya Aku menceburkan diriku ke kolam saat ini juga. Tatapan matanya itu …” Aku mulai mengkhayal hal-hal bodoh.

“Mas Tyo mah masih tidur jam segini soalnya dia kan kuliahnya jam 2.” Aku berusaha senyum se-cool mungkin.
“Gimana, udah siap buat demo hari Sabtu?” Tian tersenyum manis.

“Sumpah, Kali ini Aku pengen lari keliling UI. Gak kuat ngeliat senyum manisnya.” Aku mulai mengkhayal hal bodoh lainnya.

“Eits, udah donk. Dateng ya.” Lagi-lagi Aku mengajaknya dateng. Kayaknya otak Aku udah ketuker sama otaknya Mas Tyo deh, abis Aku jadi error begini.
“Iya, nanti gue dateng deh. Gue kan mau liat lo nge-dance. Hehehe.” Tian tertawa kecil. “Eh, boleh minta nomor telfon lo?” Tian mengeluarkan HP-nya. “Sony Ericsson C905. Hohoho. Kameranya 8MP, pasti oke klo foto-foto Aku sama Tian mengisi folder picture-nya.” Ah, lagi-lagi Aku mengkhayal.

“Boleh. 0586 …”
“Wah, sama-sama M3. Asyiiikkkk …” belum selesai Aku menyebutkan nomorku, Tian udah nyamber.

“Eh, berapa tadi? Ulang donk.” Tian pun sadar karena dia udah motong kalimatku, dia jadi gak denger nomor yang Aku sebutin tadi.
“Sini, gue aja yang nulisin.” Aku pun mengambil HP-nya dan mulai menyimpan nomor telfonku di HP kerennya itu. “Nih udah gue save. Tiana FEUI ya.” Aku menyerahkan HP-nya.

“Thank you, Tiana.” Senyum Tian kembali tersungging di wajahnya. “Eh, lo sadar gak sih kalo nama kita hampir mirip, Tian, Tiana.” Tian memasukkan HP-nya ke kantong celananya.
“Hahaha. Iya yah, cuma beda satu huruf doank.” Aku tertawa karena baru sadar kalo ternyata nama panggilan kita mirip. “Eh, nomor HP lo berapa?” Aku jadi inget klo daritadi Aku belum mendapatkan nomor HP-nya Tian.

“Ada deh. Hehehe. Nanti gue SMS atau gak gue telfon deh. Gue masuk kelas dulu ya. Bye.” Tian beranjak dari bangku taman dan berlalu pergi.
“Rese. Bye.” Aku pun tersenyum. “God, he said that he wanted to text me or call me. What am I supposed to do?” Aku berbisik pada diri sendiri, memasukkan majalah Cosmo Girl-ku ke dalam tas, dan beranjak dari bangku taman.

“What a good morning.” senyuman menghiasi wajahku pagi ini.