D-Day.
Kok tumben-tumbenan Aku deg-degan kayak gini ya? Padahal biasanya Aku gak pernah demam panggung. Masalah koreografi? Gak mungkin. Tarian ini pernah Aku dan temen-temen Aku bawain sebelum libur semester kemarin pas ada acara di Universitas Paramadina. Jadi kita udah afal mati deh sama setiap gerakannya. Tapi bukan berarti kita gak latihan lagi buat demo kali ini. Aku sama temen-temen tetep latihan kok seharian kemarin dan hasilnya memuaskan.
Kostum? Oke. CD? Oke. CD player? Oke. Apa ya yang kurang? Huh! Bismillah aja deh. Gak berapa lama kemudian MC memanggil ekskul kami, “Inilah demo dari Seni Gerak dan Budaya Tari FEUI …” MaBa alias Mahasiswa Baru pun menyambut kami semua dengan tepuk tangan yang meriah.
Regina, Aku, Ochie, Tasha, dan Sarah membentuk formasi awal. Penonton pun terdiam, menyimak kami dengan seksama.
“It’s all in your mind, in your mind …” CD player memainkan In Your Mind-nya Anggun. Kami pun memulai koreografi kami. Penonton kembali bertepuk tangan, beberapa mata terlihat sangat mengagumi gerakan kami. Kami tersenyum semanis mungkin. Ini lah saat-saat yang paling Aku suka ketika Aku menari. Aku bisa mengekspresikan perasaanku, Aku juga merasa menjadi pusat perhatian semua orang di mana all eyes on me. It’s such a great feeling, I’m telling you.
Mata Aku terus mencari sosok Tian. Di mana sih anak itu? Katanya mau dateng. Oops, ternyata dia gak bohong! Dia dateng! Ihiy! Tapi kok? Lho? Lho? Kenapa ada Mas Tyo juga? Ada Joe, ada Ivan, dan ada Ray juga. Ugh! Pasti mereka mau bikin rusuh deh!
Aku berhasil menangkap mata Tian yang penuh kekaguman menatap mataku. Hihihi. Bukannya ge-er, tapi Aku bisa tau dari cara dia senyum. Dia memberikan Aku senyuman termanisnya. Penuh arti. Semakin semangat lah Aku menari saat itu.
Lagu-lagu pun berganti. Dari In Your Mind-nya Anggun, Touch-nya Amerie, Button-nya Pussycat Dolls, sampe lagu terakhir, Get Up-nya Ciara. Lagu ini penuh arti banget. Aku percaya Tian pasti tau kalau lagu ini menyuarakan hatiku banget. Gimana gak, selama lagu ini diputer, mataku dan mata Tian terus bertemu. Kami saling menatap, saling melempar senyum penuh arti.
“The way you look at me, I’m feeling you. I just can’t help it tryin’ to keep it cool. I can feel it in the beat, when you do those things to me. Don’t let nothing stop you move. Ring the alarm. The club is jumping now so get up!”
BOOM!!
Thanx to Mas Tyo dan Joe yang udah nge-remix lagu-lagu ini sehingga CD dance kami jadi super oke. Apalagi di bagian akhir diberikan efek suara bom yang berarti berakhirnya tarian kami.
Para mahasiswa baru itu gak henti-hentinya bertepuk tangan. Ada beberapa panitia Ospek yang wolf whistling, termasuk Mas Tyo dan temen-temennya. Tian tersenyum dan tepuk tangan. Sesekali tertawa melihat tingkah laku temen-temen se-band-nya yang sumpah moron abis saat itu. Hihihi.
“Wuih, keren abis!!” Mas Tyo disusul temen-temen se-band-nya menyalami Aku dan temen-temenku.
“Sha, tadi lo keren abis deh.” Mas Tyo memuji Tasha.
“Aww, to twiiiitt …” Tasha menanggapinya dengan sinis.
“Iya, tambah keren lagi klo tadi lo pake topeng Reog Ponorogo!! Huahahahaha!!” Mas Tyo kembali meledek Tasha. Kita semua pun tertawa.
“Rese lo!!” Tasha melemparkan handuknya ke arah Mas Tyo. Mas Tyo berhasil menghindar.
“Eh, kenalin gitaris band kita yang baru nih …” Joe menarik tangan Tian yang daritadi hanya senyum-senyum ngeliat kita.
“Tian …” Tian menyalami temen-temenku satu persatu. Mulai dari Tasha, Ochie, Sarah, dan Regina. Senyum manisnya tetap tersungging di wajah tampannya.
“Woy udah woy!! Mau salaman berapa lama?!” ledek Ivan sambil manarik tangan Tian yang digenggam Regina.
“Nyangkut … Hehehehe …” Regina pun tersenyum sambil melepaskan tangan Tian, begitu juga Tian. Tetap tersenyum seperti biasa. Namun air mukanya berubah, jadi canggung.
“Dasar nenek lampir ganjen lo!! Hahahaha!!” Joe mengacak-acak rambut Regina.
“Iiiihhhh … Dasar playboy butut!!” Regina segera mencubit lengan Joe. Hihihi.
Harus Aku akui, kalau temen-temen Aku sama temen-temennya Mas Tyo udah ngumpul, orang-orang bisa ngira ada pertandingan Persija vs Persib, abis ramenya rame banget, kayak penonton di stadion. Hahahaha.
“Eh, gue abis ini mau main futsal dulu sama anak-anak, lo mau pulang duluan apa nunggu gue main futsal?” tanya Mas Tyo sambil mendekat ke arahku.
“Gimana sih, Mas? Aku kan gak bawa mobil. Lama gak mainnya? Pasti pake acara mehek-mehek segala macem deh!” ujarku sebal sambil berjalan ke arah tempat Aku menaruh tasku, Mas Tyo mengikutiku dari belakang.
“Ya elah, bawel banget nih bocah. Nebeng sama Regina aja ya? Bawa mobil kan tuh anak?” Mas Tyo mencari sosok Regina. “Gina, lo bawa mobil kagak?”
“Bawa, tapi gue mau jemput Bokap di bandara. Kenapa?” Regina teriak dari kejauhan karena lagi asyik ngobrol sama Tian. Aku iri. Hihihi. Becanda. Tian hanya terbengong melihat Aku dan Mas Tyo.
“Gue aja yang nganterin Tiana pulang. Gue kan gak main futsal.” Tiba-tiba aja Tian berjalan menuju ke tempat Aku dan Mas Tyo berdiri.
“Aduh, gak usah. Ngerepotin …” Aku berusaha menolak tawarannya. Karena salah tingkah, Aku jadi merapi-rapikan poni. Kebiasaan yang aneh. Hihihi.
“Gak apa-apa niy, man?” Mas Tyo melihat ke arah Tian yang 5cm lebih tinggi daripada dirinya.
“Gak apa-apa. Gue abis ini langsung balik kok.” Tian tersenyum.
“Gak malem mingguan? Hehehe.” tiba-tiba Tasha yang sudah ada di sebelahku meledek Tian.
“Hahaha. Malem mingguan sama siapa?” Tian tertawa. Canggung. Jadi makin imut. Sumpah!
“Kali aja …” Tasha memeletkan lidahnya, tangannya tetap merapikan barang-barang bawaannya ke dalam tas.
“Lo kali yang malem mingguan sama Pak Surya. Dia masih single lho!! Hahahaha.” Mas Tyo paling gak tahan ngeliat Tasha ‘nganggur’ bawaannya pengen diledekin terus. Tapi gak tau kenapa Pak Surya, dosen killer kita yang dipilih sebagai bahan ledekan kali ini. Karena minggu depan Mas Tyo mau kuis kali. Hihihi.
“Lo aja sama keluarga lo yang metal-metal!” Tasha melemparkan tatapan sinis ke arah Mas Tyo.
“Enak aja lo! Ogah banget gue malem mingguan sama Pak Surya!” Aku protes.
“Hahahaha. Gue lupa klo lo adenya si jelek ini, Say.” Tasha memeluk diriku yang berdiri di sebelahnya.
“Cuy, udah jam segini nih. Yuk buruan!!” Joe berteriak. Sementara Ivan sama Ray udah berjalan menjauhi kami.
“Iye iye …” Mas Tyo ikut-ikutan teriak. “Ya udah, gue main futsal dulu ya. Jaga ade gue baik-baik ya, Bro!” Mas Tyo menepuk lengan Tian.
“Siap, Bos!” Tian tertawa kecil.
“Sha …” Mas Tyo menoleh ke arah Tasha yang lagi ngerumpi sama Ochie, Sarah, dan Regina.
“Gak ada kiss for luck buat Ayank Tyo nih?” Mas Tyo menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya.
“Najiiiiiissssss!!!! Pergi sana!! Shoo shoo!!” Tasha teriak histeris. Mas Tyo pun tertawa sambil berjalan menyusul Joe, Ray, dan Ivan.
“Mau balik sekarang?” Tian bertanya lembut kepadaku.
“Yuk.” Aku membalasnya dengan senyum.
Aku dan Tian pun pamit pulang. Ochie, Tasha, Sarah, dan Regina mau nunggu capek mereka ilang dulu baru pulang, soalnya mereka nyetir sendiri, gak kayak Aku yang disetirin. Hohoho.
Ini pertama kalinya Aku berduaan aja sama Tian. Ini pertama kalinya juga Aku canggung. Aku speechless, Aku bingung, Aku gak tau mau ngomong apa.
Every Hot Girl is A Rock Star-nya Paul Gilbert mengalun dari CD player-nya Tian.
“I’m hot, I’m a Rock Star then. Hihihi.” Entah kesambit apa, tiba-tiba Aku punya keberanian buat ngomong kayak gitu. Stoopid me!!
“Yes, you are.” Tian tersenyum melihatku, Aku pun jadi salah tingkah.
“Eh, mau ke Cheese Cake Factory dulu gak? Lagi pengen minum Hot Chocolate nih” Tian bertanya, melihat ke arahku, tetap tersenyum.
“Mau banget!!” tiba-tiba Aku seperti melompat kegirangan, wajahku pasti terlihat excited sekali saat itu. Bodo amat deh, yang penting Aku mau makan Blueberry cake. Hmm … Yummy!!
Sepanjang perjalanan menuju Cheese Cake Factory yang berada di Tebet, Aku dan Tian ngomongin segala macem. Mulai dari musik, film, gosip artis, gosip kampus, makanan, sampe hal-hal gak penting lainnya.
Aku ngerasa nyambung banget ngomong sama Tian. Anaknya juga lucu. Aku gak percaya dia bisa nge-jayus lho. Tapi jayus-annya itu sukses banget ngebuat Aku tertawa terbahak-bahak, sesekali Aku memukul pelan lengannya. Lucu banget ngeliat dia menahan sakit sambil tetap berusaha tertawa.
Tau hal yang paling Tian suka kalau Aku ketawa? Muka Aku. Tian bilang muka Aku jadi merah padam, kayak kepiting direbus. Huh!! Enak aja muka Aku disamain kayak kepiting. Gak sekalian disamain sama sotong sekalian biar lebih seru?!
Tian memarkiran mobil Civic-nya di parkiran Cheese Cake Factory yang untungnya masih tersisa satu itu. Setelah nungguin Aku nyisir rambut, Tian keluar dari pintunya. Ketika Aku mau buka pintu, Tian segera membukakan pintunya untukku.
“He’s such an angel from heaven!” bisikku dalam hati.
Tian tersenyum manis. Aku berjalan beberapa langkah, menunggu Tian yang lagi menutup pintu, dan kemudian mengunci mobilnya dengan remote yang terpasang bersebelahan dengan kunci mobilnya. Kami pun sama-sama memasuki Cheese Cake Factory. Untung masih ada meja untuk dua orang di balkon.
Gak lama kemudian, pelayan datang menghampiri kami, memberikan kami buku menu. Karena Aku udah sering ke sini, makanya Aku gak perlu lagi buku menu untuk tahu mau pesan apa, karena Aku udah tahu Aku mau pesan apa. Hehehe.
“Saya Iced Chocolate sama Blueberry Cake-nya yang kecil ya, Mas.” Aku menunggu sang pelayan menyatat pesananku.
“Saya pesan Hot Chocolate aja deh.” Tian melihat ke arah sang pelayan, tangannya tetap memegang buku menu.
“Kuenya, Mas?” tanya sang pelayan ramah.
“Gak deh, Mas. Itu aja.” Tian tersenyum, memberikan buku menu kepada sang pelayan, Aku pun ikut memberikan buku menu tersebut.
“Saya ulang ya pesanannya. Satu Iced Chocolate, satu Blueberry Cake ukuran kecil, sama satu hot chocolate.”
“Yup!” Aku mengangguk.
“Makasih ya, Mas.” Aku dan Tian berbarengan mengucapkan terima kasih kepada sang pelayan. Sang pelayan pun berlalu sambil tersenyum.
Malem itu romantis banget. Udaranya segar, langit tampak cerah sehingga bintang-bintang terlihat jelas, belum lagi lagu-lagu yang diputar, romantis-romantis semua. Jadi kebawa suasana nih. Hihihi.
“Tarian lo bagus, udah berapa lama nge-dance?” Tian memajukan kursinya agar lebih dekat dengan meja kami.
“Wah, gue mah nge-dance dari masih SD. Well, awalnya sih tarian tradisional, tapi pas SMP, gue berubah haluan jadi tari modern. Tapi gue tetep bisa tari tradisional kok.” Wajahku menunjukkan keseriusan. Tian tertawa kecil.
“Lho? Kok ketawa?” Aku bingung.
“Muka lo lucu klo lagi serius gitu. Hahaha.” Kali ini volume tawanya lebih besar.
“Rese!” tanpa sadar, Aku pun memonyongkan mulutku.
“Sekarang malah kayak Donald Duck!” tawa Tian semakin keras. Tanpa sadar Aku menutup mulutku dengan tangan kananku. Kami berdua pun sama-sama tertawa.
Gak berapa lama setelah percakapan gak penting kita itu, sang pelayan membawakan pesanan kami. Hm … As I imagined, it’s yummy!!
Aku kalau udah ketemu Iced Chocolate dan Blueberry Cake bisa dipastikan bakalan anteng banget. Mau Barrack Obama lewat kek, mau Syaiful Jamil jadi presiden kek, mau Avenged Sevenfold konser kek ---wait, kalau Avenged Sevenfold konser, Aku mah dengan ikhlas meninggalkan Iced Chocolate dan Blueberry Cake-ku dan menonton konser mereka— Aku bisa dipastikan tidak bergeming.
Melihat Aku sibuk dengan duniaku sendiri, Tian tersenyum. Sesekali dia menyeruput Hot Chocolate-nya.
“Alhamdulillah … Kenyaaannnggg …” Aku pun membersihkan bibirku dengan tissue yang tersedia. Tiba-tiba Tian juga membantu Aku menyeka bibirku dengan tissue yang daritadi memang dipegangnya. Tanpa sadar, Aku meletakkan kedua tanganku di atas meja, di samping piring Blueberry Cake-ku. “What’s on earth makes him doing it to me? Brain freeze, can’t think!” Aku deg-degan setengah mati.Tian tersenyum.
“Udah …” dia menaruh tissue tersebut di dekat cangkirnya.
“Thank you.” Aku tersenyum malu-malu.
“Udah yuk, udah malem. Gue gak enak sama Tyo, nanti dikira gue bawa lo kabur lagi. Hahahaha.” Tian memundurkan bangkunya menjauh dari meja.
“Yuk!” Aku pun melakukan hal yang sama, kemudian berdiri.
Tian mentraktir Aku malam itu. Dia bilang sih sebagai hadiah karena tarian Aku keren banget hari ini. Dasar cowok, bisa aja, bilang aja gengsi dibayarin cewek. Hihihi.
“Makasih ya, Tian udah nganterin gue dan traktir gue Cheese Cake malem ini.” Aku berdiri di depan pintu masuk rumahku, menghadap ke Tian yang berdiri berhadapan denganku.
“Mau mampir dulu gak?” tanyaku ramah. Secara ya masih jam 8 juga. Malam minggu itu malamnya anak muda, Bung. Hahahaha.
“Makasih deh, lain kali aja.” Tian tersenyum lagi padaku. “Kapan-kapan mau kan makan di Cheese Cake Factory lagi?” tanya Tian sambil memainkan kunci mobilnya. Grogi kah dia? Who knows? :p
“Traktir ya?” Aku memeletkan lidahku.
“Beres!” Tian tertawa kecil. “Ya udah deh, gue pulang dulu ya. Salam buat Tyo. Bye.” Tian pun pamit.
“Bye.” Aku melambai kecil ke arahnya.
Setelah mobil Tian keluar dari halaman rumahku, Aku langsung masuk ke rumah dan pergi ke kamarku. Di balik pintu kamar Aku tak tahan untuk menutup wajahku dengan kedua tanganku.
“Ya Allah, thank you for today. I really had a blast!!” Aku senyum-senyum sendiri dan beranjak ke meja rias untuk membersihkan wajahku sebelum Aku mandi.
Kok tumben-tumbenan Aku deg-degan kayak gini ya? Padahal biasanya Aku gak pernah demam panggung. Masalah koreografi? Gak mungkin. Tarian ini pernah Aku dan temen-temen Aku bawain sebelum libur semester kemarin pas ada acara di Universitas Paramadina. Jadi kita udah afal mati deh sama setiap gerakannya. Tapi bukan berarti kita gak latihan lagi buat demo kali ini. Aku sama temen-temen tetep latihan kok seharian kemarin dan hasilnya memuaskan.
Kostum? Oke. CD? Oke. CD player? Oke. Apa ya yang kurang? Huh! Bismillah aja deh. Gak berapa lama kemudian MC memanggil ekskul kami, “Inilah demo dari Seni Gerak dan Budaya Tari FEUI …” MaBa alias Mahasiswa Baru pun menyambut kami semua dengan tepuk tangan yang meriah.
Regina, Aku, Ochie, Tasha, dan Sarah membentuk formasi awal. Penonton pun terdiam, menyimak kami dengan seksama.
“It’s all in your mind, in your mind …” CD player memainkan In Your Mind-nya Anggun. Kami pun memulai koreografi kami. Penonton kembali bertepuk tangan, beberapa mata terlihat sangat mengagumi gerakan kami. Kami tersenyum semanis mungkin. Ini lah saat-saat yang paling Aku suka ketika Aku menari. Aku bisa mengekspresikan perasaanku, Aku juga merasa menjadi pusat perhatian semua orang di mana all eyes on me. It’s such a great feeling, I’m telling you.
Mata Aku terus mencari sosok Tian. Di mana sih anak itu? Katanya mau dateng. Oops, ternyata dia gak bohong! Dia dateng! Ihiy! Tapi kok? Lho? Lho? Kenapa ada Mas Tyo juga? Ada Joe, ada Ivan, dan ada Ray juga. Ugh! Pasti mereka mau bikin rusuh deh!
Aku berhasil menangkap mata Tian yang penuh kekaguman menatap mataku. Hihihi. Bukannya ge-er, tapi Aku bisa tau dari cara dia senyum. Dia memberikan Aku senyuman termanisnya. Penuh arti. Semakin semangat lah Aku menari saat itu.
Lagu-lagu pun berganti. Dari In Your Mind-nya Anggun, Touch-nya Amerie, Button-nya Pussycat Dolls, sampe lagu terakhir, Get Up-nya Ciara. Lagu ini penuh arti banget. Aku percaya Tian pasti tau kalau lagu ini menyuarakan hatiku banget. Gimana gak, selama lagu ini diputer, mataku dan mata Tian terus bertemu. Kami saling menatap, saling melempar senyum penuh arti.
“The way you look at me, I’m feeling you. I just can’t help it tryin’ to keep it cool. I can feel it in the beat, when you do those things to me. Don’t let nothing stop you move. Ring the alarm. The club is jumping now so get up!”
BOOM!!
Thanx to Mas Tyo dan Joe yang udah nge-remix lagu-lagu ini sehingga CD dance kami jadi super oke. Apalagi di bagian akhir diberikan efek suara bom yang berarti berakhirnya tarian kami.
Para mahasiswa baru itu gak henti-hentinya bertepuk tangan. Ada beberapa panitia Ospek yang wolf whistling, termasuk Mas Tyo dan temen-temennya. Tian tersenyum dan tepuk tangan. Sesekali tertawa melihat tingkah laku temen-temen se-band-nya yang sumpah moron abis saat itu. Hihihi.
“Wuih, keren abis!!” Mas Tyo disusul temen-temen se-band-nya menyalami Aku dan temen-temenku.
“Sha, tadi lo keren abis deh.” Mas Tyo memuji Tasha.
“Aww, to twiiiitt …” Tasha menanggapinya dengan sinis.
“Iya, tambah keren lagi klo tadi lo pake topeng Reog Ponorogo!! Huahahahaha!!” Mas Tyo kembali meledek Tasha. Kita semua pun tertawa.
“Rese lo!!” Tasha melemparkan handuknya ke arah Mas Tyo. Mas Tyo berhasil menghindar.
“Eh, kenalin gitaris band kita yang baru nih …” Joe menarik tangan Tian yang daritadi hanya senyum-senyum ngeliat kita.
“Tian …” Tian menyalami temen-temenku satu persatu. Mulai dari Tasha, Ochie, Sarah, dan Regina. Senyum manisnya tetap tersungging di wajah tampannya.
“Woy udah woy!! Mau salaman berapa lama?!” ledek Ivan sambil manarik tangan Tian yang digenggam Regina.
“Nyangkut … Hehehehe …” Regina pun tersenyum sambil melepaskan tangan Tian, begitu juga Tian. Tetap tersenyum seperti biasa. Namun air mukanya berubah, jadi canggung.
“Dasar nenek lampir ganjen lo!! Hahahaha!!” Joe mengacak-acak rambut Regina.
“Iiiihhhh … Dasar playboy butut!!” Regina segera mencubit lengan Joe. Hihihi.
Harus Aku akui, kalau temen-temen Aku sama temen-temennya Mas Tyo udah ngumpul, orang-orang bisa ngira ada pertandingan Persija vs Persib, abis ramenya rame banget, kayak penonton di stadion. Hahahaha.
“Eh, gue abis ini mau main futsal dulu sama anak-anak, lo mau pulang duluan apa nunggu gue main futsal?” tanya Mas Tyo sambil mendekat ke arahku.
“Gimana sih, Mas? Aku kan gak bawa mobil. Lama gak mainnya? Pasti pake acara mehek-mehek segala macem deh!” ujarku sebal sambil berjalan ke arah tempat Aku menaruh tasku, Mas Tyo mengikutiku dari belakang.
“Ya elah, bawel banget nih bocah. Nebeng sama Regina aja ya? Bawa mobil kan tuh anak?” Mas Tyo mencari sosok Regina. “Gina, lo bawa mobil kagak?”
“Bawa, tapi gue mau jemput Bokap di bandara. Kenapa?” Regina teriak dari kejauhan karena lagi asyik ngobrol sama Tian. Aku iri. Hihihi. Becanda. Tian hanya terbengong melihat Aku dan Mas Tyo.
“Gue aja yang nganterin Tiana pulang. Gue kan gak main futsal.” Tiba-tiba aja Tian berjalan menuju ke tempat Aku dan Mas Tyo berdiri.
“Aduh, gak usah. Ngerepotin …” Aku berusaha menolak tawarannya. Karena salah tingkah, Aku jadi merapi-rapikan poni. Kebiasaan yang aneh. Hihihi.
“Gak apa-apa niy, man?” Mas Tyo melihat ke arah Tian yang 5cm lebih tinggi daripada dirinya.
“Gak apa-apa. Gue abis ini langsung balik kok.” Tian tersenyum.
“Gak malem mingguan? Hehehe.” tiba-tiba Tasha yang sudah ada di sebelahku meledek Tian.
“Hahaha. Malem mingguan sama siapa?” Tian tertawa. Canggung. Jadi makin imut. Sumpah!
“Kali aja …” Tasha memeletkan lidahnya, tangannya tetap merapikan barang-barang bawaannya ke dalam tas.
“Lo kali yang malem mingguan sama Pak Surya. Dia masih single lho!! Hahahaha.” Mas Tyo paling gak tahan ngeliat Tasha ‘nganggur’ bawaannya pengen diledekin terus. Tapi gak tau kenapa Pak Surya, dosen killer kita yang dipilih sebagai bahan ledekan kali ini. Karena minggu depan Mas Tyo mau kuis kali. Hihihi.
“Lo aja sama keluarga lo yang metal-metal!” Tasha melemparkan tatapan sinis ke arah Mas Tyo.
“Enak aja lo! Ogah banget gue malem mingguan sama Pak Surya!” Aku protes.
“Hahahaha. Gue lupa klo lo adenya si jelek ini, Say.” Tasha memeluk diriku yang berdiri di sebelahnya.
“Cuy, udah jam segini nih. Yuk buruan!!” Joe berteriak. Sementara Ivan sama Ray udah berjalan menjauhi kami.
“Iye iye …” Mas Tyo ikut-ikutan teriak. “Ya udah, gue main futsal dulu ya. Jaga ade gue baik-baik ya, Bro!” Mas Tyo menepuk lengan Tian.
“Siap, Bos!” Tian tertawa kecil.
“Sha …” Mas Tyo menoleh ke arah Tasha yang lagi ngerumpi sama Ochie, Sarah, dan Regina.
“Gak ada kiss for luck buat Ayank Tyo nih?” Mas Tyo menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya.
“Najiiiiiissssss!!!! Pergi sana!! Shoo shoo!!” Tasha teriak histeris. Mas Tyo pun tertawa sambil berjalan menyusul Joe, Ray, dan Ivan.
“Mau balik sekarang?” Tian bertanya lembut kepadaku.
“Yuk.” Aku membalasnya dengan senyum.
Aku dan Tian pun pamit pulang. Ochie, Tasha, Sarah, dan Regina mau nunggu capek mereka ilang dulu baru pulang, soalnya mereka nyetir sendiri, gak kayak Aku yang disetirin. Hohoho.
+ + + + + +
Ini pertama kalinya Aku berduaan aja sama Tian. Ini pertama kalinya juga Aku canggung. Aku speechless, Aku bingung, Aku gak tau mau ngomong apa.
Every Hot Girl is A Rock Star-nya Paul Gilbert mengalun dari CD player-nya Tian.
“I’m hot, I’m a Rock Star then. Hihihi.” Entah kesambit apa, tiba-tiba Aku punya keberanian buat ngomong kayak gitu. Stoopid me!!
“Yes, you are.” Tian tersenyum melihatku, Aku pun jadi salah tingkah.
“Eh, mau ke Cheese Cake Factory dulu gak? Lagi pengen minum Hot Chocolate nih” Tian bertanya, melihat ke arahku, tetap tersenyum.
“Mau banget!!” tiba-tiba Aku seperti melompat kegirangan, wajahku pasti terlihat excited sekali saat itu. Bodo amat deh, yang penting Aku mau makan Blueberry cake. Hmm … Yummy!!
Sepanjang perjalanan menuju Cheese Cake Factory yang berada di Tebet, Aku dan Tian ngomongin segala macem. Mulai dari musik, film, gosip artis, gosip kampus, makanan, sampe hal-hal gak penting lainnya.
Aku ngerasa nyambung banget ngomong sama Tian. Anaknya juga lucu. Aku gak percaya dia bisa nge-jayus lho. Tapi jayus-annya itu sukses banget ngebuat Aku tertawa terbahak-bahak, sesekali Aku memukul pelan lengannya. Lucu banget ngeliat dia menahan sakit sambil tetap berusaha tertawa.
Tau hal yang paling Tian suka kalau Aku ketawa? Muka Aku. Tian bilang muka Aku jadi merah padam, kayak kepiting direbus. Huh!! Enak aja muka Aku disamain kayak kepiting. Gak sekalian disamain sama sotong sekalian biar lebih seru?!
Tian memarkiran mobil Civic-nya di parkiran Cheese Cake Factory yang untungnya masih tersisa satu itu. Setelah nungguin Aku nyisir rambut, Tian keluar dari pintunya. Ketika Aku mau buka pintu, Tian segera membukakan pintunya untukku.
“He’s such an angel from heaven!” bisikku dalam hati.
Tian tersenyum manis. Aku berjalan beberapa langkah, menunggu Tian yang lagi menutup pintu, dan kemudian mengunci mobilnya dengan remote yang terpasang bersebelahan dengan kunci mobilnya. Kami pun sama-sama memasuki Cheese Cake Factory. Untung masih ada meja untuk dua orang di balkon.
Gak lama kemudian, pelayan datang menghampiri kami, memberikan kami buku menu. Karena Aku udah sering ke sini, makanya Aku gak perlu lagi buku menu untuk tahu mau pesan apa, karena Aku udah tahu Aku mau pesan apa. Hehehe.
“Saya Iced Chocolate sama Blueberry Cake-nya yang kecil ya, Mas.” Aku menunggu sang pelayan menyatat pesananku.
“Saya pesan Hot Chocolate aja deh.” Tian melihat ke arah sang pelayan, tangannya tetap memegang buku menu.
“Kuenya, Mas?” tanya sang pelayan ramah.
“Gak deh, Mas. Itu aja.” Tian tersenyum, memberikan buku menu kepada sang pelayan, Aku pun ikut memberikan buku menu tersebut.
“Saya ulang ya pesanannya. Satu Iced Chocolate, satu Blueberry Cake ukuran kecil, sama satu hot chocolate.”
“Yup!” Aku mengangguk.
“Makasih ya, Mas.” Aku dan Tian berbarengan mengucapkan terima kasih kepada sang pelayan. Sang pelayan pun berlalu sambil tersenyum.
Malem itu romantis banget. Udaranya segar, langit tampak cerah sehingga bintang-bintang terlihat jelas, belum lagi lagu-lagu yang diputar, romantis-romantis semua. Jadi kebawa suasana nih. Hihihi.
“Tarian lo bagus, udah berapa lama nge-dance?” Tian memajukan kursinya agar lebih dekat dengan meja kami.
“Wah, gue mah nge-dance dari masih SD. Well, awalnya sih tarian tradisional, tapi pas SMP, gue berubah haluan jadi tari modern. Tapi gue tetep bisa tari tradisional kok.” Wajahku menunjukkan keseriusan. Tian tertawa kecil.
“Lho? Kok ketawa?” Aku bingung.
“Muka lo lucu klo lagi serius gitu. Hahaha.” Kali ini volume tawanya lebih besar.
“Rese!” tanpa sadar, Aku pun memonyongkan mulutku.
“Sekarang malah kayak Donald Duck!” tawa Tian semakin keras. Tanpa sadar Aku menutup mulutku dengan tangan kananku. Kami berdua pun sama-sama tertawa.
Gak berapa lama setelah percakapan gak penting kita itu, sang pelayan membawakan pesanan kami. Hm … As I imagined, it’s yummy!!
Aku kalau udah ketemu Iced Chocolate dan Blueberry Cake bisa dipastikan bakalan anteng banget. Mau Barrack Obama lewat kek, mau Syaiful Jamil jadi presiden kek, mau Avenged Sevenfold konser kek ---wait, kalau Avenged Sevenfold konser, Aku mah dengan ikhlas meninggalkan Iced Chocolate dan Blueberry Cake-ku dan menonton konser mereka— Aku bisa dipastikan tidak bergeming.
Melihat Aku sibuk dengan duniaku sendiri, Tian tersenyum. Sesekali dia menyeruput Hot Chocolate-nya.
“Alhamdulillah … Kenyaaannnggg …” Aku pun membersihkan bibirku dengan tissue yang tersedia. Tiba-tiba Tian juga membantu Aku menyeka bibirku dengan tissue yang daritadi memang dipegangnya. Tanpa sadar, Aku meletakkan kedua tanganku di atas meja, di samping piring Blueberry Cake-ku. “What’s on earth makes him doing it to me? Brain freeze, can’t think!” Aku deg-degan setengah mati.Tian tersenyum.
“Udah …” dia menaruh tissue tersebut di dekat cangkirnya.
“Thank you.” Aku tersenyum malu-malu.
“Udah yuk, udah malem. Gue gak enak sama Tyo, nanti dikira gue bawa lo kabur lagi. Hahahaha.” Tian memundurkan bangkunya menjauh dari meja.
“Yuk!” Aku pun melakukan hal yang sama, kemudian berdiri.
Tian mentraktir Aku malam itu. Dia bilang sih sebagai hadiah karena tarian Aku keren banget hari ini. Dasar cowok, bisa aja, bilang aja gengsi dibayarin cewek. Hihihi.
“Makasih ya, Tian udah nganterin gue dan traktir gue Cheese Cake malem ini.” Aku berdiri di depan pintu masuk rumahku, menghadap ke Tian yang berdiri berhadapan denganku.
“Mau mampir dulu gak?” tanyaku ramah. Secara ya masih jam 8 juga. Malam minggu itu malamnya anak muda, Bung. Hahahaha.
“Makasih deh, lain kali aja.” Tian tersenyum lagi padaku. “Kapan-kapan mau kan makan di Cheese Cake Factory lagi?” tanya Tian sambil memainkan kunci mobilnya. Grogi kah dia? Who knows? :p
“Traktir ya?” Aku memeletkan lidahku.
“Beres!” Tian tertawa kecil. “Ya udah deh, gue pulang dulu ya. Salam buat Tyo. Bye.” Tian pun pamit.
“Bye.” Aku melambai kecil ke arahnya.
Setelah mobil Tian keluar dari halaman rumahku, Aku langsung masuk ke rumah dan pergi ke kamarku. Di balik pintu kamar Aku tak tahan untuk menutup wajahku dengan kedua tanganku.
“Ya Allah, thank you for today. I really had a blast!!” Aku senyum-senyum sendiri dan beranjak ke meja rias untuk membersihkan wajahku sebelum Aku mandi.

Kapan konflik-nyaaaaaaaaaa???
ReplyDeleteOMG..kalo cerita you love me and me love you too aja...Bikin mupeng doang!!! >:)
Hakzhakzhakz.
ReplyDeleteNamanya juga baru kenal, masa udah ada konflik aja?!
Sabar, Say ada tanggal mainnya :D
Lah, Situ kira, Sini yang nulis gak mupeng? T.T